tirto.id - Sejumlah tokoh mengenang sepak terjang ekonom Kwik Kian Gie (KKG) sebelum meninggal, Senin (28/7/2025).
Politikus senior PDI Perjuangan (PDIP), Andreas Hugo Pareira, mengenang Kwik Kian Gie (KKG) sebagai sosok yang kritis melalui karya-karya tulisannya pada sekitar era tahun 1980.
Andreas menyoroti peran Kwik sebagai intelektual yang dengan berani melemparkan kritik pada masa era Orde Baru, yakni pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto.
“Ketika itu tidak banyak ekonom yang berani secara terbuka mengkritik pemerintah Soeharto. KKG dengan bahasanya yang lugas mengkritik dan mengajarkan kepada bangsa ini membangun negara dengan dedikasi dan integritas. Saya masih ingat salah satu tulisan KKG di opini Kompas ‘Seandainya Aku Konglomerat’,” ujar Andreas dalam keterangan resmi, Selasa (29/7/2025).
Menurut Andreas, selain kritis, artikel yang ditulis Kwik Kian Gie tersebut juga tajam dan menyentuh inti persoalan ekonomi politik Indonesia di masa itu, dan nampaknya masih relevan dengan saat ini. Selain itu, dia mengapresiasi Kwik Kian Gie sebagai orang yang berjasa dalam dunia pendidikan.
“Ketika beliau bersama teman-temannya mendirikan Institut Prasetya Mulya, Institut Ilmu Bisnis Indonesia. Di masa reformasi KKG dengan caranya mengkritik ekonomi Orde Baru yang mulai runtuh di akhir dekade 90-an,” terangnya.
Tak hanya itu, Andreas juga memuji hasil analisis dari Kwik Kian Gie yang pernah menyebut bahwa ekonomi Indonesia tak akan runtuh seandainya Soeharto pada masa itu masih melaksanakan pidatonya.
“Nampaknya, peringatan dari KKG masih tetap aktual untuk mengenang KKG dan merefleksikan situasi Indonesia saat ini. Selamat jalan pak Kwik. Beristirahatlah dalam damai,” ucap Andreas.
Selain Andreas, Rektor Paramadina, Didik J. Rachbini, juga mengenang tokoh Kwik Kian Gie sebagai sosok intelektual dan hebat serta berpemikiran tajam.
“Kita kehilangan tokoh dan ekonom hebat, yang peranannya besar untuk koreksi dan check and balances bagi kebijakan ekonomi. Ini beberapa komentar saya atas kepergian Kwik Kian Gie,” kata Didik dalam keterangan resmi.
Menurut Didik, Kwik Kian Gie sangat vokal dan berpengaruh sebagai ekonom intelektual tahun 1980-an. Menurutnya, pada masa itu, masih sedikit kelompok terpelajar. Namun, Kwik sudah menyelesaikan pendidikannya di universitas ternama di dunia, yaitu Nederlandse Economische Hogeschool di Rotterdam (sekarang Erasmus University).
“Karena itu, pemikirannya dan terutama kritik tentang di media massa sangat di dengar dan berpengaruh,” jelasnya.
“Pada tahun 1990-an semakin banyak golongan terpelajar dalam bidang ekonomi dan politik. Tetapi mereka semua berkumpul di pemerintahan Orde Baru. Tetapi tidak bagi Kwik Kian Gie, ia tetap berada di luar menjalankan peran check and balances secara tidak formal untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan ekonomi,” imbuhnya
Kemudian, menurut Didik, pada masa itu, muncul lah Kelompok Ekonomi 30, yang rajin memberikan pemikiran dan kritik di media massa, seperti Kwik Kian Gie sendiri, Sjahrir, Rizal Ramli, Dorodjatun, Hendra Esmara, Nuriman Hasibuan, Rijanto, dan Didik Rachbini.
Didik memandang bahwa Kwik Kian Gie merupakan seorang ekonom yang memiliki pemikiran tajam dan Independen. Tak hanya itu, Kwik Kian Gie juga memiliki keberanian besar dalam mengungkapkan keberanian.
“Kwik adalah salah satu ekonom dan tokoh publik Indonesia yang memiliki perjalanan karir dan pemikiran yang tajam, independen, serta kritis baik pada masa Orde Baru dan bahkan berlanjut pada masa Reformasi. Ia dikenal sebagai figur intelektual yang berani menyuarakan kebenaran, bahkan jika itu berarti harus berseberangan dengan kekuasaan,” ucapnya.
Diketahui, Kwik sempat menjabat pada masa reformasi sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (1999-2000) dalam Kabinet Persatuan Nasional di bawah Presiden Abdurrahman Wahid serta Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri (2001) pada era Presiden Megawati Soekarnoputri.
Lebih lanjut, Didik menilai pandangan serta pemikiran Kwik Kian Gie masih relevan hingga saat ini. Dia pun berharap pemikiran Kwik Kian Gie bisa dijadikan acuan mengenai pentingnya kedaulatan ekonomi Indonesia.
“Apa warisan pemikiran Kwik Kian Gie? Pemikirannya relevan sampai saat ini, yaitu tentang pentingnya kedaulatan ekonomi. Ini yang selalu disuarakan jangan bergantung kepada IMF dan utang agar tidak disubordinasi secara politik oleh kekuatan asing dan barat,” terangnya.
“Karena itu harus ada kewaspadaan terhadap jebakan utang luar negeri. Kritik terhadap oligarki ekonomi-politik dan sempat heboh dengan mengkritik konglomerat hitam, yang tergantung kepada lisensi negara tetapi merugikan rakyat,” pungkas Didik.
Selain itu, Kwik pernah memandang bahwa BUMN adalah separuh ekonomi bangsa dan instrumental. Karena itu, penting untuk menjaga BUMN dan aset strategis bangsa.
“Apa relevansinya dengan kondisi sekarang, Danantara tidak boleh gagal,” tutur Didik.
Mantan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri sekaligus Ekonom, Kwik Kian Gie, meninggal dunia pada usia 90 tahun, Senin (28/7/2025) malam. Hal ini disampaikan oleh mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno melalui unggahan Instagram pribadinya pada Senin (28/7/2025) malam.
"Selamat jalan, Pak Kwik Kian Gie. Ekonom, pendidik, nasionalis sejati. Mentor yang tak pernah lelah memperjuangkan kebenaran. Yang berdiri tegak di tengah badai, demi kepentingan rakyat dan negeri. Indonesia berduka," demikian unggahan Sandiaga Uno sebagaimana dikutip Antara, Selasa (29/7/2025).
Kwik Kian Gie lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1935. la adalah seorang ahli ekonomi dan politikus Indonesia keturunan Tionghoa.
Semasa aktif di pemerintahan, Kwik menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1999-2000) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas (2001-2004).
Kwik merupakan fungsionaris PDI-Perjuangan. Selain itu, sebagai bentuk pengabdian di dunia pendidikan Indonesia, ia mendirikan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id































