Menuju konten utama

Vinales, Sang Penantang Baru

Usai kepindahan Jorge Lorenzo ke Ducati, Yamaha merekrut talenta muda MotoGP dari Suzuki, Maverick Vinales. Apakah Vinales mampu menjuarai MotoGP 2017 atau malah menambah panjang rivalitas internal tim Yamaha?

Vinales, Sang Penantang Baru
Pembalap Moto GP, Maverick Vinales. FOTO/Suzuki Racing

tirto.id - Maverick Vinales yang baru direkrut dari tim MotoGP Suzuki ECSTAR memang bukan pembalap kelas teri. Umurnya yang terbilang muda, 21 tahun, membuatnya digadang-gadang sebagai calon juara di masa depan. Keyakinan ini juga ada pada Lorenzo yang baru meninggalkan Yamaha ke Ducati. Menurutnya, Vinales memiliki kans menjadi juara di usia muda seperti Marquez.

“Dia memiliki langkah awal yang menjanjikan. Kita akan lihat nanti jika dia bisa memanfaatkan talentanya untuk menjadi juara. Dengan motor yang canggih, secara teori dia bisa mengikuti balapan lebih sering,” ujar Lorenzo seperti dilansir Motorsport.

Pembalap termuda nomor dua di MotoGP ini tergabung dalam balap motor dunia pada 2011. Saat itu, Vinales yang masih berusia 16 tahun berhasil menduduki peringkat 3 di kelas 125cc Kejuaraan Dunia. Ia juga tercatat pembalap ketiga termuda yang pernah memenangi balapan Grand Prix. Pada tahun yang sama ia dinobatkan rookie terbaik tahun itu.

Vinales loncat kelas di tahun berikutnya. Di kelas Moto3, torehannya luar biasa. Ia berhasil menjadi juara 5 kali dalam 7 kali podium. Ia mengakhiri musim pertamanya dengan meraih juara ketiga. Pada tahun berikutnya, ia meraih 15 kali podium dari 17 kali balapan.

Saat dunia MotoGP dikejutkan oleh Marquez yang menjadi juara dunia MotoGP pada usia 20 tahun, Vinales juga menjuarai dunia Moto3 di tahun 2013 pada usia 18 tahun.

Vinales naik kelas ke Moto2 pada 2014. Penampilannya membuahkan 9 kali podium dalam 18 kali balapan. Ia mengakhiri musim pertamanya di Moto2 dengan posisi ketiga. Alih-alih mencoba meraih juara pertama di tahun berikutnya, ia malah diboyong tim Suzuki ECSTAR MotoGP pada 2015.

Vinales pernah sesumbar bahwa gaya balapannya sangat mirip dengan Marquez. Vinales bahkan menganggap pembalap Repsol Honda itu sebagai guru terbaiknya. Vinales mengamati baik-baik rival sepantarannya itu.

“Bagi saya, pembalap terbaik yang saya bisa contoh adalah Marc,” ujarnya.

Meski begitu, tergabung dalam MotoGP di usia sepantaran dengan Marquez dulu, Vinales mendapat jalan yang sangat berbeda, bila bukan kudu menyetel kesabaran. Bila ‘The Baby Alien’ di musim pertamanya menjadi sorotan dunia, Vinales malah dipandang sebelah mata. Vinales hanya berhasil meraih posisi 12, 8 poin di belakang kawannya, Espargaro. Vinales tak sekali pun terlihat berdiri di podium.

Vinales tidak bisa disandingkan dengan Lorenzo. Pada awal musim bersama Yamaha, Lorenzo mendapat sambutan gemilang. Ia langsung membuktikan ketangguhannya dengan meraih posisi 2 di sirkuit Qatar, mengalahkan Valentino Rossi. Lorenzo berhasil mengakhiri musim pertama di posisi 4, kemudian naik ke posisi 2 pada 2009. Hal yang belum bisa dicapai Vinales dalam dua musim. Pada musim pertama, Lorenzo berhasil meraih 4 kali podium dan 4 kali posisi terdepan jelang balapan, sedangkan Vinales nol besar.

Namun, Vinales sudah berhasil mengalahkan pembalap seniornya di Suzuki, Aleix Espargaro. Pada musim pertama, Espargaro masih setingkat di atas Vinales. Musim kedua, posisi mereka terpaut jauh. Vinales di peringkat 4, sebaliknya Espargaro tetap di posisi 11.

INFOGRAFIK VINALES REVISI

Menantang Status Quo

Bila Marquez ialah berlian mengilap, maka Vinales adalah permata yang masih harus diasah. Di musim 2016, ia mengejutkan banyak orang. Ia berhasil finis uratan 4 klasemen pembalap, dan meraih empat podium dari 18 balapan. Di sirkuit Inggris, Vinales bahkan membawa kemenangan Suzuki.

Itu pula yang menambah keyakinannya untuk pindah. Ia memutuskan menjajal kompetisi 2017 dengan motor yang lebih baik. Menurut Lin Jarvis, pemilik Movistar Yamaha, keputusannya memilih Vinales sebagai pengganti Lorenzo adalah langkah tepat.

“Vinales tidak datang ke Yamaha untuk menjadi bintang terkenal yang mengeruk uang. Dia hanya ingin menjadi juara dunia, menjadi yang terbaik. Dan itulah yang membuat saya yakin memilih dia,” kata Jarvis.

Pada uji coba motor YZR-M1 sesi kedua, 16 November 2016, Vinales mencatat rekor waktu tercepat dalam satu putaran dengan torehan waktu 1 menit 29.975 detik di Valencia. Ia diikuti oleh Marquez, Dovizioso, dan Iannone. Pada sesi pertama, Vinales juga mencatat yang tercepat dengan torehan 1 menit 30,930 detik.

Betapapun Vinales masih berusaha menyesuaikan dengan tumpangan terbarunya itu, yang diakuinya lebih baik dari Suzuki GSX-RR, ia mengaku puas dengan gaya YZR-M1 yang memakai sistem wingless untuk mengurangi getaran mesin.

“Motor YZR-M1 sangat bagus di area balap tadi. Mempunyai belokan yang bagus. Kita melihat ada dua tikungan yang sangat tajam dan sangat sulit, tapi saya merasa tidak masalah dengan motor ini. Kita masih akan terus berusaha meningkatkan performa, menyetel suspensi, sedikit pengaplikasian elektronik, serta meningkatkan gaya balap saya,” ujarnya.

Kesamaan Vinales dan Marquez terlihat saat sedang melakukan full lean—situasi saat badan dicondongkan untuk menyeimbangkan motor. Keduanya memiliki keseimbangan yang luar biasa. Vinales memang suka memacu motornya sejak awal perlombaan. Ini terlihat ketika di Silverstone, ia tidak membiarkan lawan menyusulnya sama sekali. Ia berhasil meraih juara pertama dengan tetap konstan di posisi pertama. Sama seperti Marquez, Vinales mampu melebarkan jarak.

Gaya Vinales juga memiliki kesamaan dengan Lorenzo. Saat menikung, Vinales cenderung mempertahan kecepatan stabil seakan menyusuri trek lurus. Ini membuat Lorenzo dan Vinales sering membalap dari sudut dalam di tikungan.

Bradley Smith, pembalap tim Yamaha Tech3, menegaskan bahwa YZR-M1 memiliki kestablian yang luar biasa di depan dan belakang. Ini cukup riskan bagi Vinales yang sudah terbiasa dengan Suzuki GSX-RR yang fleksibel di tikungan.

“Suzuki bagi saya memiliki lean angle yang lebih baik dan dapat meningkatkan kecepatan di tikungan dengan lebih baik. Jadi, tidak perlu heran jika anda melihat Maverick sering berada dengan posisi badan yang ekstrem—badannya sangat condong ke aspal—lalu dia dapat menyesuaikan kembali usai tikungan untuk meningkatkan akselerasi,” ujar Smith.

Kepiawaian Vinales mengendalikan kuda liar ini berkat pengalamannya dari bermain motocross dan latihan keseimbangan pada olahraga senam lantai. Dengan tinggi yang tak beda jauh, baik Vinales, Marquez, maupun Lorenzo memang memiliki gaya balap yang serupa.

Soal gosip rivalitas dengan Valentino Rossi di Yamaha, Vinales mengaku tak khawatir. Vinales justru terpacu dengan kondisi kompetisi macam itu. Pandangannya mengacu pada kondisi yang sama seperti di tim Suzuki dulu.

"Saya tidak berpikir seperti itu akan jadi masalah. Saya berpikir sebaliknya. Saya pikir dengan berada satu tim dengan Valentino, jika kita cukup pintar, kita bisa belajar banyak. Saya bersaing cukup banyak dengan Aleix (Espargaro), bahkan di Malaysia kita bersinggungan 5 atau 6 kali. Namun, terlepas dari apa yang terjadi di balapan, kami tetap tertawa bersama. Dan itu hal bagus,” kata Vinales.

"Ancaman terbesar saya tentu Vinales atau Rossi," kata Marquez. "Terlalu dini mengatakan apakah Maverick akan lebih sulit dikalahkan ketimbang Rossi, tapi ia memang cepat."

Apakah 'Top Gun' akan menjadi juara dunia baru MotoGP musim 2017?

Baca juga artikel terkait MOTOGP atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Olahraga
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Fahri Salam