tirto.id - Situasi wabah ebola di Kongo dan Uganda pada Minggu (24/5/2026) semakin memburuk. Jumlah kasus dilaporkan terus melonjak. Kini, ada 900 orang suspek yang diduga telah terinfeksi, sementara 119 lainnya meninggal karena gejala terkait ebola.
Menukil The Guardian, situasi yang terjadi di Kongo imbas wabah ebola yang merebak sejak 16 Mei lalu dilaporkan semakin memprihatinkan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa wabah telah menyebar dengan risiko yang “sangat tinggi” bagi Republik Demokratik Kongo. Meskipun begitu, WHO menyebut risiko meluasnya ebola sebagai penyakit yang mengglobal masih tetap rendah.
Wabah ebola yang kini merebak di Kongo sebelumnya diidentifikasi terjadi karena persebaran virus Bundibugyo.
Varian ini dilaporkan menyebar usai petugas kesehatan salah mendiagnosa Bundibugyo dengan varian ebola lain, menyebabkan virus itu dapat berkembang tanpa diketahui untuk berminggu-minggu.
Provinsi Ituri di timur kala itu disebut menjadi titik persebaran ebola varian Bundibugyo ini, dengan Bunia, Wampara, dan Monbgwalu sebagai episentrumnya. Kini, wabah disebut mulai meluas ke wilayah Kivu Utara dan Kivu Selatan yang dikuasai pemberontak.
Sebanyak 900 orang yang kini dikategorikan sebagai suspek kasus ebola Bundibugyo itu juga berasal dari Ituri. Rumah sakit di kota macam Monbgwalu juga dilaporkan mulai mengalami kewalahan dengan banyaknya orang yang butuh diperiksa.
Akan tetapi, petugas kesehatan di Kongo kini harus berjibaku di tengah krisis yang meluas ke bidang non-kesehatan. Wabah ini kini telah memicu sejumlah krisis baru di sektor politik dan sosial, membuat petugas kesehatan makin rentang.
Krisis Meluas dan Saling Tumpang Tindih
Jumlah terduga pasien dan angka kematian yang terus meroket itu merupakan dampak dari krisis yang kini saling tumpang tindih di Kongo. Ebola tak hanya menyebabkan kematian akibat infeksi penyakit, tetapi juga memicu krisis keamanan di sana.
Dinukil dari ABC News, sejumlah rumah sakit di Ituri telah mengalami serangan sejak pekan lalu. Serangan itu dilaporkan dilakukan oleh masyarakat yang marah akan situasi yang terjadi.
Setidaknya, dua pusat kesehatan di Ituri telah dibakar massa yang marah sejak pekan lalu.
Organisasi nirlaba Physicians for Human Rights menyebut bahwa situasi yang kini terjadi di Kongo adalah “serangkaian keadaan darurat yang menghancurkan dan terjadi bersamaan”.
Situasi ini digambarkan sebagai kemarahan di wilayah yang dilanda kekerasan terkait kelompok bersenjata, pengungsian yang terus bertambah, kegagalan pemerintah daerah, dan pemotongan anggaran bantuan yang melumpuhkan fasilitas kesehatan di komunitas yang rentan.
Selama bertahun-tahun, Ituri telah menjadi salah satu lokasi tempat kekerasan terjadi dengan serangan dari kelompok pemberontak dan militan silih berganti terjadi. Banyak dari kekerasan itu berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat sipil di sana.
Bahkan sebelum wabah ebola merebak kini, organisasi Doctors Without Borders menyatakan bahwa kekerasan telah memicu para tenaga kesehatan melarikan diri dan meninggalkan fasilitas kesehatan di Iturti.
Hal ini memperburuk kondisi fasilitas kesehatan yang sudah kewalahan dan dalam “kondisi yang mengerikan” di beberapa wilayah.
Koordinator regional di Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Gabriela Arenas menyebut bahwa wabah ebola yang merebak kini telah “terjadi di komunitas yang sudah menghadapi ketidakamanan, pengungsian, dan sistem perawatan kesehatan yang rapuh”.
Situasi ini diperburuk dengan beredarnya kabar simpang siur secara luas di antara penduduk. Hal ini diduga menjadi salah satu alasan mengapa fasilitas kesehatan dibakar massa pada pekan lalu.
Pembakaran fasilitas kesehatan pertama dilakukan di Rwampara. Insiden ini dilakukan sekelompok pemuda yang mencoba mengambil jenazah teman mereka. Kerumunan ini kemudian melakukan pembakaran sambil menuduh kelompok bantuan asing yang berbohong tentang ebola.
Insiden itu juga terjadi setelah otoritas Kongo melarang acara pemakaman dan pertemuan lebih dari 50 orang di wilayah timur. Sejumlah titik pemakaman kini dijaga tentara dan polisi bersenjata.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































