Wanita Hasidic Ingin Tampil Gaya Sekaligus Tetap Menutup Aurat

Oleh: Joan Aurelia - 15 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Seiring perkembangan zaman, kewajiban berbusana tertutup pun bisa dipadukan dengan gaya berpakaian yang apik.
tirto.id - Wanita harus menutup beberapa bagian tubuh yang berpotensi membuat pria tergoda. Kalimat itu dikatakan oleh Rabbi Simon Jacobson, saat sedang menjelaskan busana yang sepantasnya dikenakan oleh kaum Yahudi Ortodoks. Salah satunya penganut aliran Hasidic, sebuah aliran Judaisme ortodoks yang muncul pada tahun 1700 di Ukraina.

Para penganut Hasidic awal, mendedikasikan diri untuk menjalani hidup tanpa terpengaruh modernisasi yang terjadi di luar kelompok mereka. Hal tersebut diwujudkan dengan tidak memiliki atau mendengarkan radio, tidak menyaksikan televisi, dan menonton film di bioskop. Kaum Hasidic menganggap masyarakat Barat sebagai kaum sekuler.

Salah satu ciri khas penganut Hasidic adalah pakaian tertutup berwarna hitam. Wanita Hasidic dilarang menggunakan warna terang. Saat sudah berkeluarga, wanita Hasidic diwajibkan untuk menutupi rambut asli dengan menggunakan topi, syal, atau rambut palsu. Busana mereka dikenal dengan istilah tznius atau modest.

Ada Rabbi yang tak lelah untuk mengingatkan pengikutnya agar berpakaian sesuai aturan. Seorang Rabbi di London pernah mengirimkan surat edaran ke 5.000 rumah. Surat tersebut mengingatkan bahwa wanita harus mengenakan busana sepanjang 10 cm di bawah lutut. Ukuran tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan sikap pengguna saat berlari, duduk, dan naik tangga.


Atasan yang digunakan para wanita pun harus menyamarkan bentuk badan. “Busana tidak boleh memiliki desain yang tidak biasa dan mengundang perhatian. Selain hitam, warna lain yang boleh digunakan ialah warna netral,” demikian perkataan dalam surat yang dikutip The Independent.

Aturan-aturan berbusana yang tetap diataati oleh sejumlah anggota komunitas Hasidic berdampak pada larisnya usaha penjualan pakaian. New York Times menulis tentang peningkatan penjualan Junee, toko pakaian khusus wanita Yahudi di pemukiman Yahudi Ortodoks kota New York. Peningkatan itu disebabkan oleh munculnya varian baru dari busana dan aksesori yang menunjang elemen utama busana wanita Hasidic, seperti kerah buatan guna menutup bagian leher hingga pundak.

Ada pula toko lain yang menjual perlengkapan seperti pelindung sepatu hak agar tidak menimbulkan suara saat berjalan, juga hiasan rambut yang menyambung ke telepon selular. Produk itu berfungsi untuk menjaga agar rambut palsu tidak bergeser saat penggunanya harus mengangkat telepon.

Peningkatan keuntungan juga dialami oleh pengusaha rambut palsu. Wanita Yahudi Ortodoks bisa menghabiskan dana 1.500 dolar hingga 5 ribu dolar untuk satu buah wig. Jumlah tersebut masih ditambah dengan perawatan bulanan rambut palsu yang meliputi pencucian, penataan, dan pewarnaan.

Infografik Gaya wanita hasidi


Ann D. Braude, direktur program kajian perempuan dalam agama Harvard Divinity School berkata pada The New York Times bahwa produk-produk tersebut memungkinkan konsumen menjadi fashionable dengan tetap mengutamakan prinsip tznius.

Upaya untuk melakukan pembaruan pada tradisi gaya busana wanita Hasidic juga dilakukan oleh Chaya Chanin dan Simi Polonsky. Mereka adalah kakak beradik pendiri label busana The Frock. Mereka menghabiskan masa kecil dan remaja di Australia kemudian pindah ke Amerika Serikat.

The Daily Beast menulis ketika masih tinggal di Australia, Chaya dan Simi menganggap wanita yang tinggal di sekitar mereka berpenampilan menarik. Dari sana muncul keinginan untuk bisa mengeksplorasi gaya. Beranjak dewasa, kakak beradik ini memanfaatkan hari Sabat dengan membaca majalah mode. Mereka jatuh hati dengan busana yang ada di dalam majalah. Setelah tinggal di Amerika Serikat, mereka memulai bisnis label busana.

“Inti utama misi kami adalah agar wanita Yahudi Ortodoks bisa mendapat pujian atas penampilan yang menarik dan bisa dipotret sebagai tamu di acara Fashion Week. Dan saya ingin agar orang yang memuji mereka tidak menyangka bahwa busana yang dikenakan ialah busana modest,” kata Simi.

Awalnya ia mendesain tiga jenis busana berbentuk terusan. Mereka juga memberi ide baru untuk memadukan terusan dengan celana. Karya tersebut membuat Simi dan Chala diprotes oleh kawan-kawan sesama Yahudi Ortodoks. Tetapi lambat laun orang-orang yang pernah protes turut mengenakan busana The Frock.


Sekarang kaum Yahudi Ortodoks juga punya panutan dalam bergaya. Sosok yang jadi panutan itu diantaranya ialah Adi Heyman, blogger fesyen yang berasal dari kaum Yahudi Ortodoks. Adi mendirikan blog bernama Fabologie. Lewat blog itu ia memberikan referensi busana untuk menghadiri berbagai perayaan keagamaan seperti Hanukah. Busana yang jadi referensi adalah label fesyen premium seperti Chloe, Chanel, Fendi, dan Victoria Beckham.

Wanita Yahudi Ortodoks menyukai gaya busananya karena masih menganut prinsip tznius. New York Times menulis bahwa Adi tetap menutupi lengan, lutut, dan leher. Ia mengenakan wig blonde untuk menutupi rambutnya. Wanita ini juga sempat menjadi objek foto dari fotografer di ajang Fashion Week.

“Saat melindungi bagian-bagian yang superfisial, kita memperlihatkan hal yang lebih penting yakni kepribadian dan karakter,” kata Adi yang mengagumi label busana Celine, Marc Jacobs, dan The Row. Menurutnya, label busana tersebut mewakili kesan modest lewat desainnya yang tertutup.

Baca juga artikel terkait KOMUNITAS YAHUDI atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono