Menuju konten utama

Transaksi Business Matching UMKM Capai Rp1,46 T Hingga Juli 2025

Program business matching UMKM yang diinisiasi oleh Kemendag tercatat bisa menghasilkan transaksi USD 90,04 juta selama periode Januari-Juli 2025. 

Transaksi Business Matching UMKM Capai Rp1,46 T Hingga Juli 2025
Gedung kantor Kementerian Perdagangan RI. (FOTO/dok. Kemendag)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Selama tujuh bulan berjalan, program temu bisnis (business matching) untuk ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang digagas Kementerian Perdagangan berhasil membukukan total transaksi senilai USD 90,04 juta atau sekitar Rp1,46 triliun. Angka ini terdiri dari pesanan pembelian (purchase order/PO) sebesar USD 55,09 juta dan potensi transaksi sebesar USD 34,95 juta. Business matching tersebut menjadi bagian dari Program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor).

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa Kemendag berkomitmen memperkuat kontribusi UMKM di kancah perdagangan internasional. Program UMKM BISA Ekspor terus dijalankan sebagai strategi mempertemukan pelaku UMKM Indonesia dengan calon pembeli dari luar negeri secara langsung dan tepat sasaran.

"Untuk Januari—Juli 2025, total transaksi business matching dalam program UMKM BISA Ekspor telah menembus USD 90,04 juta. Kemendag terus berkomitmen membuka akses pasar ekspor seluas-luasnya bagi produk UMKM. Business matching menjadi jembatan penting agar pelaku UMKM tidak sebatas mengenal pasar global, tetapi juga mampu mencatatkan transaksi yang nyata dengan buyer luar negeri," kata Puntodewi.

Selama periode Januari—Juli 2025, Kemendag bersama dengan 46 perwakilan perdagangan (perwadag) RI di 33 negara mitra dagang telah memfasilitasi 410 kegiatan business matching yang melibatkan 773 UMKM berbeda. Agenda tersebut terdiri atas 268 sesi kurasi produk (pitching) dan 142 pertemuan langsung antara pelaku UMKM dan pembeli potensial di negara tujuan ekspor.

Khusus pada bulan Juli 2025, nilai transaksi business matching tercatat USD 2,99 juta yang terdiri atas PO senilai USD 2,39 juta dan potensi transaksi sebesar USD 600 ribu. Terdapat 45 kegiatan business matching yang mencakup 27 pitching dan 18 pertemuan dengan buyer, dengan produk meliputi ikan bandeng, minyak sawit, telur, permen dan makanan manis (confectionery), kosmetik, kopi, dekorasi rumah, kertas, serta makanan dan minuman olahan lainnya.

Kemendag juga mendapatkan sokongan dari 15 pembina UMKM pada Juli 2025. Sejumlah pembina itu mendampingi dan merekomendasikan UMKM binaan mereka untuk bergabung dalam business matching UMKM BISA Ekspor. Para pembina tersebut adalah Pasar Digital UMKM (PaDi), Bank Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, Bank Syariah Indonesia, Pertamina, Bank Jatim, dan beberapa Export Center. Pada periode yang sama, telah dimulai pula pitching bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bangka Belitung.

Puntodewi menambahkan, Kemendag bertekad memperluas jangkauan business matching dengan metode inovatif dan kolaboratif sehingga bisa melibatkan lebih banyak pelaku usaha dan buyer potensial di masa depan.

“Keberlanjutan komitmen pelaksanaan business matching khusus bagi eksportir perempuan juga turut membuktikan dukungan Kemendag bagi peningkatan peran perempuan dalam perdagangan internasional,” ujar Puntodewi.

Cara Ikut Program UMKM BISA Ekspor

Puntodewi menjelaskan program UMKM BISA Ekspor terbuka bagi semua pelaku UMKM di Indonesia, baik yang sudah berorientasi ekspor maupun yang baru ingin mencoba peluang di pasar luar negeri.

Untuk bisa ikut serta dalam UMKM BISA Ekspor, peserta diharapkan telah memiliki legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Perusahaan. Selain itu, pelaku UMKM perlu memiliki dokumen pendukung seperti sertifikasi yang relevan sesuai karakteristik produknya, kapasitas produksi yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar, serta penggunaan kemasan produk yang memenuhi standar ekspor.

Selain melalui Pembina UMKM, peminat program ini juga bisa mendaftar secara mandiri via kanal daring. Pendaftaran program UMKM BISA Ekspor dapat dilakukan melalui platform InaExport di tautan berikut: https://www.inaexport.id/.

"Kami optimistis" dengan pendekatan yang adaptif dan berbasis kebutuhan pasar, UMKM Indonesia akan semakin siap bersaing di pasar global,” kata Puntodewi.

Sebagai informasi, nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Januari—Juni 2025 mencapai USD 128,39 miliar. Angka ini naik 8,96 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (YoY).

Produk ekspor non-migas utama Indonesia itu meliputi minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya (HS 15) senilai USD 15,89 miliar (pangsa 12,37 persen), batu bara (HS 27) USD 15,33 miliar (11,94 persen), serta besi dan baja (HS 72) USD 13,79 miliar (10,74 persen).

Adapun tiga negara tujuan ekspor utama adalah Tiongkok dengan nilai USD 29,31 miliar (pangsa 22,83 persen), Amerika Serikat USD 14,79 miliar (11,52 persen), dan India USD 8,97 miliar (6,99 persen).

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis