tirto.id - Bagaimana keterlibatan Inggris (United Kingdom) dalam Perang Iran 2026? Lantas, jika dibuat perbandingan, bagaimana komposisi kekuatan militer Iran vs Inggris berdasarkan data terbaru Global Firepoint Index 2026 dan SIPRI?
Awal Januari hingga Februari 2026, London memperkuat pangkalan militernya di Siprus dengan peningkatan sistem radar dan pertahanan udara. Inggris mengerahkan jet tempur F-35 dan Typhoon ke Qatar sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi Timur Tengah yang memanas.
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat meluncurkan Operation Epic Fury dan Israel memulai Operation Roaring Lion. Ketika itu, Perdana Menteri Keir Starmer mengambil posisi tegas dengan menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk menggunakan pangkalan Inggris dalam serangan ofensif.
Ia menegaskan bahwa Inggris bukan merupakan bagian dari serangan tersebut. Meskipun demikian, pada malam harinya, jet Typhoon Inggris tetap mengudara dari RAF Akrotiri dan Al Udeid untuk misi defensif.
Situasi berubah drastis pada 1 Maret 2026 menyusul serangan balasan massal Iran yang menghantam pangkalan militer Inggris di Bahrain dan RAF Akrotiri di Siprus. Tindakan tersebut membuat London mengeluarkan izin terbatas pada pukul 21.00 UTC bagi AS untuk menggunakan pangkalan di Siprus.
Izin tersebut diberikan secara ketat hanya untuk serangan "penghancuran di sumber", terhadap fasilitas peluncuran rudal Iran, ditambah catatan larangan keras menargetkan infrastruktur politik atau ekonomi
.
Setelah memahami kronologi keterlibatan Inggris tersebut, menarik untuk melihat bagaimana komposisi kekuatan militer Inggris jika jika diperbandingkan secara teknis dengan militer Iran.
Secara ringkas, Inggris dan Iran punya model strategi pertahanan yang berbeda. London lebih menekankan pada kekuatan proyeksi global dan teknologi tempur canggih. Sementara itu, Iran lebih bertumpu pada strategi pertahanan asimetris dengan kombinasi rudal balistik, drone, dan pencegah rudal jarak jauh.
Dengan mengacu pada data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) dan Global Firepower, berikut ringkasan sekilas mengenai perbandingan kekuatan militer Iran vs Inggris menurut data terbaru 2026.
Perbandingan Anggaran Pertahanan Iran vs Inggris & Jumlah Personel 2026
Perbandingan pertama dapat dilihat dari segi anggaran pertahanan. Dalam hal ini, Inggris memiliki keunggulan cukup signifikan dibandingkan Iran. Menurut data SIPRI terbaru, Inggris tercatat memiliki anggaran belanja militer berkisar USD 75-80 militer per tahun.
Berbeda dengan Inggris, Iran justru cenderung lebih kecil, yakni hanya berkisar USD 10-15 miliar saja per tahun. Namun, meskipun jauh lebih kecil, Iran justru dikenal mampu mengembangkan berbagai teknologi militer domestik dengan biaya relatif efisien.
Selain itu, dari data Global Firepower, Iran memiliki keunggulan dari jumlah pasukan yang mencapai 610.000 personel militer aktif yang terdiri dari Angkatan Darat, Laut, Udara, dan pasukan elit Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Sedangkan Inggris hanya memiliki sekitar 185.000 personel aktif.
Perbandingannya, mengacu data Global Firepower dalam bentuk tabel, adalah sebagai berikut.
| Indikator (Data 2026) | Inggris (UK Armed Forces) | Iran (Artesh & IRGC) |
| Anggaran Pertahanan | ± USD 75 - 80 Miliar | ± USD 10 - 15 Miliar |
| Personel Militer Aktif | 184.860 | 610.000 |
| Pasukan Paramiliter | Nihil | 220.000 |
Perbandingan Kekuatan Militer Udara Iran vs Inggris Jet Tempur vs Armada Drone
Selanjutnya, dari segi kekuatan udara, menurut laporan The Military Balance, Angkatan Udara Inggris mengoperasikan jet tempur modern, seperti F-35B Lightning II dan Eurofighter Typhoon yang memiliki kemampuan canggih dan super modern.
Dengan memiliki jet tempur F-35B, Inggris dimungkinkan memiliki kemampuan proyeksi kekuatan udara jarak jauh yang signifikan lantaran pesawat jenis tersebut mampu melakukan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal, serta dapat dioperasikan dari kapal induk.
Berbeda dari Inggris yang memiliki pesawat tempur canggih nan modern, Iran justru menggunakan pesawat tempur yang lebih tua yang dimodernisasi. Sumber lokal menyebut Iran melakukan pengadaan jet tempur Su-35 dari Rusia.
Di sisi lain, Iran memiliki kekuatan utama pada drone tempur dan pengintaian yang jumlahnya sangat besar. Bahkan, saat ini Iran juga telah mengembangkan berbagai drone seperti Shahed-136 yang mampu melakukan serangan fatal dari jarak jauh.
| Alutsista Udara | Inggris | Iran |
| Total Pesawat | 664 | 551 |
| Pesawat Tempur | 120 (F-35 & Typhoon) | 188 (Su-35 & F-14 mod) |
| Helikopter Serang | 52 (Apache) | 13 |
Perbandingan Kekuatan Militer Laut: Kapal Induk Royal Navy vs Kapal Cepat IRGC
Dari segi kekuatan Laut, Iran tak memiliki kapal induk. Akan tetapi, Iran mengembangkan strategi perang laut asimetris dengan memanfaatkan serangan menggunakan ratusan kapal cepat IRGC bersenjata rudal yang dirancang khusus untuk melepaskan serangan cepat, termasuk menyerang kapal perang besar yang disokong kapal selam mini kelas Ghadir.
Berbeda dengan Iran, Angkatan Laut Inggris alias Royal Navy dapat mengoperasikan dua kapal induk modern, yaitu HMS Prince of Wales dan HMS Queen Elizabeth. Kedua kapal induk tersebut dapat membawa beberapa jet tempur F-35B dan armada tempur udara lainnya.
| Alutsista Maritim | Inggris | Iran |
| Kapal Induk | 2 | 0 |
| Kapal Perusak | 6 | 0 |
| Kapal Selam | 10 | 25 (Termasuk Mini Sub) |
| Peperangan Ranjau | 9 | 1 |
Data Jangkauan Rudal Balistik dan Sistem Pertahanan Udara
Menurut laporan Army Technology, dari segi pertahanan, Inggris lebih fokus pada sistem pertahanan udara modern seperti Sky Sabre yang dapat mendeteksi dan menembak jatuh berbagai ancaman udara baik melalui pesawat, drone, maupun rudal dengan akurasi tinggi. Terlebih, sistem ini juga dilengkapi radar super canggih yang memungkinkan Inggris dapat melindungi pangkalan militernya dari ancaman serangan udara.
Di sisi lain, Iran memiliki keunggulan di bidang serangan rudal balistik. Pasalnya, Iran dikenal memiliki salah satu program balistik terbesar di Timur Tengah melalui proyek Missile Threat yang menampilkan bahwa Iran memiliki rudal balistik dengan jangkauan 2.000 hingga 2.500 kilometer.
Dengan menggunakan kemampuan rudal balistiknya itu, Iran dapat menjangkau berbagai target di Timur Tengah hingga sebagian wilayah Eropa. Selain rudal tersebut, data lainnya melaporkan bahwa Iran mengembangkan berbagai rudal jelajah dan drone kamikaze guna meningkatkan kemampuan serangan jarak jauhnya menjadi lebih ampuh.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id




























