10 Maret 1965

Teror Bom di Singapura dalam Pusaran Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Oleh: Tyson Tirta - 10 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
Ledakan bom di gedung MacDonald House pada 1965 memperburuk hubungan Indonesia dengan Singapura.
tirto.id - Petang hari tanggal 10 Maret 1965, tepat hari ini 56 tahun lalu, sebuah tas travel seberat 12,5 kilogram meledak di Orchard Road, Singapura. Kawasan sipil yang menjadi pusat bisnis itu seketika gempar.

Teror bom itu rupanya aksi salah sasaran. Perintah dalam operasi adalah meledakkan sebuah rumah tenaga listrik.

“Yang dibom ternyata bukan target semula, melainkan gedung Hong Kong and Shanghai Bank atau MacDonald House di Orchard Road, Central Area, Singapura,” tulis Gretchen Liu dalam bukunya The Singapore Foreign Service: the first 40 years (2005:83)

Gedung bank yang dibangun pada 1949 itu adalah gedung yang prestisius. Berlokasi di kawasan padat dan di dalamnya terdapat banyak warga sipil, MacDonald House menjadi sasaran empuk untuk aksi teror.

Tiap hari, banyak warga Singapura yang lalu-lalang di depan gedung, sementara sekitar 150 pegawai bank bekerja di dalamnya. Tak heran, ledakan dahsyat itu menyebabkan tiga orang tewas seketika dan 33 lainnya luka-luka. Korban tewas adalah dua pegawai bank dan seorang supir.

Aksi teror itu langsung mengundang perhatian pemerintah Singapura. Apalagi hubungan antarnegara di kawasan Asia Tenggara tengah bergejolak akibat konfrontasi Indonesia-Malaysia dan kampanye "Ganyang Malaysia" yang diserukan Presiden Sukarno.

Kebencian Sukarno kepada Federasi Malaya yang ia anggap sebagai bentuk imprealisme baru diungkapkannya dengan seruan “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”. Dan posisi Singapura yang kala itu jadi bagian dari Federasi Malaya sangat penting. Oleh karena itu, sejumlah sumber mengatakan bahwa gedung itu memang sejak awal dijadikan sasaran ledakan karena dianggap simbol kekuasaan dan pengaruh Inggris di Singapura. Maklum, Malcolm MacDonald adalah salah satu pencetus dibentuknya poros Singapura-Sabah-Sarawak yang merupakan inti dari Federasi Malaya.


Selang tiga hari setelah ledakan, dua orang Indonesia yang merupakan anggota Marinir, Usman Janatin dan Harun Thohir, ditangkap dan menjadi tersangka. Sementara satu orang lagi yang bernama Gani bin Arup berhasil melarikan diri.

Dokumen militer resmi menyatakan bahwa misi mereka adalah melakukan sabotase perlengkapan dan instalasi milik Singapura. Dalam penyelidikan, diketahui mereka bertiga menyamar sebagai pemasok barang dagangan ke Malaysia dan Singapura. Penyamaran ini sekaligus untuk mempelajari sasaran yang akan diledakkan dan memastikan jalur untuk melarikan diri. Subuh tanggal 9 Maret 1965 mereka berhasil menyusup lewat pantai dan langsung menuju pusat kota Singapura.

Di lokasi ledakan, Yeo Suan Kim, seorang mahasiswa Teologi berusia 23 tahun yang merupakan salah satu korban, sedang melintas menuju halte bus di depan MacDonald House ketika ia melihat tas kanvas dengan logo Malayan Airways diletakkan di lantai mezanin. Dan tanggal 10 sore sekitar pukul 15.07 ledakan pun terjadi.

Charles Tan, seorang reporter kriminal yang bekerja untuk media cetak Sin Chew Jit Poh, tengah berada di beberapa blok dari lokasi ledakan. Ia sedang melakukan pengumpulan data di kantor polisi Orchard Road. Pekerjaannya hari itu baru setengah jadi ketika bom meledak.

“Saya sedang menulis. Tiba-tiba entah kenapa banyak polisi yang mendadak dipanggil untuk bertugas. Mereka langsung mengambil senjata dan masuk ke mobil polisi dan berangkat,” ungkapnya.

Ia pun penasaran dan bergegas mengikuti rombongan polisi. Sesampainya di lokasi, ia kaget melihat sebagian orang berteriak sambil berlari menjauh. Namun di sekitarnya, sebagian lagi justru berdatangan dan berkerumun penasaran. Sambil berusaha memahami situasi, Charles melihat jendela gedung MacDonald House dan kaca sejumlah mobil yang pecah berhamburan.

Rangkaian Teror Bom

Peristiwa itu bukan satu-satunya aksi teror bom yang terjadi di Singapura. Dua tahun sebelumnya, pada 24 September 1963, bom juga meledak di Katong Park. Meski tidak ada korban luka, bom tersebut menandai dimulainya skema konfrontasi kawasan Asia Tenggara. Setelah ledakan itu, beberapa ledakan kecil lain terjadi di mana-mana di penjuru negeri. Polisi Singapura yang melakukan razia menemukan beberapa bahan peledak yang gagal diledakkan. Bahkan, ada bahan peledak yang ditemukan di atas sebuah sampan di daerah Pasir Panjang.

Pemerintah Singapura kemudian membentuk barisan Vigilante Corps untuk membantu polisi dan resimen infanteri. Korps ini merupakan kumpulan 10 ribu orang sukarelawan pemuda Singapura yang terlatih untuk menjaga keamanan sekaligus menjadi barisan pelindung dalam menghadapi aksi-aksi militer asing. Sebuah poster penyemangat yang mereka edarkan menuliskan “You too can help him crush the enemy”. Namun, mereka tetap kecolongan. Dan dari rangkaian teror bom sebelumnya, bom yang meledak di MacDonald House adalah yang paling besar.

Infografik Mozaik Pengeboman MacDonald House
Infografik Mozaik Pengeboman MacDonald House. tirto.id/Sabit


Secara politik, Usman dan Harun hanya mengikuti perintah dari Jakarta. Setelah merdeka dari Belanda, Sukarno memutuskan untuk menertibkan wilayah teritorial negara barunya. Ketika Federasi Malaya dibentuk, Sukarno jelas tidak senang. Ia terang-terangan menuduh mereka bagian dari skema terencana antek imperialisme Inggris.


Bilveer Singh, ahli ilmu politik di National University of Singapore menganalisis latar belakang konfrontasi Indonesia-Malaysia.

“Belanda sudah berhasil diusir. Sukarno sudah menjadi presiden selama dua dekade. Ia mulai tua, sakit, dan pihak militer Indonesia semakin lebih kuat dari presidennya. Oleh karena itu, Sukarno perlu musuh yang bisa mempersatukan rakyatnya,” kata Singh dalam wawancaranya dengan Channel News Asia.

Dengan latar belakang itulah aksi-aksi militer dijalankan. Bagi Usman, Harun, dan Gani, aksi bom adalah tugas negara yang wajib dikerjakan dengan maksimal. Tetapi bagi Singapura, peledakan bom di MacDonald House adalah teror bom paling besar yang pernah terjadi dalam sejarah negaranya. Usman dan Harun yang tertangkap kemudian dijatuhi hukuman mati.

Pada 17 Oktober 1968, kedua marinir itu akhirnya menjalani hukumnan gantung. Setelah keadaan politik mulai stabil, tepatnya pada Mei 1973, Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew menyempatkan diri menabur bunga di kuburan mereka ketika ia berkunjung ke Jakarta.

Baca juga artikel terkait PEMBOMAN atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Politik)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh
DarkLight