Waspadai Penyakit-Penyakit Akibat Banjir

Warga menggunakan perahu karet melintasi banjir yang melanda Kampung Bojong Asih, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (12/11/2018). Banjir hingga 1,5 meter tersebut disebabkan oleh luapan Sungai Citarum serta intensitas hujan yang tinggi beberapa hari terakhir di wilayah Kabupaten Bandung. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/pras.
Oleh: Aditya Widya Putri - 14 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Air kotor menghantarkan penyakit seperti demam tifoid dan diare.
tirto.id - Musim penghujan tiba, daerah-daerah langganan banjir seperti Jakarta harus bersiap. Bahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menyampaikan sejumlah wilayah ibukota telah memasuki siaga IV banjir. Penanggulangan bencana termasuk proses evakuasi, hingga pelayanan kesehatan pasca-banjir harus mulai diprioritaskan.

Kali Ciliwung sempat meluap akibat dibukanya Bedungan Katulampa di Bogor. Air turun ke Jakarta dan tertahan di Pintu Air Manggarai. Jakarta Utara serta sejumlah wilayah di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan terdampak banjir karenanya. Penyakit pasca-banjir menjadi salah satu masalah yang harus mendapat prioritas penanganan bila tidak ingin berkembang menjadi epidemi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bencana banjir dapat meningkatkan transmisi penyakit menular. Penyebaran penyakit terbagi menjadi dua cara: lewat air dan ditularkan melalui vektor.

Penyakit-penyakit yang dibawa oleh air meliputi demam tifoid, kolera, leptospirosis, dan hepatitis A. Sementara beberapa penyakit seperti malaria, demam berdarah, demam kuning, dan demam west nile menyebar lewat vektor.

Kontak langsung pada air tercemar juga meningkatkan risiko infeksi penyakit seperti luka, dermatitis, konjungtivitis, infeksi telinga, hidung, dan tenggorokan. Namun, penyakit-penyakit tersebut tidak rawan epidemi.

Satu-satunya infeksi rawan epidemi yang ditularkan langsung lewat air adalah leptospirosis. Penyakit zoonosis ini ditularkan dari darah atau urine hewan terinfeksi, utamanya anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi atau babi.

“Penularan melalui kontak kulit dan selaput lendir dengan air, tanah basah, vegetasi atau lumpur terkontaminasi,” tulis WHO.


Wabah leptospirosis akibat banjir pernah terjadi di Brasil pada tahun 1983, 1988 dan 1996. Lalu di Nikaragua tahun 1995, wilayah Krasnodar Rusia tahun 1997, Santa Fe tahun 1998, Orissa India tahun 1999, dan Thailand tahun 2000. Sementara banjir, bisa menyebabkan peningkatan vektor penyakit seperti nyamuk, misalnya. Mereka biasa muncul dengan waktu jeda 6-8 minggu setelah banjir.

Epidemi malaria di tengah banjir pernah terjadi di wilayah Atlantik Kosta Rika pada tahun 1991, Republik Dominika pada tahun 2004, dan Peru Utara. Fenomena El Nino selain diduga sebagai faktor penyebab epidemi malaria, juga menjadi pemicu epidemi demam berdarah 10 tahun terakhir di seluruh benua Amerika.

Risiko wabah meningkat tajam saat banjir juga disebabkan perubahan perilaku manusia. Misalnya peningkatan paparan nyamuk ketika tidur di luar, jeda sementara saat aktivitas pengendalian penyakit, dan kepadatan penduduk. Perubahan habitat seperti longsor, penggundulan hutan, bendungan dan perubahan rute sungai pun turut andil menyumbang epidemi.

Sanitasi dan Air Bersih adalah Kunci

Bencana banjir selalu dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi. Namun risiko tersebut bisa diminimalisir, dan terhitung sangat rendah, kecuali terdapat kepadatan penduduk dan sanitasi buruk. John T. Watson, dkk (2007) dalam tulisan berjudul "Epidemics after Natural Disasters" menyebut banjir besar di Indonesia pada tahun 1992-1993 sebagai faktor signifikan penyebab diare.

Penyebabnya adalah bakteri Salmonella enterica serotip Paratyphi A. Watson menyebut, negara berkembang punya risiko lebih tinggi terserang diare pasca-bencana ketimbang negara-negara industri. Di Aceh, misalnya, penilaian 2 minggu pasca-tsunami Desember 2004 menyebut 85 persen dari penduduk yang selamat mengalami diare.

“Mereka minum dari sumur yang tidak terlindungi,” tulis laporan tersebut.


Masih menurut laporan WHO, di Sudan, dari 14 banjir nasional antara tahun 1970-1994, hanya banjir pada 1980 yang menyebabkan wabah diare karena dipengaruhi perpindahan penduduk. WHO menyebut kontaminasi fasilitas air minum sebagai faktor risiko utama wabah akibat banjir. Namun jikapun terjadi kontaminasi, risikonya bisa diminimalisir dengan menerapkan prioritas penyediaan air bersih.



WHO memberi beberapa panduan meminimalisir risiko penyakit menular dari banjir.

Pertama, untuk mengurangi faktor transmisi dari air, dibutuhkan klorinasi air sebagai desinfektan. Klorin terbukti efektif melawan hampir semua patogen yang menular melalui air, langkah ini termasuk memastikan penyediaan air minum aman.

Kedua, perlu adanya vaksinasi terhadap hepatitis A untuk kelompok berisiko tinggi, seperti orang yang terlibat dalam pengelolaan air minum dan limbah.


“Hepatitis A merupakan endemik di sebagian besar negara berkembang. Kelompok ini terdeteksi di Aceh setelah tsunami Desember 2004,” ungkap Watson dalam penelitiannya.

Penanganan ketiga dapat dilakukan pencegahan malaria, salah satunya dengan menyemprot ruangan untuk meminimalisir nyamuk. Cara ini juga akan meminimalisir jenis penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk.

Keempat, terapkan pendidikan kesehatan dengan memastikan makanan higienis dan disiapkan secara aman. Air harus direbus atau diklorin terlebih dulu, serta pastikan diagnosis dini malaria dalam 24 jam onset demam.

Baca juga artikel terkait BANJIR JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight