Upaya Menyembuhkan Duka Usai Pasangan Tiada

Kontributor: MN Yunita, tirto.id - 3 Okt 2022 13:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kesedihan juga bisa dirasakan secara fisik yang bisa terlihat misalnya dengan kesulitan makan atau tidur, merasa lelah dan cemas, atau mengalami rasa sakit.
tirto.id - Setelah penelitian selama beberapa dekade menunjukkan bahwa banyak orang mengalami kesulitan terkait masa berkabung yang melebihi harapan sosial dan budaya yang diharapkan, gangguan kesedihan berkepanjangan atau prolonged grief ditambahkan ke Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM). Definisi gangguan ini dimasukkan dalam DSM-5 (DSM-5-TR) versi revisi, yang dirilis pada Maret 2022.

DSM adalah publikasi American Psychiatric Association (APA) yang mendefinisikan dan mengklasifikasikan gangguan mental.

Pencantuman dalam publikasi AS, yang digunakan ahli untuk mendiagnosis gangguan kesedihan berkepanjangan pada pasien ini berarti mereka yang memenuhi kriteria – orang yang masih dalam kesedihan yang mendalam setelah satu tahun – dapat memperoleh perawatan dari perusahaan asuransi di Amerika Serikat. Hal ini dikatakan juga akan membantu para ahli yang membantu pasien; dewasa maupun anak kecil yang berada dalam kondisi kesedihan berkepanjangan, dan membantu kesadaran bahwa kesedihan berkepanjangan wajar terjadi pada beberapa orang.

Bergumul dengan reaksi kesedihan yang berkepanjangan, seseorang seolah-olah berada di dalam kesedihan sepanjang waktu dan merasa kewalahan dengan rasa rindu akan pasangan yang telah tiada. Bila ini terjadi, mungkin seseorang tidak dapat melanjutkan hal-hal yang biasa dilakukan sebelumnya, seperti bekerja, bersosialisasi, atau bertemu teman dan keluarga.

Reaksi kesedihan berkepanjangan lebih mungkin terjadi saat kehilangan itu sangat traumatis, misalnya kehilangan orang yang dicintai secara tiba-tiba.

Gejala gangguan kesedihan berkepanjangan (APA, 2022) meliputi gangguan identitas (seperti merasa seolah-olah bagian dari diri sendiri telah mati), ditandai rasa tidak percaya tentang kematian, menghindari pengingat bahwa orang tersebut sudah meninggal, rasa sakit emosional yang intens (seperti kemarahan, kepahitan, kesedihan) terkait dengan kematian, kesulitan dengan reintegrasi (seperti masalah terlibat dengan teman, mengejar minat, merencanakan masa depan), mati rasa emosional (tidak adanya atau pengurangan pengalaman emosional yang nyata), merasa hidup tidak ada artinya, kesepian yang intens (merasa sendirian atau terlepas dari orang lain).


Infografik Duka Lara
Infografik Duka Lara Lv. 5. tirto.id/Mojo


Tahapan Duka
Dr. Matthew Whalley dan Dr. Hardeep Kaur, yang merupakan psikolog klinis dalam artikelnya berjudul Grief, Loss, and Bereavement menyebut kesedihan merupakan hal yang wajar saat seseorang kehilangan orang yang mereka cintai. Efeknya sendiri menurut mereka dapat menyentuh dan memengaruhi baik sisi emosional dan fisik seseorang yang sedang diliputi duka.

Secara emosional, orang yang bersedih seringkali akan merasakan kerinduan kuat untuk bersama pasangan mereka lagi yang sudah meninggal. Rasa marah atau kesal terhadap diri sendiri juga datang menghampiri, termasuk seakan mati rasa dan kosong, seolah-olah tak ada artinya.

Kesedihan juga bisa dirasakan secara fisik. Hal ini ditunjukkan misalnya dengan masalah sulit makan atau tidur, merasa lelah dan cemas, atau bisa juga mengalami rasa sakit.

Tolok ukur kesedihan normal menurut Dr. Lucy Hone, co-founder Coping with Loss, adalah bila seseorang secara umum masih dapat berfungsi.

Teori Elisabeth Kübler-Ross, psikiater dan penulis buku On Death and Dying menjadi pedoman banyak ahli dalam mengatasi kesedihan pasien. Lima tahap kesedihan (normal) yang akan dilalui oleh seseorang, menurut Ross sering disebut dengan DABDA yang meliputi Denial (penyangkalan), Anger (kemarahan), Bargaining (negosiasi), Depression (depresi) dan yang terakhir Acceptance (penerimaan).

Bukan berarti semua tahapan ini nantinya akan dilalui semua orang yang berduka. Kubler-Ross bilang tahapan kesedihan tersebut tak linier dan bisa saja beberapa orang tak mengalami dan hanya menjalani dua dari lima tahap tersebut.

Pertama, penyangkalan. Tahap ini adalah tahap yang dapat membantu seseorang untuk bertahan mengatasi dari rasa kehilangan dan rasa sedih. Misalnya jika menerima berita kematian orang dicintai, mungkin seseorang akan masih berharap pada harapan palsu bahwa ada salah identifikasi dan pasangannya sebenarnya masih hidup.

Penyangkalan juga memberi waktu seseorang untuk menyerap berita itu dan bertahap mulai memprosesnya. Begitu penyangkalan memudar awal proses penyembuhan dimulai. pada titik ini kesedihan yang pernah anda sembunyikan muncul ke permukaan dan meningkat.

Kedua, kemarahan. Saat harapan palsu menjadi realita, kemarahan mulai muncul dalam diri. Ini adalah tahap umum di mana seorang berpikir mengapa ia harus kehilangan orang tercinta dan hidup menjadi tak adil baginya. Terlepas dari itu, para peneliti dan profesional kesehatan mental setuju bahwa kemarahan adalah tahap berduka yang diperlukan. Pasalnya makin cepat seseorang merasakan kemarahan semakin cepat pula emosi ini memudar dan itu adalah langkah alami dalam penyembuhan dari duka.

Ketiga, tahap tawar menawar. Bisa dibilang tahap ini terjadi saat seseorang mencoba menghindari rasa dukanya melalui jenis negosiasi tujuannya untuk menunda kesedihan, kebingungan, atau sakit hati. Dan pada tahap ini, seseorang mulai mengungkapkan pernyataan-pernyataan seperti 'bagaimana jika' yang tak ada habisnya.

Keempat, depresi. Pada tahap ini seseorang mungkin akan menarik diri dari sosial, merasa mati rasa dan tak ingin bangun dari tempat tidur. Bahkan mungkin tak yakin dan putus asa untuk bisa menghadapi rasa duka.

Itu semua akan berlalu saat seseorang berada dalam tahap penerimaan. Tahap ini lah yang merupakan tahap terakhir kesedihan yang diidentifikasi oleh Kubler-Ross. Pada tahap ini emosi seseorang mulai stabil dan kembali ke kenyataan. Ada realitas baru yang sudah diterima, bahwa pasangan tidak akan pernah kembali. Di tahap ini juga seseorang akan kembali bersosialisasi serta membuka diri.

Yang menarik, teori yang sudah dipercaya dalam jangka waktu yang lama oleh para ahli ini menurut Hone, sudah dipatahkan sendiri oleh Ross. Menurutnya, teori yang ia temukan tersebut adalah mitos populer yang perlu dihentikan.

Mengatasi Kesedihan
Meskipun perasaan dan gejala kesedihan kadang-kadang dapat meningkat pada titik waktu yang berbeda, seseorang tidak memerlukan perawatan kesehatan mental. Namun, untuk orang yang mengalami gejala gangguan kesedihan berkepanjangan yang lebih intens dan berkelanjutan, tersedia perawatan berbasis bukti. Perawatan menggunakan elemen terapi kognitif-perilaku (CBT) telah terbukti efektif dalam mengurangi gejala.

Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah terapi berbicara yang dapat membantu mengelola masalah dengan mengubah cara berpikir dan berperilaku.

American Psychological Association (APA), menuliskan pula seseorang dapat pulih dari rasa duka (normal) dengan sendirinya seiring waktu jika mereka memiliki dukungan sosial dan kebiasaan yang sehat.

Dukungan sosial atau support system menjadi hal yang penting untuk membantu seseorang memproses, memahami apa yang terjadi serta menerima kehilangan. Misalnya, dengan cara menceritakan rasa duka yang dialami dengan teman atau keluarga.

Terkadang ada keraguan untuk mengungkit atau menyebut nama seseorang yang sudah meninggal karena khawatir akan menyakitkan. Tetapi beberapa orang justru merasa terbantu untuk berbicara langsung tentang kehilangan orang yang mereka cintai. Sementara proses penyembuhan kesedihan akan lebih lama pada orang yang memilih untuk tak membicarakan soal kehilangan mereka pada support system mereka.

Yang tak boleh diabaikan, proses berduka juga dapat berdampak pada tubuh seseorang. Sehingga makan makanan sehat, berolahraga, dan mencoba untuk tidur cukup dapat membantu mendukung fisik dan emosional dalam menghadapi masa-masa berkabung seseorang. Lalu coba juga untuk kembali melakukan hal-hal yang dulu disukai, berjalan-jalan, membaca atau bertemu dengan teman atau keluarga.

Manusia secara alami tangguh dan mampu menghadapi berbagai rintangan. Namun tetap, dalam hal ini tak ada cara yang tepat dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk berduka - baik dalam jangka waktu yang normal maupun berkepanjangan. Jadi hargai waktu berduka dan bersabar serta jangan lupa juga untuk tetap merawat diri sendiri. Dan saat semuanya terasa telah membaik dan rasa sakit mulai memudar, mulailah untuk membuat rencana untuk aktif kembali.

Baca juga artikel terkait ILMU PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya MN Yunita
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: MN Yunita
Penulis: MN Yunita
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight