Puteri Indonesia dan Kisah-Kisah di Balik Kontes Kecantikan

Oleh: Patresia Kirnandita - 11 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Meski memberikan banyak pengalaman berharga, ada pula sisi gelap kontes kecantikan.
tirto.id - Pada Jumat (9/3/2018) malam, Sonia Fergina Citra, perwakilan dari Bangka Belitung, dinobatkan menjadi Puteri Indonesia 2018. Ia sukses mengalahkan 2 grand finalist lain dari Banten dan Kalimantan Barat setelah menjawab pertanyaan terakhir soal relasi dengan ibunya.

Ajang kontes kecantikan tahunan yang digagas oleh pendiri Mustika Ratu, Mooryati Soedibyo ini sudah diadakan sejak tahun 1992. Setelahnya, sejumlah kontes kecantikan serupa bermunculan, beberapa di antaranya ialah Miss Indonesia yang mulai diselenggarakan MNC Group sejak tahun 2005, Miss Earth Indonesia yang diinisiasi sejak 2013 oleh Yayasan El John Indonesia, dan Miss Grand Indonesia yang baru akan dimulai tahun 2018 oleh Yayasan Dharma Ganitra Indonesia.

Kontes-kontes kecantikan yang kian bertambah tidak terlepas dari variasi kontes kecantikan di level internasional, seperti Miss Universe, Miss World, Miss Earth, Miss International, Miss Supranational, Miss Grand International, dan Miss Intercontinental. Pemenang dan finalis dari setiap kontes kecantikan ini diarahkan untuk mengikuti kontes internasional yang berbeda-beda.

Jebolan Puteri Indonesia misalnya, akan mengikuti Miss Universe, Miss International, dan Miss Supranational karena lisensi kontes-kontes kecantikan internasional tersebut dipegang oleh Yayasan Puteri Indonesia. Sementara, juara Miss Indonesia akan melaju ke kontes Miss World. Tidak hanya kontes kecantikan saja yang bertambah dari waktu ke waktu. Beauty camp pun mulai bermunculan untuk memberi pembekalan kepada calon peserta.



Channel NewsAsia menulis, Filipina termasuk negara yang terobsesi dengan kontes kecantikan. Beauty camp yang diadakan selama rata-rata 6 bulan di sana bahkan diikuti pula oleh warga negara asing. Shwe Eain Si (18) misalnya, datang dari Myanmar dan mengikuti pelatihan di Manila sebelum turut berkompetisi di Miss Grand International tahun 2017 di Vietnam.

Di Indonesia, beauty camp juga dibuat oleh alumni Puteri Indonesia, Artika Sari Devi dan Whulandary Herman sejak 2016. Beragam kelas dibuka di camp bernama ArtikaWhulandary ini, mulai dari pageant catwalk, public speaking, kelas pemotretan, sampai kelas tentang pola makan dan hidup sehat.

Kisah Peserta Kontes Kecantikan

Sebagian orang melihat kontes-kontes kecantikan yang ditayangkan di televisi tidak lebih dari sekadar hiburan dan lebih mengedepankan penampilan pada malam final. Namun, Stephany Josephine (30), memaparkan kisah lain saat mewakili Nusa Tenggara Timur dalam ajang Miss Indonesia tahun 2006.

Mulanya, perempuan yang akrab disapa Teppy ini mengikuti kontes kecantikan karena hendak mengukur kemampuan dirinya dalam melewati proses seleksi. Kegandrungan akan dunia modeling dan kegagalan menembus seleksi Gadis Sampul juga mendorong Teppy untuk mendaftar jadi peserta Miss Indonesia.



Selama proses karantina, Teppy mendapat beragam materi, mulai dari koreografi, table manner, hingga kelas kepribadian. Di kelas kepribadian tersebut, peserta Miss Indonesia diajarkan cara menyampaikan pendapat yang baik ketika berada di hadapan publik. Hal terpenting yang Teppy petik saat mengikuti karantina Miss Indonesia ialah tempaan mental.

“Kegiatan sehari-hari kami padat sekali: bangun pukul 5 pagi dan kembali ke kamar pukul 11 malam. Begitu terus selama 10 hari. Latihan koreografi juga sangat menguras tenaga. Kalau kami buat kesalahan di kelas koreografi, kami mesti siap dimarahi di depan peserta lain. Belum lagi mengatasi rasa minder setelah melihat penampilan peserta lain,” kata penulis buku The Freaky Teppy ini.

Teppy juga bercerita betapa beratnya tekanan yang berasal dari keluarga ketika mereka mengetahui dirinya mengikuti kontes Miss Indonesia. “Bokap sempat SMS bilang dia udah saudara-saudara saya untuk vote. Di umur 19 waktu itu, saya merasa belum mampu mengelola tekanan yang datang, jadi gampang panik dan kurang santai. Nggak enak banget rasanya, merasa kalah sebelum bertempur,” ujarnya.



Kendala lain yang dihadapinya adalah kemampuan Bahasa Inggris yang masih kurang. Ini membuatnya kurang lancar dalam menjawab pertanyaan juri sehingga berpengaruh terhadap penilaian berikutnya. Kendati menemukan beragam kesulitan ketika menjalani proses karantina dan malam final, Teppy mengaku ada sejumlah efek positif yang diperolehnya dari kontes kecantikan tersebut.

“Saya mendapat 32 teman baru yang sebagian besar relasi dengan mereka terjaga sampai sekarang, baik sebagai teman main maupun koneksi untuk kepentingan karier. Dari salah satu peserta, saya mendapat tawaran untuk ikut pameran batik di Den Haag, Belanda tahun 2007 selama 10 hari. Sebelum itu, saya nggak pernah pergi ke luar negeri. Dan karena pengalaman di sanalah kemampuan Bahasa Inggris saya jadi maju pesat, bahkan saya juga mendapat teman-teman baru dari Belanda,” papar penggemar traveling ini.

Tempaan mental yang diperoleh semasa mengikuti proses kontes kecantikan membuatnya juga lebih "kebal" ketika ada pendapat negatif soal dirinya. Misalnya, saat salah satu koran daerah yang ia wakili menyebutnya semata “penggembira” dalam malam final Miss Indonesia.

Infografik Kontes Kecantikan


Cerita-Cerita Selepas Kontes Kecantikan

Sebagian peserta mengantongi pengalaman manis dan karier ciamik selepas menjalani kontes kecantikan. Ada yang meneruskan di bidang hiburan, ada pula yang melaju ke ranah politik. Meski demikian, dunia kontes kecantikan tidak terlepas dari sisi gelap. Contohnya, perundungan online dan ancaman pembunuhan yang diterima peserta Miss Italia, Alessia Spagnulo.

Pada Januari 2018 lalu, The Independent memberitakan bahwa Spagnulo mendapat ancaman pembunuhan setelah memilih membawa serta bayinya ketika penjurian baju renang. Ada yang mengatakan dirinya pantas mati karena memublikasikan foto dirinya dengan sang bayi saat kontes. Ada juga yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak wajar dan selayaknya Spagnulo menjadi ibu rumah tangga saja.

Kewajaran yang dirujuk si pemberi komentar bersumber dari kriteria keikutsertaan kontes kecantikan yang tercantum di situs resmi Miss Universe. Di sana dikatakan bahwa peserta tidak boleh berstatus menikah atau sedang mengandung.

Tekanan dari orang-orang sekitar, dapat pula menimbulkan depresi bagi peserta kontes kecantikan. Kaelia Nelson (21), Miss Alliance 2017 yang rencananya menjadi kontestan di ajang Miss Nebraska, ditemukan bunuh diri pada Oktober 2017 di kamar asrama Peru State College setelah mengalami gangguan psikis.

Kisah kelam lain dari dunia kontes kecantikan datang dari Miss Universe 1996 asal Venezuela, Alicia Machado. Saat Machado mengikuti kontes tersebut, Donald Trump baru membeli lisensi Miss Universe. Setelah menyabet predikat ratu sejagad, terjadi peristiwa tak menyenangkan bagi Machado yang dirahasiakannya selama 20 tahun.

Ternyata Trump kala itu sempat mengkritik bobot tubuhnya yang bertambah. Menanggapi hal tersebut, Machado pun berolahraga untuk menurunkan berat badan, dan Trump mendesak untuk mengikutinya selama latihan fisik yang diliput media. Dilansir The New York Times, ketika diikuti itulah Machado dipermalukan karena di depan para reporter, Trump berpose di sebelahnya dan mengatakan, “Inilah orang yang suka makan.”

Karena bobot tubuhnya itu , Machado disebut “Miss Piggy” oleh Trump. Ia juga dilabeli “Miss Housekeeping” karena merupakan seorang latina yang distereotipkan sebagai pekerja domestik di AS.

Pengalaman Machado ini sempat dibawa Hillary Clinton dalam debat calon presiden AS untuk menyerang Trump. Menyikapi hal ini, Trump membeberkan sisi lain Machado yang dianggapnya sebagai seorang perempuan bermasalah.

Los Angeles Times menulis, Trump mengklaim Machado sempat mengancam hidup seorang hakim setelah ia dituduh mengasistensi pembunuhan oleh pacar sang Miss Universe. Namun, Machado menepis tuduhan tersebut dan kriminalisasi terhadapnya tidak diteruskan.

Baca juga artikel terkait KONTES KECANTIKAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nuran Wibisono