Tips Memilih Alat Kontrasepsi dari BKKBN, Apa yang Aman Dipakai?

Oleh: Sarah Rahma Agustin - 28 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
BKKBN merilis tips dan cara memilih alat kontrasepsi yang tepat untuk pasangan suami istri.
tirto.id - Suami istri harus melakukan perencanaan yang matang bila ingin menambah momongan. Sebab, perencanaan itu diperlukan untuk menentukan jarak kehamilan. Selain itu, ibu juga perlu menyiapkan kondisi tubuh agar anak tumbuh maksimal.

Salah satu cara untuk menjaga jarak kehamilan ialah dengan menggunakan alat kontrasepsi. Berdasarkan jangka waktu, alat kontrasepsi terbagi dua yakni, temporal dan permanen.

Alat kontrasepsi temporal bisa dihentikan saat Anda menginginkan memiliki momongan. Adapun yang termasuk alat kontrasepsi temporal yaitu pil KB, suntik KB, implant, dan IUD (Intra Uterine Device). Sedangkan alat kontrasepsi permanen adalah tindakan sterilisasi agar seseorang tidak dapat melakukan pembuahan.

Perlu diketahui, apa pun pilihan alat kontrasepsi Anda, akan memberikan reaksi dan memiliki efek samping berbeda pada setiap orang. Diskusikan pada bidan atau dokter terkait alat kontrasepsi apa yang tepat untuk tubuh Anda. Riwayat kesehatan dan usia juga dapat mempengaruhi efek samping penggunaan metode kontrasepsi.

Sebagaimana dilansir laman Siap Nikah, situs yang diterbitkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), berikut beberapa tips memilih alat kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan.


Pil KB

Pil KB mengandung hormon progesteron dan kombinasi progesteron-estrogen. Penggunaan kontrasepsi Pil KB pada perempuan cenderung efektif untuk menunda kehamilan. Jika tak diminum, kesuburan akan segera kembali. Anda harus meminumnya setiap hari dan tidak boleh terlewat sekalipun.

Pil KB memiliki beberapa efek samping tergantung pada penerimaan tubuh. Efek samping tersebut di antaranya dapat meningkatkan risiko darah tinggi dan penyakit kardiovaskular, berat badan meningkat, mengganggu produksi ASI, pendarahan tiba-tiba di luar jadwal menstruasi, rasa mual, sakit kepala, rasa tidak nyaman pada payudara, serta gairah seks menurun.

Bagi pengantin baru, metode kontrasepsi ini sangat tepat untuk menunda kehamilan. Selain cepat mengembalikan kesuburan, pengantin baru tak perlu terlalu lama menunggu karena jangka waktu pil KB hanya sehari dalam sekali minum.


Suntik KB

Penggunaan suntik KB dapat menunda kehamilan selama 1- 3 bulan. Selain murah, metode ini juga cukup efektif. Namun, ada beberapa efek samping yang perlu diperhatikan oleh perempuan, seperti rasa mual, meningkatkan berat badan, gairah seks menurun, pendarahan di luar jadwal menstruasi atau bahkan tidak menstruasi sama sekali, sakit kepala, dan jerawatan.


Implant, norplant atau susuk

Alat kontrasepsi ini seukuran batang korek api yang dimasukkan ke bagian bawah kulit perempuan, umumnya pada lengan bagian atas. Dalam satu kali penggunaan, implant memiliki jangka waktu pencegahan kehamilan selama 3 tahun.

Harga implant relatif lebih mahal dibandingkan menggunakan pil atau suntik KB. Perlu diketahui, kontrasepsi jenis ini tidak mengganggu produksi ASI. Namun, implant memiliki efek samping bagi tubuh, seperti rasa nyeri di bagian tempat implant ditanam, menstruasi tidak teratur, meningkatkan berat badan.

Butuh waktu cukup lama untuk persiapan hamil kembali setelah implant dilepas. Pasangan berusia 20-35 tahun dan ingin menunda kehamilan dapat memilih metode ini karena tak berpengaruh pada ASI.


IUD atau spiral

Kontrasepsi ini diletakkan di dalam rahim untuk menghadang sel sperma menembus sel telur. Spiral tembaga dapat bertahan selama 10 tahun, sedangkan spiral yang mengandung hormon dapat bertahan selama 5 tahun.

Efek samping dari kontrasepsi ini adalah keram perut atau rasa sakit pada bagian bawah perut, pendarahan yang cukup banyak saat menstruasi atau bahkan menstruasi tidak teratur, dapat lepas atau bergeser (jika lepas biasanya akan keluar bersama darah haid), bisa terjadi infeksi jika tubuh menolak keberadaan IUD.

Bagi pasangan berusia 20-35 tahun dan ingin menunda kehamilan, kontrasepsi spiral dapat menjadi pilihan, mengingat jarak kehamilan yang cukup ideal yakni 3-5 tahun. Selain itu, penggunaan spiral tidak berdampak pada keluarnya ASI sehingga tidak mengganggu jika Anda hamil setelah melepas spiral.


Vasektomi

Jenis kontrasepsi ini memerlukan peran aktif suami untuk menghentikan aliran sperma dengan cara menutup saluran vas deferens. Vasektomi memerlukan tindakan medis atau operasi dan bersifat permanen. Kontrasepsi ini tidak menyebabkan ejakulasi, menurunkan gairah seks, atau kemampuan ereksi.

Pilihan kontrasepsi ini memiliki efek samping pada tubuh, seperti terdapat darah di dalam air mani, memar pada testis beberapa bulan setelah operasi, pendarahan atau pembekuan darah pada area testis, infeksi setelah operasi, perasaan tidak nyaman usai operasi.


Tubektomi

Tindakan KB ini bersifat permanen atau sterilisasi pada perempuan, dengan cara memotong atau menutup tuba falopi sehingga sel telur tidak masuk ke dalam rahim dan menghalangi sperma untuk masuk ke dalam tuba falopi.

Tubektomi memerlukan tindakan medis atau operasi, namun tidak mempengaruhi gairah seks atau pun menopause. Selain itu, perempuan mengalami nyeri pada panggul atau perut, infeksi setelah operasi, pendarahan, komplikasi, beberapa orang juga dapat mengalami hamil ektopik.

Tubektomi dan vasektomi menjadi pilihan tepat untuk pasangan yang memilih tidak memiliki pasangan secara permanen.

Selain alat kontrasepsi d iatas, pencegahan kehamilan juga dapat dilakukan secara alami tanpa alat atau pun hormon. Hubungan seksual yang terputus dapat mencegah terjadinya kehamilan yakni dengan mengeluarkan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Selain itu, hindari hubungan seksual saat masa subur. Cara ini tidak ada efek samping yang berarti namun tingkat kegagalannya cukup tinggi.


Baca juga artikel terkait KONTRASEPSI atau tulisan menarik lainnya Sarah Rahma Agustin
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight