Menuju konten utama

DPR Imbau Pemerintah Antisipasi Gangguan Ekonomi Nasional

Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan meminta pemerintah untuk cermat dan mampu mengantisipasi peluang gangguan terhadap ekonomi nasional.

DPR Imbau Pemerintah Antisipasi Gangguan Ekonomi Nasional
Ilustrasi. Antara foto/Rivan Awal Lingga.

tirto.id - Pemerintah diminta untuk cermat dalam mengelola perekonomian dan mengantisipasi peluang gangguan terhadap ekonomi nasional. Hal tersebut diungkapkan Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan.

Heri mengatakan dengan kondisi perekonomian global yang belum menentu dan juga peluang gangguan terhadap perekonomian nasional maka pemerintah harus mampu memproyeksikan apa yang akan terjadi sehingga dapat mengambil langkah antisipasi.

"Kematangan pemerintah sangat dibutuhkan dalam memproyeksikan ekonomi ke depan. Update data harus selalu dilakukan, agar ekonomi nasional tidak terus terjatuh," katanya dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta pada Selasa (19/7/2016).

Heri mengatakan banyak yang harus diperhatikan pemerintah dengan kenyataan yang ada, misalnya BI rate masih tidak menentu karena terkait faktor eksternal. Inflasi masih di koridor 3-4 persen dan SBN kurang berpihak pada bisnis yang kondusif.

Selain itu, pemerintah juga harus memperhatikan perlambatan ekonomi Tiongkok, karena adanya rapid aging society (cepatnya peningkatan populasi usia tua).

Masalah lainnya yang harus diperhatikan adalah potensi arus modal keluar dalam jangka pendek yang dipastikan segera menekan nilai tukar rupiah.

Heri memaparkan jika pemerintah tidak cermat dan tepat dalam mengambil kebijakan di bidang ekonomi maka dampak negatif dari masalah yang dihadapi akan lebih dirasakan pada masa mendatang.

"Dengan keadaan seperti itu, ke depan perekonomian nasional tetap tidak akan menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi yang nanti dihasilkan tidak akan mengubah apapun," paparnya.

Pemerintah telah menyampaikan asumsi makro ekonomi dalan RAPBN 2017 di hadapan Komisi XI DPR.

Pertumbuhan ekonomi 5,3-5,9 persen, inflasi 3-5 persen, nilai tukar rupiah dipatok Rp 13.650-Rp13.900 per USD, dan SBN 5-5,5 persen.

Menurut Heri yang paling realistis adalah pertumbuhan ekonomi 5,2-5,5 persen, inflasi 3-4,5 persen dan nilai tukar rupiah Rp 13.300-Rp 13.500 per USD, sementara SBN 5,0-5,5 persen.

"Pemerintah harus bekerja keras lagi dalam mendorong perekonomian nasional yang kuat dan punya dampak nyata untuk kesejahteraan masyarakat," kata politisi dari Partai Gerindra tersebut.

Ia mengingatkan pemerintah untuk lebih bekerja keras dalam mengelola kebijakan ekonomi dalam menghadapi situasi yang sulit tersebut.

Baca juga artikel terkait EKONOMI

tirto.id - Ekonomi
Sumber: Antara
Penulis: Rima Suliastini
Editor: Rima Suliastini