Yang Terjadi pada Tubuh saat Pesawat Jatuh

Oleh: Nindias Nur Khalika - 31 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Gaya gravitasi saat pesawat menukik ke atas atau bawah bisa memberikan efek pada tubuh. Ia dapat berakibat fatal saat kecelakaan.
tirto.id - Pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT610 dipastikan jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018). Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng pukul 6.20 WIB dan diperkirakan mendarat di Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang satu jam kemudian. Namun, pesawat meminta return to base saat terbang dan akhirnya hilang kontak pada pukul 06.33 WIB.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan pesawat Lion Air JT610 berada di ketinggian 2,5 ribu hingga 3,5 ribu kaki saat hilang kontak. Menurut rekaman data FlightAware, pesawat terbang setinggi 2.800 kaki pada pukul 06.31 WIB atau dua menit sebelum lenyap dari radar. Perangkat lunak sekaligus layanan data penerbangan global asal Houston, Texas tersebut juga mencatat perubahan mencolok ketinggian terbang pesawat sebelum hilang kontak.

Sejak lepas landas pada pukul 6.20 WIB hingga delapan menit setelahnya, pesawat terbang dengan ketinggian yang perlahan bertambah dari waktu ke waktu. Pada pukul 6.28 WIB, pesawat Lion Air JT610 sempat berada di ketinggian 5.350 kaki.


Perubahan ketinggian terbang terjadi di menit 9 usai pesawat berangkat. Pesawat Lion Air JT610 terbang dengan ketinggian 4.975 kaki, lalu turun ke 4.525 kaki hanya dalam satu menit pada pukul 6.29 WIB. Pada pukul 6.30 WIB, pesawat berada di ketinggian 5.050 kaki dan selang 16 detik kemudian terbang naik ke ketinggian 5.175 kaki.

Dari 5.175 kaki, pesawat Lion Air JT610 terbang di ketinggian 4.975 kaki lalu berubah menjadi 5.500 kaki. Ketika pukul 6.31 WIB, ketinggian pesawat 5.050 kaki di atas permukaan tanah lantas berganti 4.850 kaki dan mencapai angka terakhir ketinggian 2.800 kaki dalam satu menit.

Pesawat Lion Air JT610 membawa 8 kru pesawat serta 181 penumpang yang terdiri dari 179 dewasa, 1 anak-anak, dan 2 bayi. Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Brigadir Jenderal Bambang Suryo memprediksi tak ada korban yang selamat.

“Kemungkinan 189 [orang di pesawat] itu sudah dalam keadaan meninggal dunia semua. Karena korban saja beberapa potongan tubuhnya sudah tidak utuh,” katanya.

Gaya Gravitasi, Pesawat, dan Tubuh Manusia

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menduga pesawat jatuh ke laut dengan kecepatan tinggi. Asumsi ini memperkuat prediksi bahwa tidak ada penumpang yang selamat. Namun, perubahan ketinggian sebelum kehilangan kontak juga bisa berakibat fatal. Sebab, gaya gravitasi mempengaruhi tubuh manusia.

Dilansir dari Live Science, gaya gravitasi atau G-force merupakan istilah yang dipakai untuk mendeskripsikan percepatan atau akselerasi sebuah objek terkait gravitasi bumi. Lebih lanjut, G-force adalah gaya gravitasi yang mengenai benda atau orang sebagai efek dari percepatan atau akselerasi.

Ketika seseorang berdiri atau duduk di atas kursi maka gaya gravitasi yang bekerja adalah 1G. Angka ini merupakan jumlah standar yang bisa diadaptasi dengan normal oleh manusia menurut Live Science. Ketika besaran gaya gravitasi meningkat atau menurun dengan cepat maka tubuh juga akan terpengaruh.


Federal Aviation Administration lewat brosur (PDF) menjelaskan bahwa ada tiga tipe akselerasi yang terjadi saat pesawat sedang terbang, yakni linear, radial, dan angular. Percepatan linear menunjukkan perubahan kecepatan dalam garis lurus. Akselerasi ini terjadi ketika pesawat lepas landas, mendarat, atau ketika pengaturan throttle diubah ketika terbang. Sementara itu, percepatan radial muncul karena perubahan arah akibat aksi pilot yang membelok tajam dan menukik ke atas atau bawah. Akselerasi angular, di sisi lain, terjadi akibat pergantian kecepatan dan arah saat pesawat berputar atau belok menanjak.

infografik gaya gravitasi


Kombinasi percepatan di atas, menurut Federal Aviation Administration, menghasilkan jenis gaya gravitasi Gx, Gy, dan Gz. Gx merupakan gaya yang terjadi pada dada hingga punggung saat lepas landas atau mendarat sedangkan Gy dirasakan pada bahu ketika pesawat melakukan putaran kemudi guling (aileron). Lebih lanjut, Gz memberikan efek pada bagian vertikal badan—pengaruh gaya gravitasi ini paling berbahaya bagi tubuh.

Menurut Aviationcv, efek gaya gravitasi yang terjadi bisa berupa tunnel vision, Gray Out, Black Out, dan G- Induced Loss of Consciousness (GLOC). Hal ini muncul saat terjadi gaya Gz positif di mana aliran darah meninggalkan otak dan justru menuju ke kaki ketika pesawat menukik ke atas.


Tunnel vision ditandai dengan hilangnya pandangan periferi seseorang, sehingga pemandangan di sisi kanan dan kiri mata kabur. Sementara itu, Gray Out dan Black Out adalah kondisi di mana penglihatan berubah menjadi abu-abu atau gelap sama sekali karena menurunnya aliran darah ke otak. Induced Loss of Consciousness (GLOC) adalah kehilangan kesadaran yang diakibatkan oleh kurangnya asupan aliran darah ke otak sehingga asupan oksigen menipis. Apabila gaya gravitasi terus terjadi saat seseorang mengalami GLOC, maka nyawa orang itu bisa tak tertolong.

Serupa dengan Gz positif, gaya gravitasi Gz negatif juga menimbulkan efek seperti Red Out dan pingsan. Sebab, G-force jenis ini memicu aliran darah dari kaki menuju ke otak. Menurut Encyclopædia Britannica, Red Out adalah keadaan di mana penglihatan berubah menjadi merah atau hilang sama sekali akibat pembengkakan pembuluh darah. Orang bisa kehilangan kesadaran sebab mengalami kebingungan mental akibat akselerasi kecepatan yang tinggi. Federasi Aviation Administration mengatakan bahwa gaya gravitasi Gz negatif biasa terjadi saat pesawat menukik ke bawah.

Berdasarkan studi yang dilakukan Profesor Aeronautika Massachusetts Institute of Technology John Hansman, penumpang atau kru yang duduk di bangku depan, tengah, dan belakang mengalami gaya gravitasi berbeda saat pesawat jatuh dan mengalami kecelakaan. Seperti yang dilaporkan oleh Channel 4, gaya gravitasi yang terjadi di bagian depan pesawat mencapai 12 G dan 8 G di bagian tengah. Sebaliknya, G-force pesawat bagian belakang lebih kecil daripada yang lain, yakni 6 G. Tapi, karena manusia hanya bisa beradaptasi dengan G-force sebesar 1 G maka gaya gravitasi yang terjadi lebih besar dari itu bisa memunculkan masalah-masalah fisiologis seperti di atas.

Baca juga artikel terkait LION AIR JATUH atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight