Transgender & Model Berisi di Miss Universe, Sekadar Basa-Basi?

Catriona Gray dari Filipina, kiri, bereaksi saat ia dinobatkan sebagai Miss Universe 2018 oleh Miss Universe 2017 Demi-Leigh Nel-Peters selama putaran final kompetisi Miss Universe ke-67 di Bangkok, Thailand, Senin, 17 Desember 2018. AP Photo / Gemunu Amarasinghe
Oleh: Joan Aurelia - 18 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Awalnya, Miss Universe diselenggarakan sebagai atraksi pariwisata. Kini, pihak penyelenggara hendak mengubah citra acara ini agar lebih peka isu sosial.
tirto.id - Donald Trump pernah merasa bangga ketika memborong seluruh saham Organisasi Miss Universe, lembaga penyelenggara kontes kecantikan berskala internasional yang menaungi kontes Miss USA dan Miss Universe. Trump sesumbar menyebut dirinya sebagai penyelamat Miss Universe dari keterpurukan. Ia menyatakan punya ambisi menyulap Miss Universe jadi acara paling populer sedunia.

Kontes yang melibatkan para perempuan dari berbagai negeri pertama kali diselenggarakan pada 1952 oleh produsen pakaian renang Pacific Knitting Mills. Format kontes kecantikan ini terinspirasi International Pageant of Pulchritude, sebuah kompetisi tingkat dunia yang diselenggarakan untuk meningkatkan angka kedatangan turis di negara bagian Texas. International Pageant of Pulchritude berlangsung mulai 1926 dan terakhir diadakan di AS pada 1932.

Sejak pertama kali digelar hingga hari ini, profit adalah motif utama penyelenggaraan Miss Universe dan kontes-kontes kecantikan serupa. Namun, kendati telah mengalami enam kali pergantian kepemilikan, Organisasi Miss Universe tidak pernah terbuka soal jumlah laba yang mereka peroleh tiap tahunnya maupun soal jual-beli saham antar pemilik. sangat berbeda dengan acara Miss World, saingan Miss Universe, yang cukup terbuka dalam pelaporan keuntungan, peningkatan jumlah penonton, dan fluktuasi rating acara bersangkutan di televisi.


Laporan panjang Jeffrey Toobin bertajuk "Trump’s Miss Universe Gambit" di New Yorker pada Februari 2018 mengungkap Trump punya hak khusus untuk memilih kontestan yang dianggap layak masuk babak penyisihan. Sembilan kontestan dipilih dari negara-negara di mana terdapat rekanan bisnis Trump atau yang potensial digaet sebagai kongsi. Pertimbangan lain adalah peserta yang negaranya memiliki rating penayangan Miss Universe tertinggi. Dua faktor ini juga menentukan lokasi penyelenggaraan acara Miss Universe. Ketika saham Miss Universe masih sepenuhnya di tangan Trump, tulis Toobin, "kontes diadakan dua kali di Las Vegas, Florida, dan Puerto Rico”.

Demikian pula saat Trump ingin menyelenggarakan kontes Miss Universe di Moskow, Rusia. Jeffrey Toobin menyatakan Trump telah terobsesi dengan Rusia sejak 1987. “Saya berpikir untuk membangun hotel mewah di seberang Kremlin, bekerja sama dengan pemerintah Soviet,” tulis Trump dalam The Art of the Deal (1987), seperti yang dikutip Jeffrey.

Pada 2013, Presiden Miss Universe Paula Shugart bertemu penyanyi pop Moskow Emin Agalarov, anak taipan properti Aras Agalarov.
Emin punya keinginan untuk tampil pada malam final Miss Universe dan berharap bisa menemukan model perempuan untuk video klip dari lagu yang ia nyanyikan. Dari sanalah muncul ide penyelenggaraan malam final Miss Universe di Moskow. Singkat cerita, Trump akhirnya bertemu dengan Aras untuk membicarakan lokasi penyelenggaraan Miss Universe dan serta peluang bisnis di negara tersebut. Aras bersedia menyediakan venue sekaligus jadi investor untuk acara Miss Universe. Ia pun turut membuka jalan bagi relasi Trump dan Putin.

Cuma Polesan?

Selama memimpin Organisasi Miss Universe, Trump nampaknya tutup mata terhadap dua hal, yakni penurunan rating dan tanggungjawab untuk berperilaku sopan terhadap kontestan.

Soal rating, ia hanya berpegang pada prinsip ‘selama baju renang semakin minim dan hak sepatu semakin tinggi, maka rating akan meningkat’. Soal perilaku terhadap kontestan, Trump tidak menampakkan itikad untuk berperilaku sopan. Ia seenaknya berkeliaran di area belakang panggung saat para kontestan tengah ganti busana, menelanjangi mereka dengan tatapannya, bahkan mencium bibir kontestan tanpa izin, menyentuh bokong, dan mengajak tidur.



Jeffrey Toobin juga mengisahkan pelecehan yang dilakukan Trump terhadap Miss Universe 1997 Alicia Machado. “Beberapa kamera mengikuti gerak-gerik Trump yang saat itu mengenakan setelan jas lengkap. Trump menghampiri pusat kebugaran tempat Machado berolahraga. Begitu bertemu sang gadis, Trump mengatakan di hadapan kamera "Inilahcontoh orang yang gemar makan". Tak hanya itu, Trump juga mengolok-olok Machado sebagai "Nona Bersih-Bersih" ("Miss Housekeeping”) hanya karena ia berasal dari Meksiko.

Mulut kotor itulah yang akhirnya membuat kepemimpinan Trump di Miss Universe berakhir. Pada 2015, ia terpaksa menjual seluruh saham miliknya setelah membikin pernyataan publik bahwa semua imigran Meksiko adalah penjahat dan pemerkosa. Pernyataan tersebut membuat NBC, stasiun televisi sekaligus pemilik sebagian saham Miss Universe memutus kerjasama dengan Trump. Setelah Trump gagal menuntut NBC di pengadilan, saham milik presiden AS ke-43 itu akhirnya dibeli oleh agensi pencari bakat WE/IMG.


WE/IMG berusaha memoles citra Miss Universe agar terlihat lebih peka pada isu-isu sosial, menerima transgender, dan merayakan keragaman tubuh perempuan (body positivity).

Tahun lalu, mereka menerima Siera Bearchell sebagai salah satu kontestan Miss Universe. Bentuk tubuh Bearchell terlihat berbeda dari kontestan Miss Universe kebanyakan. Menjelang kompetisi, ia menyatakan bertekad untuk tidak memperkurus tubuhnya yang berisi karena selama ini Bearchell sudah merasa nyaman dengan tubuhnya.

Tahun ini, ajang Miss Universe yang diikuti peserta dari 94 negara menghadirkan perempuan dari berbagai latar belakang sebagai juri kompetisi. Tak ada laki-laki yang duduk di kursi juri. Selain itu, kehadiran kontestan transgender pertama di Miss Universe Angela Ponce juga dianggap sebagai terobosan.

Pada 17 Desember waktu Bangkok, Thailand, kontestan asal Filipina Catriona Gray dinobatkan sebagai Miss Universe 2018. Dalam waktu setahun ke depan, perempuan yang berprofesi sebagai model ini akan menerima gaji bulanan sebagai Miss Universe, memperoleh suplai produk kecantikan, kesehatan, dan aksesoris secara cuma-cuma, didampingi pengarah gaya pribadi, rumah di New York, dan menghadiri berbagai macam acara publik. Dari tampilannya, Catriona Gray masih merepresentasikan ciri-ciri khas pemenang Miss Universe terdahulu.

Ketika Beachell tampil di Miss Universe 2017, ia jadi satu-satunya kontestan bertubuh besar. Tahun ini, Ponce juga satu-satunya transgender di atas panggung. Apakah penerimaan Miss Universe pada kaum transgender dan model berisi sekadar basa-basi? Yang jelas, jalan bagi peserta seperti Ponce atau Bearchell untuk tetap muncul (dan menang) di ajang Miss Universe masih panjang.

Baca juga artikel terkait MISS UNIVERSE 2018 atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight