Menuju konten utama

Update Keadaan Iran: Serangan Meluas & Korban Tewas Bertambah

Update situasi di Iran saat ini, serangan AS-Israel makin meluas, listrik mati total, dan jumlah korban tewas bertambah.

Update Keadaan Iran: Serangan Meluas & Korban Tewas Bertambah
Dampak setelah serangan AS dan Israel terhadap Teheran. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, memicu kekhawatiran akan perang regional dengan ledakan yang dilaporkan di seluruh Timur Tengah ketika republik Islam itu membalas dengan rentetan rudal. (Photo by various sources / AFP)

tirto.id - Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki hari kelima pada 4 Maret 2026. Situasi di dalam negeri Iran semakin memburuk karena terjadi pemadaman internet hampir total di seluruh negara.

Akses internet di Iran dilaporkan turun drastis hingga hanya sekitar 1 persen dari kapasitas normal. Data tersebut disampaikan oleh lembaga pemantau internet independen NetBlocks, yang menyebut gangguan ini sebagai pemutusan internet berskala nasional yang diduga diberlakukan oleh pemerintah.

Selain itu, AS-Israel juga masih melanjutkan serangan ke Iran dan Teheran juga melancarkan serangan balasan. Berikut ini selengkapnya.

Keadaan Iran Saat Ini

Israel dan Iran terus melancarkan serangan saat perang memasuki hari kelima. Serangan Israel meluas ke kawasan di Iran.

Serangan balasan Iran berlanjut dengan serangan drone dan rudal seiring konflik menyebar ke negara-negara Teluk.

Sirene serangan udara berbunyi di seluruh Israel. Warga bergegas menuju tempat perlindungan, ketika rudal-rudal Iran yang datang memicu ledakan keras akibat upaya pencegatan.

Sejumlah lokasi di seluruh Iran diserang, dan Teheran melancarkan serangan balasan di berbagai wilayah kawasan tersebut.

Israel mengeluarkan peringatan pada Rabu (4/3) dini hari, menginstruksikan warga untuk menuju tempat perlindungan karena rudal telah diluncurkan Iran dan sistem pertahanan sedang berupaya “mencegat ancaman”.

Teheran terus melancarkan serangan balasan rudal dan drone terhadap Israel dan wilayah Teluk, sementara Presiden AS Donald Trump mengklaim konflik tersebut dapat berlangsung selama sebulan.

Israel-AS juga melancarkan serangan ke Teheran pada Rabu (4/3) yang menargetkan pasukan militer Iran.

Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang bangunan yang terkait dengan Basij, pasukan sukarela dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Militer Israel juga menyatakan telah menyerang bangunan yang terkait dengan komando keamanan dalam negeri Iran, yang sebelumnya juga menindak demonstrasi.

Sedikitnya 787 orang tewas di seluruh Iran akibat serangan gabungan AS–Israel, menurut Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran.

Pemutusan Internet di Iran

Kondisi Iran juga memburuk karena terjadi pemutusan internet. Sejumlah analis menilai bahwa pemutusan internet ini kemungkinan merupakan langkah pemerintah untuk mengendalikan arus informasi di tengah situasi perang.

Iran memang memiliki riwayat melakukan pembatasan internet saat terjadi gejolak politik atau protes besar. Pada Januari sebelumnya, pemerintah juga pernah menerapkan pemadaman hampir total selama beberapa minggu ketika terjadi aksi demonstrasi luas.

Dalam situasi kali ini, para pengamat menilai gangguan internet mungkin bukan hanya akibat kebijakan internal, melainkan juga dipengaruhi serangan siber dari luar negeri.

“Namun, kita juga tahu bahwa operasi siber AS-Israel yang dilakukan secara bersamaan sengaja menargetkan infrastruktur telekomunikasi untuk mengganggu jaringan komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selama serangan kinetik,” ujar Kathryn Raines, pemimpin tim intelijen ancaman siber di platform intelijen Flashpoint, seperti diberitakan CNBC.

Di tengah serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel, muncul laporan bahwa kedua negara juga melancarkan operasi siber terhadap infrastruktur digital Iran.

Beberapa situs berita yang berafiliasi dengan pemerintah Iran dilaporkan menjadi target peretasan. Selain itu, aplikasi kalender keagamaan populer bernama BadeSaba Calendar, yang telah diunduh lebih dari lima juta kali, dilaporkan diretas dan menampilkan notifikasi tidak sah berisi pesan yang menyerukan aparat keamanan untuk meletakkan senjata dan bergabung dengan rakyat.

Dampak dari pemadaman internet ini sangat besar bagi masyarakat Iran. Warga kesulitan berkomunikasi dengan keluarga, memperoleh informasi terkini, maupun mendokumentasikan situasi di lapangan. Kondisi ini menambah ketidakpastian dan menciptakan apa yang disebut analis sebagai “kabut perang”, di mana informasi menjadi terbatas dan sulit diverifikasi.

Situasi Iran saat ini membangkitkan kembali kenangan lama yang penuh ketakutan bagi sebagian warga Iran. Mereka membandingkan situasi sekarang dengan masa setelah jatuhnya Shah Iran pada 1979 dan periode perang panjang Iran-Irak pada 1980-an.

Pada masa itu, akses informasi sangat terbatas. Banyak keluarga tidak bisa mengetahui kabar anggota keluarga yang hilang atau mendapatkan informasi jelas tentang kondisi di luar negeri.

Situasi sekarang, dengan internet hampir sepenuhnya terputus, menimbulkan perasaan serupa yakni terisolasi, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan sulit berkomunikasi.

Pemadaman internet juga memperkuat rasa terjebak di kalangan warga biasa. Di saat yang sama, jalur penerbangan ditutup, wilayah udara dihentikan operasinya, dan perbatasan darat, termasuk dengan Turki, ditutup.

Artinya, bukan hanya komunikasi digital yang terputus, tetapi juga jalur fisik untuk keluar dari negara ikut tertutup. Bagi banyak orang Iran, bahkan sebelum krisis ini, bepergian ke luar negeri sudah tidak mudah karena keterbatasan visa. Kini, dengan bandara ditutup dan perbatasan diperketat, pilihan untuk pergi menjadi hampir tidak ada.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra