Teka-teki Sumber Penularan Corona Ratusan Nakes di Yogyakarta

Oleh: Irwan Syambudi - 3 September 2020
Dibaca Normal 6 menit
Ratusan tenaga kesehatan di Yogyakarta positif terpapar Corona. Sampai sekarang belum jelas bagaimana mereka bisa terpapar.
tirto.id - Ratusan petugas kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tertular COVID-19 selama masa pandemi enam bulan terakhir. Sebagian dari mereka meyakini terpapar saat sedang bertugas, namun otoritas setempat menyebut tempat kerja bukan faktor utama. Sumber penyakit pun jadi teka-teki.

Salah satu yang tertular adalah Siti Mulyani, perawat di Puskesmas Kasihan II, Bantul, Yogyakarta. Rutinitasnya hanya di rumah dan puskesmas, yang secara administratif melayani 54 ribu jiwa di dua desa.

Siti punya asma, penyakit yang membuat penderitanya berisiko mengalami COVID-19 dengan gejala yang lebih berat. Tidak heran jika di puskesmas ia dikenal sebagai salah satu pekerja yang paling ketat menerapkan protokol kesehatan. Ia beli sendiri hazmat yang kedap udara, angin, dan lebih tebal karena menilai Alat Pelindung Diri (APD) pemberian pemerintah tidak cukup. Masker yang dipakai ia rangkap hingga tujuh lapis, pun demikian dengan baju, minimal dua rangkap.

“Berat saya sampai turun tiga kilogram karena seperti sauna,” Siti bercerita kepada tim kolaborasi Tirto, Tempo, Harian Kompas, Gatra, dan Harian Jogja awal Agustus lalu.

Kedisiplinan Siti bahkan sampai hal-hal kecil. Saat terima uang ia harus cuci dulu dengan deterjen. Belanja ke swalayan pun ia tak berani.

Pada Kamis 30 Juli lalu, sehari sebelum Iduladha, ia sengaja berangkat kerja mengenakan baju merah. “Agar semangat dan imun naik,” katanya. Waktu itu ia sedang berpuasa sunah.

Pada siang hari Kepala Puskesmas Elmi Yudihapsari mengumpulkan seluruh pekerja di aula untuk mengumumkan hasil tes polymerase chain reaction (PCR) terhadap 17 orang. 15 nama disebutkan. Siti mengira nama-nama yang disebut itu adalah yang dinyatakan negatif, namun ternyata sebaliknya.


Siti Mulyani
Siti Mulyani (47) perawat Puskesmas Kasihan II, Bantul, Yogyakarta saat wawancara melalui pertemuan daring. tangkapan layar/Irwan Syambudi


Nama Siti disebut, juga yang mengumumkan, kepala puskesmas.

“[Terdiri dari] dokter, perawat, bidan, kepala puskesmas, kasubag tata usaha, nutrisionis, driver, kemudian petugas teknisi, farmasi, hygiene sanitasi, dan dokter gigi. Lengkap, jadi kayak lumpuh puskesmas,” katanya. “Semuanya menangis saat mendengar [dinyatakan] positif COVID-19.”

Baju merah yang ia pakai ternyata tak mampu membuatnya semangat. Ia menangis, tak percaya sekaligus sedih. Pikirannya melayang ke mana-mana, membayangkan situasi buruk terjadi, apalagi ia mengidap asma. Ia tahu COVID-19 telah menyebabkan ratusan tenaga kesehatan kehilangan nyawa.

Ia juga khawatir dengan keluarga. Perempuan 47 tahun itu tinggal bersama suami dan tiga anak. Ia cemas terutama dengan dengan putra bungsunya yang belakangan mudah sakit, berusia empat tahun.

Malam itu Siti tak pulang. Ia diisolasi di selter yang dikhususkan bagi pasien COVID-19 tanpa gejala di Kecamatan Bambanglipuro.

Kesedihannya makin menumpuk tatkala mendengar takbir bergema, baik dari pengeras suara masjid atau peserta takbir keliling. “Saya takbiran sambil nangis. Kami dikurung tapi mereka malah bebas dan berpotensi memperbanyak kasus,” ujarnya.

Selama isolasi kondisinya baik, tak mengalami gejala apa pun, asmanya juga tidak kambuh. Ia menjalani dua kali tes PCR, hasilnya secara beruntun negatif. Tanggal 5 Agustus ia dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.

Siti yakin ia tertular virus di tempat kerja. “Karena saya tidak pernah ke mana pun kecuali ke tempat kerja […] Tempat kerja itu tempat layanan kesehatan banyak orang, jadi enggak bisa ditebak itu dari siapa. Tapi yang jelas [penularan] itu dari tempat kerja,” kata Siti.

Bangunan yang sempit dengan jumlah pekerja mencapai 50 orang membuat jaga jarak sulit diterapkan meski jam kerja telah diatur bergantian dan pasien dibatasi. Ia bekerja bergiliran di poli batuk, lansia, rujukan, hingga UGD. Sekali waktu ia pernah melayani pasien yang periksa lalu dirujuk ke rumah sakit dan akhirnya dinyatakan positif COVID-19.


Ia semakin yakin tak dapat virus dari luar puskesmas sebab suami dan tiga anaknya dinyatakan negatif setelah dites.

Kasihan merupakan kecamatan dengan kasus positif COVID-19 cukup tinggi di Bantul, setelah Kecamatan Bangutapan dan Sewon. Di Kasihan, per 2 September, tercatat 67 orang positif COVID-19, empat di antaranya meninggal.

Kepala Puskesmas Kasihan II Elmi Yudihapsari mengatakan kepada tim kolaborasi meski banyak kasus positif tercatat di Kasihan, ia tak yakin itu membuat puskesmas jadi tempat penularan--baik dari pasien ke tenaga kesehatan atau sebaliknya. Sebab, katanya, “APD saat pelayanan sudah memadai.”

Pun demikian kemungkinan penularan dari keluarga. Sebab dari keluarga 15 orang petugas yang dites, semuanya dinyatakan negatif.

Sementara Sigit Purwanto, satu dari dua petugas di Puskesmas Pundong yang dinyatakan positif, tak tahu pasti asal penularan. Namun ia sadar aktivitasnya di tempat kerja membuat risiko penularan tinggi.

“Profesi nakes (tenaga kesehatan) itu tetap yang di depan. Orang yang datang ke pelayanan kesehatan itu pasti ada alasan sakit, dan di situlah kemungkinan besar lebih banyak ketemu dengan orang tanpa gejala,” kata dia. Sekali waktu puskesmasnya kedatangan pasien kecelakaan yang ternyata positif COVID-19.

Di samping itu, di puskesmas juga tak semua mendapat APD maksimal. Semua disesuaikan dengan risiko masing-masing lini. Untuk APD level 3, kata dia, hanya dipakai petugas di poli batuk. “Jadi yang poli lain lebih riskan.”

Ia dinyatakan positif pada 16 Juli. Sigit tak bergejala, namun ia memilki penyakit bawaan aritmia atau detak jantung lemah. Ia dirawat di ruang isolasi RSUD Panembahan Senopati hingga dinyatakan sembuh pada 26 Juli.

Kemungkinan terjangkit dari luar juga ada apalagi ia merupakan ketua lingkungan gereja yang bertemu banyak orang, bahkan pernah dari Bekasi yang konsultasi menikah. Sebelum dinyatakan positif, awal Juli lalu ia juga menghadiri pertemuan yang diikuti sekitar 13 perawat dari puskesmas lain. Ada dua peserta pertemuan yang dinyatakan positif COVID-19, salah satunya dirinya.


Sigit Purwanto
Sigit Purwanto (43) perawat Puskesmas Pundong, Bantul, Yogyakarta saat wawancara melalui pertemuan daring. tangkapan layar/Irwan Syambudi


Teka-teki Sumber Penularan

Hingga Rabu 2 September, Pemda DIY melaporkan sudah ada 1.474 kasus positif COVID-19. Sebanyak 1.061 dinyatakan sembuh dan 41 di antaranya meninggal dunia. Sebagian korban merupakan pekerja kesehatan.

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan COVID-19 Berty Murtiningsih mengatakan hingga Senin (24/8/2020) ada sekitar 8.000 pekerja kesehatan di DIY yang sudah menjalani tes PCR. Sekitar dua persen terkonfirmasi positif.

Berty belum tahu persis penyebab banyaknya pekerja kesehatan yang terpapar virus. "[Kajian] sedang dilakukan oleh dinkes kabupaten/kota masing-masing.”

Dalam laporan harian, Pemda DIY menggunakan istilah 'karyawan kesehatan' untuk menyebut seluruh pekerja di bidang kesehatan. Ini berbeda dengan istilah dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Dalam UU disebutkan 'tenaga kesehatan' adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan, yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan melakukan upaya kesehatan.

UU itu menyebut beberapa jenis tenaga kesehatan, misalnya dokter, dokter gigi, perawat, bidan, apoteker, dan fisioterapis.

Sedangkan istilah 'karyawan kesehatan' yang disebut Pemda DIY meliputi 'tenaga kesehatan' sebagaimana dalam UU, dan kelompok pekerja lain di fasilitas kesehatan seperti staf administrasi, satpam, sopir, dan lainnya. Tercakup juga di dalamnya pegawai di dinas kesehatan.

Dalam tulisan ini istilah 'karyawan kesehatan' disamakan dengan 'pekerja kesehatan'/'tenaga kesehatan' (nakes).

Berdasarkan data Pemda DIY yang dihimpun tim kolaborasi, setidaknya ada 304 pekerja kesehatan yang terpapar COVID-19. Masing-masing tersebar di Bantul 142; Kota Yogya 25, Sleman 31, Gunungkidul 48; Kulonprogo 7, dan sisanya, 46, tak diketahui asalnya.

Dari data yang tercatat sejak 13 Maret hingga 2 September itu setidaknya ada tiga yang meninggal dunia. Mereka adalah dokter yang juga seorang guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Iwan Dwiprahasto; seorang laki-laki berusia 53 tahun, tenaga administrasi Rumah Sakit Respira, dan seorang dokter bedah.


Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY Joko Murdianto mengatakan hingga awal Agustus ada 26 dokter yang positif COVID-19. “Angkanya mencengangkan di banding awal-awal,” kata dia. Tinggi kasus ini juga berbarengan dengan kenaikan kasus secara umum, katanya. Itu dipengaruhi beberapa faktor seperti meningkatnya mobilitas atau karena memang masifnya tes PCR.

Faktor penyebab kenaikan jumlah kasus pada pekerja kesehatan ini belum diketahui secara pasti. IDI DIY dengan sejumlah organisasi profesi seperti Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Ikatan Bidan Indonesia baru melakukan penyelidikan. Agar jawaban diketahui, “harapannya, teman-teman bisa memberikan jawaban yang jujur.”

Pekerja kesehatan terbanyak terpapar COVID-19 berada di Bantul. Mereka tersebar di 15 puskesmas. Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharja mengatakan sebagian besar puskesmas kemudian ditutup sementara, seperti Puskesmas Kasihan II, Bangutapan I, Sedayu I, dan Bantul II.

Budi bilang banyaknya pekerja kesehatan yang diketahui positif COVID-19 karena memang dilakukan tes PCR terhadap mereka. Namun, terkait sumber penularan, ia belum mengetahui pasti. “Kami belum bisa menyatakan bahwa ini kena dari pasien, dari ini, atau dari ini,” katanya.

Kepada tim kolaborasi, Juru Bicara Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul Tri Wahyu Joko Santoso mengatakan berdasarkan hasil kajian sementara, beberapa penyebab penularan telah diketahui. Sebagian penularan terjadi karena mereka melakukan perjalanan atau menerima tamu dari luar daerah, atau tertular dari keluarga. “Sumber penularan dari pasien juga ada,” katanya.

Meski demikian, ditemukan tidak ada tenaga kesehatan positif COVID-19 yang bertugas di ruang isolasi rumah sakit.

Sementara di Gunungkidul, data pekerja kesehatan terkonfirmasi positif lebih banyak dari data yang kami himpun berdasarkan data Pemda DIY. Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati pada 23 Agustus menyebut total ada 50 pekerja kesehatan, terdiri dari 15 bekerja di puskesmas, 21 pegawai dinkes, dan 14 lainnya bekerja di rumah sakit swasta maupun klinik.

Dewi bilang kecil kemungkinan terjadi penularan di puskesmas sebab jika dirata-rata dari satu puskesmas hanya satu atau dua pekerja yang terpapar. Ia menduga penularan berasal dari luar. “Kemungkinannya justru mendapatkan dari keluarga atau luar puskesmas,” kata Dewi dalam sebuah diskusi daring bertajuk Keselamatan Tenaga Kerja di RS Non Rujukan dan Puskesmas.

Ini terjadi di satu kasus di salah satu fasilitas kesehatan swasta. Ia menyebut awalnya ia tertular dari luar, kemudian menularkan ke rekan kerja.


Potensi Nakes Kelelahan, Pasien Tak Terlayani

Epidemiolog Kolaborator LaporCOVID-19 Iqbal Elyazar mengatakan memang banyak faktor penularan pada tenaga kesehatan. Namun tak bisa dipungkiri tempat kerja adalah faktor utama. Selalu ada kemungkinan celah terjadinya penularan dari, misalnya, tata letak dan sirkulasi udara yang tak memadai. “Masalahnya bisa dari zonasi [gedung], interaksi, dan mekanisme penularan di dalam rumah sakit melalui sirkulasi udara,” kata dia kepada tim kolaborasi, 28 Agustus.

Untuk itu perlu dilakukan evaluasi terhadap implementasi standar operasional prosedur kesehatan di fasilitas kesehatan.

“Selama ini hanya mengandalkan ingatan responden bagaimana dia mengimplementasikan protokol, tapi tidak pernah dilakukan observasi kegiatan mereka secara independen,” kata Iqbal.

Di Indonesia belum ada kajian spesifik menangani penyebab pekerja kesehatan terpapar COVID-19. Namun satu kajian di Inggris yang meneliti salah satu rumah sakit di Oxford menemukan bahwa penularan telah meluas di rumah sakit, tidak hanya pada mereka yang menangani COVID-19. Di DIY, pola yang sama menurutnya juga telah terjadi.

Jika penularan pada tenaga kesehatan ini tidak dibendung, maka dampaknya sangat buruk. Layanan bisa saja jadi terbatas bahkan tertutup. Ini akan berdampak bagi komunitas seperti misalnya ibu hamil dan manula yang seharusnya mendapatkan layanan kesehatan secara rutin, juga masyarakat umum.

Baca juga artikel terkait PENULARAN COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Rio Apinino
DarkLight