Tuna Rungu Pun Bisa Jadi Fotografer

Yuddit Yogi Irwansyah, pendiri Komunitas Fotografi Tunarungu Indonesia (KFTIndo). Google+/Yuddit Yogi Irwansyah
Oleh: Fikri Muhammad - 8 April 2018
Dibaca Normal 2 menit
Meski banyak halangan, banyak orang tuna rungu berhasil jadi fotografer.
tirto.id - Berbekal rasa cinta terhadap fotografi, Yuddit Yogi Irwansyah, seorang pria tuna rungu asal Surabaya, mendirikan KFTIndo (Komunitas Fotografi Tunarungu Indonesia). Yuddit mulai belajar fotografi ketika berusia 21 tahun. Walaupun menemui hambatan ia tetap tekun mempelajari fotografi.

Semua bermula ketika Yuddit mendapat kamera DSLR dari orangtuanya. Melalui pesan via Whatsapp, Yuddit bercerita ia mulai sering memotret di luar rumah dengan kamera hadiah itu. Ia pelan-pelan jatuh cinta dengan dunia fotografi. Ia mengaku banyak belajar dari komunitas fotografi bernama SIF (Suroboyo in Frame).

"Walaupun saya mengalami hambatan komunikasi, saya tidak mudah menyerah. Saya memakai komunikasi visual, yakni telefon genggam dan tulisan di kertas,” ujarnya.

Referensi Yuddit dalam dunia fotografi adalah fotografer Kompas, Arbain Rambey, dan Darwis Triadi, pendiri Darwis Triadi School of Photography. Yuddit menyukai karya-karya human interest dari Arbain Rambey. Menurutnya, fotografi yang memotret manusia mempunyai emosi tersendiri untuk hidupnya. Sementara, Darwis Triadi mejadi referensinya dalam foto pernikahan.

KFTIndo merupakan komunitas yang diinisiasikan Yuddit sebagai wadah berkumpulnya para fotografer tuna rungu. Alasan Yuddit mendirikan komunitas ini karena banyak teman-teman tuna rungu yang jadi pengangguran. Karena itu, ia ingin membantu mereka belajar fotografi, dan bisa bekerja sebagai fotografer. Sejak berdiri pada 2015, komunitas ini mengajarkan dan mendiskusikan aneka macam teknik fotografi, mulai jenis-jenis lensa hingga teknik mengedit foto. Di samping itu, KFTIndo juga aktif membagikan informasi lomba di halaman Facebook.

“Saya tahu kalau anak-anak tuli ingin menjadi fotografer. Tetapi mereka masih kurang pengalaman. Karena tidak banyak dari mereka yang masuk di sekolah kejuruan umum dan kuliah. Banyak tuli menganggur sejak beberapa tahun yang lalu. Jika mereka ingin sukses, fotografi dapat membantu mereka,” kata Yuddit.



Sayang, komunitas ini sudah tidak aktif lagi. Namun Yuddit masih tetap berada di jalur fotografi, malahan merambah desain grafis dan animasi 3D. Pria yang pernah masuk dalam 10 besar lomba dan pameran foto Piala Presiden 2013 ini juga menekuni bisnis bernama YogiArt, jasa fotografi dan digital printing. Meski komunitasnya sudah tak aktif lagi, Yuddit tetap pada pendiriannya: tuna rungu juga bisa jadi fotografer.

“Anak-anak tuna rungu yang mencintai fotografi, jangan pernah bosan untuk belajar. Fotografi itu memang butuh proses yang panjang, jangan menyerah,” ujarnya.

Yuddit tak sendiri dalam meyakini hal itu. Farah Mubbina, 19, juga percaya bahwa tuna rungu bisa jadi fotografer profesional. Termasuk dirinya. Gadis tuna rungu lulusan SMKN 6 Jakarta jurusan animasi tersebut belajar fotografi secara autodidak melalui media buku dan internet sejak usia 6 tahun.

Dengan akun Instagram @farahmubbina, ia banyak memamerkan hasil karyanya. Foto-fotonya menampilkan sentuhan warna yang terkesan hangat. Ini hasil dari hasil editing bernama Orange & Teal, suatu perpaduan warna antara oranye dan teal (warna perpaduan biru kehijauan, mirip dengan sian) yang menghasilkan efek kontras.

Saat ini keinginannya adalah membentuk komunitas fotografer tuna rungu. Dengan komunitas itu, Farah ingin berbagi tentang fotografi dan membangun jejaring fotografer tuna rungu. Dengan itu, para fotografer tuna rungu bisa berbagi pengetahuan dengan mereka yang ingin belajar memotret.





Di dunia, fotografer tuna rungu bukan suatu hal yang asing. Situs Ear Institute & Action on Hearing Loss Libraries, University College London, pernah mengunggah foto tiga fotografer tuna rungu yang sedang makan. Fotonya bertarikh 1921. Salah satu fotografer di foto itu adalah Selwyn Oxley. Ia dikenal sebagai fotografer tuna rungu yang rutin keliling negara untuk mengenalkan misinya. Ia ingin menunjukkan bahwa seorang tuna rungu pun bisa jadi fotografer. Ia bahkan beberapa kali mendapat pekerjaan memotret ke luar negara, termasuk misinya ke Afrika Selatan pada 1921.

Di zaman kiwari, salah satu fotografer tuna rungu yang cukup populer adalah Clare Cassidy. Di situsnya, Cassidy banyak mengunggah foto hasil kerjanya. Dari foto kelahiran bayi, pernikahan, anak-anak, manula, hingga foto petualangan. Sebagai seorang profesional, Cassidy juga tak mau memberi harga murah hanya karena ia seorang tuna rungu. Bahkan, menurutnya, ia punya kelebihan dibanding fotografer "normal" lain.

"Aku yang tuna rungu sebenarnya punya keuntungan, yakni punya mata lebih tajam saat memotret. Aku tidak terganggu oleh suara, dan aku lebih fokus pada gerak tubuh," tulisnya.



Anton Ismael, pendiri studio Third Eye Space berpendapat bahwa fotografi bukanlah hal yang ekslusif lagi. Teknologi memudahkan orang untuk belajar fotografi. Bagi inisiator kelas fotografi gratis bernama Kelas Pagi ini, fotografi tidak lagi dipandang sebagai seni saja tetapi komunikasi.

"Di gawai, kita bisa melakukan banyak hal, salah satunya motret. Zaman sekarang, siapa sih yang gak punya pengalaman motret? Bahkan anak kecil bisa. Fotografi sekarang sudah jadi alat komunikasi. Misalkan gue lagi makan dan pengen nyombong kalau gue makan soto Ambengan. Jadi foto dan unggah di medsos, jadi ajang narsis makanan gue," kata Anton saat ditemui di Third Eye Space, Cipete Utara, Jakarta Selatan.

Karena fotografi yang sudah makin tak eksklusif lagi, maka seorang difabel pun bisa menjadi fotografer profesional. Menurut Anton, di samping indra, manusia juga punya akal budi. Jika seorang difabel tidak mempunyai indra yang lengkap, mereka masih punya akal dan budi yang menjadi pengganti indera.



Di Kelas Pagi, sempat beberapa kali ada murid difabel. Tidak hanya belajar fotografi, mereka juga berbagi ilmu komunikasi. Salah satu murid Anton ada yang tuna rungu sekaligus tuna wicara. Saat itu, ia datang dengan bapaknya. Anton menyuruh anak itu untuk mempresentasikan hasil fotonya.

"Di presentasi selanjutnya, gue suruh dia mengajarkan bahasa isyarat ke murid lain. Bahasa sederhana saja, seperti kata bapak, ibu, selamat pagi, dan lainnya. Jadi belajar di Kelas Pagi ini tidak hanya belajar teknis fotografi. Tapi kami juga belajar menghargai orang lain dan hal-hal kecil," kata Anton.

Baca juga artikel terkait DIFABEL atau tulisan menarik lainnya Fikri Muhammad
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Fikri Muhammad
Penulis: Fikri Muhammad
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight