Tentang Jambak-jambakan dan Cakar-Cakaran Perempuan

Ilustrasi perkelahian perempuan. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Aulia Adam - 18 Mei 2017
Dibaca Normal 3 menit
Diskriminasi di balik “jambak-jambakan, cakar-cakaran, dan perkelahian adu fisik jarak dekat” para perempuan.
Sebuah video perkelahian dua orang perempuan di atas kereta rel listrik (KRL) jurusan Jabodetabek viral. Dalam video berdurasi 1 menit 11 detik itu, kita tak bisa melihat jelas tampang kedua perempuan yang terlibat konflik. Tapi di dalamnya kita bisa melihat betapa sesak gerbong tempat mereka berkelahi, dan mendengar bagaimana perempuan-perempuan lain berteriak berusaha meredakan ketegangan itu. Ya, mereka berkelahi di dalam gerbong KRL khusus perempuan.

Menurut Humas PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunisa, percekcokan itu terjadi karena salah paham tentang kursi di dalam gerbong. Ia menduga kedua perempuan itu bersinggungan soal tempat duduk: sebuah hal yang biasa terjadi antara para komuter.

Dalam video viral itu, kedua wanita tersebut terlihat saling menjambak rambut untuk waktu yang lama. Kepala keduanya saling beradu, tak menyisakan jarak di antara tubuh mereka. Selain tangan yang konsisten saling menarik rambut lawan, kaki keduanya terlihat menendang-nendang udara untuk menyakiti lawan sekalian membuat jarak.

Memang tak ada salto atau jurus-jurus silat bernama binatang-binatang garang yang dipertontonkan, tapi jika ada yang bertanya apakah perkelahian itu membuat sakit? Jawabannya, tentu saja iya!

Pertarungan jarak dekat itu sama mematikannya dengan pertarungan tangan kosong Sun Go Kong dan Dewa Airlangga, kalau tak segera dipisahkan. Dampaknya bisa serius: kulit kepala salah satu di antara mereka bisa saja luka; kalau tidak, lubang giwang di telinga salah satunya bisa pula robek karena ditarik lawan. Atau muka keduanya bisa saja lecet-lecet karena terkena cakaran kuku. Itu hitungan beruntung, kalau cakaran kukunya tidak menggores mata.

Perkelahian jarak dekat demikian biasa kita saksikan jika sepasang perempuan sedang berseteru adu fisik. Dalam bahasa Inggris, perkelahian antara perempuan bahkan punya satu kata sendiri yang menggambarkannya, yaitu: catfight.

Pada kamus Oxford, catfight berarti perkelahian antar-perempuan. Mereka menggunakan terminologi ini untuk menggambarkan perseteruan khusus untuk wanita dalam percakapan sehari-hari. Tapi, mengapa perkelahian antar-perempuan harus punya terminologi sendiri? Mengapa pula diasosiasikan dengan kucing pula?

Perkelahian antar-perempuan diasosiasikan dengan perkelahian kucing karena binatang tersebut distereotipkan sebagai binatang feminin. Hayley Gleeson dari ABC menyebut, setidaknya sejak abad ke-19, ia telah mengamati bahwa di antara para penutur bahasa Inggris, kucing-kucing sudah dilekatkan dengan para wanita dan feminin, sementara anjing digeneralisasikan sebagai sahabat manusia dan lambang maskulinitas.

Ditambahkannya, pada masa awal abad ke-20, ilustrasi-ilustrasi kucing berpakaian sebagai perempuan digunakan orang-orang Amerika Serikat dalam propaganda anti-hak pilih untuk melukiskan hak politik perempuan adalah sebuah kekonyolan, sekaligus jadi simbol untuk menurunkan derajat gerakan mereka—para wanita AS yang dahulu kala tak boleh ikut pemilu. Kucing-kucing, seperti perempuan, dianggap sepele, tak mampu dan tak layak dalam hal-hal serius.

Oxford sendiri mengutip kata catfight dari puisi pujangga Ebenezer Mack, 1824. Feminis Rachel Reinke, dalam bukunya studinya berjudul Catfight: A Feminist Analysis, mengungkap konteks ketika Oxford menyerap kata tersebut. Ia menulis, bahwa istilah “catfight” berkembang dari sistem poligami yang tumbuh pada era tersebut. Perkelahian dua orang wanita beragama Mormon tentang suami mereka jadi tontonan unik kala itu. Sehingga sering diucapkan sehari-hari. Oxford kemudian sempat mendefinisikan catfight sebagai “perkelahian ganas; spesifikasi dilakukan oleh perempuan, berkelahi seperti kucing, khususnya dengan mencakar, menjambak rambut, dan menggigit.”

Perkelahian antar-perempuan memang biasanya dilakukan dari jarak dekat dengan manuver: menjambak rambut, mencakar, menampar, dan merobek pakaian. Mirip kucing yang berkelahi. Suara ribut yang muncul juga mirip ketika kita melihat kucing cakar-cakaran.

Menurut Phillip Herbst dalam buku Wimmin, Wimps, and Waterflower, sebuah kamus ensiklopedi yang merangkum kata-kata bias gender dan orientasi seksual di Amerika Serikat, kata “kucing” memang berkonotasi negatif. Secara orisinalnya, “cat” alias kucing dipakai sebagai kata untuk merendahkan laki-laki dan perempuan, namun akhirnya dirujuk sebagai lambang feminin yang lebih akrab dengan wanita. Kata “kucing” akhirnya merujuk perempuan yang bersifat lembek, atau cabul, atau yang dianggap dengki, pemfitnah, atau jahat.

Tak hanya istilah catfight yang jadi turunan kata kucing, lenggak-lenggok peragawati juga disebut catwalk.

Tak hanya Phillip Herbst yang menganggap terminologi ini sebagai kata yang bias gender. Rachel Reinke juga beropini serupa. Menurutnya perkelahian jarak dekat perempuan tersebut adalah buah dari norma sosial yang menganggap perempuan tabu untuk berkelahi. Sehingga kebanyakan perempuan tidak paham jurus-jurus berkelahi adu fisik yang bisa membuat mereka lebih selamat, selain perkelahian jarak dekat.

“Tak seperti perkelahian antar-lelaki, perkelahian antar-perempuan dianggap sebagai ihwal lucu-lucuan yang menghibur. Catfights lebih dikarakterisasi sebagai humor ketimbang tindakan gagah berani,” tulis Reinke.



Kehadiran istilah catfight akhirnya memberi dampak lain: perempuan seringkali dianggap bukan lawan seimbang dalam sebuah perkelahian sesungguhnya. Budaya patriarki yang menjunjung konsep maskulin dan feminin juga turut berperan mengerdilkan kemampuan perempuan dalam aksi bela diri. Para pria dajari sikap-sikap dasar untuk bertarung, misalnya berkuda-kuda dengan jarak yang cukup agar bisa melakukan serangan yang baik. Sementara perempuan ditabukan mempelajari hal yang sama, dan terus dilambung-lambungkan dengan konsep feminin.

Reinke juga menulis diskriminasi lain yang sebenarnya muncul dalam istilah catfight. Seringkali, catfight adalah hiburan seksual bagi pria-pria heteroseksual. Misalnya pariwara Miller Lite, perusahaan minuman beralkohol, pernah menggunakan konsep catfight. Di dalamnya dua orang wanita berbikini berkelahi di pinggir kolam renang, kemudian berciuman di ujung perkelahian mereka. Rupanya adegan tegang itu hanya bayangan seorang pria yang sedang minum bir di sebuah bar.

“Fenomena catfight sebagai hiburan erotis bagi laki-laki straight didokumentasikan secara luas lewat internet, televisi, film, bahkan film porno sendiri,” ungkap Reinke.

Selain cuma dinilai sebagai hiburan, perbuatan sepele dan cemen, University of British Colombia juga mengeluarkan temuan studi yang menyebutkan bahwa perkelahian antar-perempuan lebih dipandang negatif ketimbang perkelahian antar-lelaki.

Di Indonesia sendiri, memang hampir tidak ada kosakata khusus yang membedakan perkelahian perempuan dan laki-laki. Namun sejumlah istilah yang digunakan dalam bahasa sehari-hari seperti “jambak-jambakan” atau“cakar-cakaran” juga punya nasib serupa catfight: dianggap sepele, cemen, hiburan, dan lebih negatif dari pertarungan maskulin antar-lelaki.

Belum lagi, Indonesia bukan negara yang punya banyak warga menganut feminisme secara kafah. Terbukti dari sejumlah produk konstitusinya, dan norma-norma sosial yang berlaku. Banyak konstruksi-kontruksi sosialnya yang masih merendahkan kemampuan perempuan, termasuk saat berkelahi atau membela diri.

Padahal belum tentu laki-laki selalu menang, jika perempuan mendapat kesempatan yang sama mengakses ilmu bela diri tanpa harus dilabeli tomboy, atau tidak elegan.

Baca juga artikel terkait GERBONG PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight