1 Januari 1990

T.B. Simatupang, Jenderal Cerdas yang Mencerdaskan Tentara

Oleh: Petrik Matanasi - 1 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Jendral pemikir.
Tiga nama Karl dalam
aliran darah.
tirto.id - Tahi Bonar Simatupang muda sebetulnya ingin jadi dokter. Dia berangan-angan hendak menjadi tenaga medis di rumah sakit gereja. Tapi di tengah jalan, cita-citanya berubah. Di zaman perang, lowongan penerimaan taruna di Koninklijk Militaire Academie (KMA) alias Akademi Militer Kerajaan Belanda dibuka di Bandung. Peluang orang Indonesia untuk diterima terbuka di situ. Lulusannya akan menjadi perwira Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Gaji seorang perwira tentu saja lumayan.

Simatupang alias Sim pun pergi mendaftar. Setelah melewati rangkaian seleksi selama sembilan bulan, Sim diterima untuk belajar di akademi militer pertama di Indonesia itu. Beberapa orang Indonesia lain juga ada di sana. Sebut saja Rahmat Kartakusumah, Abdul Haris Nasution, juga Alex Kawilarang. Banyak dari mereka masuk infanteri.

“Saya memilih zeni. Pilihan itu pada satu pihak oleh karena saya memenuhi syarat yang diterima di bagian zeni, yaitu angka-angka yang lumayan (tinggi) dalam pelajaran eksakta,” aku Simatupang dalam Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos (1991: 84).

Simatupang sebenarnya ragu jika ia bakal selamanya di KNIL. Baginya, “perwira zeni mempunyai pengetahuan yang menyerupai pengetahuan insinyur (sipil).” Di masa damai, pengalaman jadi perwira zeni lebih memungkinkannya bekerja di bidang teknik sipil.

Hanya ada 10 orang di kelas zeni, termasuk Sim. Beberapa mata kuliah harus diambil dengan ikut kelas di Technische Hogeschool (kini Institut Teknologi Bandung). Dari asrama, Sim dan taruna zeni lain harus naik sepeda menuju kampus teknik pertama di Indonesia itu.

Sim bukan pemuda macam Alex Kawilarang yang doyan olahraga dan jago dalam mata pelajaran praktik macam berenang, anggar, naik kuda, atau menembak. Alex tidak punya minat dalam teori dan pemikiran militer.

Baca juga: Simatupang Mematahkan Mitos

“Saya termasuk taruna yang mencapai prestasi tinggi di bidang teori,” ujar Simatupang (hlm. 91). Mereka yang berprestasi tinggi, biasanya akan mendapat kroontje (tanda mahkota). Namun, bersama Askari dan Aminin, Simatupang mendapat mahkota perak saja. Mahkota emas disabet taruna-taruna Belanda.

Dalam Untuk Sang Merah Putih (1988), Alex Kawilarang menyebut, “Seandainya Simatupang orang Belanda, saya kira dia pasti akan mendapat mahkota emas” (hlm. 16).

Di masa singkat pendudukan Jepang yang kejam, Sim dekat dengan kelompok Sutan Syahrir—yang tergolong pemimpin pemuda anti-fasis. Meski zaman itu penuh tekanan, Sim tak memberi ruang kosong pada otaknya. “Kami membaca semua buku yang dapat kami peroleh tentang ideologi, perang, revolusi, sejarah dan seterusnya,” tuturnya dalam Percakapan dengan Dr TB Simatupang (1989: 70).

Kala itu, Simatupang, yang di masa tuanya menjadi seorang pendakwah Kristen, belum intens dengan buku-buku teologi. Setelah Jepang menyerah kalah, ia dan beberapa mantan perwira KNIL lulusan KMA Bandung pergi ke Yogyakarta.

Tentara Intelektual, Jenderal Pemikir

Sim terlibat dalam membangun organisasi markas besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1989), di tahun 1945 itu, jabatan Sim adalah Kepala Organisasi di Markas Besar TKR. Bagian yang dipimpin Simatupang itu dikenal juga sebagai Bagian III/Organisasi (hlm. 299).

Dalam Percakapan Dengan Dr TB Simatupang (1989), ia mengaku, ”Tugas saya di markas besar terutama menyangkut masalah-masalah organisasi, strategi, pendidikan, politik dan diplomasi” (hlm. 72).

“Lambat laun saya dipandang oleh banyak kawan sebagai teoritikus yang diharapkan harus dapat memberikan sumbangan pikiran berhubung masalah-masalah yang mendasar mengenai perang dan revolusi,” lanjutnya (hlm. 71). Hal itu membuatnya membaca buku lebih banyak lagi. Sebuah kelompok studi ilmu perang kemudian ikut dibuatnya: Yudhagama.

Baca juga: Kemenangan dan Kekalahan Supremasi Sipil

Bagian III/Organisasi punya perpustakaan, yang banyak mengoleksi buku-buku soal militer dan peperangan. “Sebagian besar berasal dari Departement van Oorlog (Departemen Peperangan Belanda) di Bandung,” kata Simatupang dalam Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos (hlm. 145).

Buku-buku itu kebanyakan berbahasa Jerman, karena sebelum Perang Pasifik, militer Belanda berorientasi ke Jerman. Masih dari buku dan halaman yang sama, Simatupang menyebut, “Saya kira dalam kalangan inilah antara lain lahir istilah Wehrkreis.Wehrkreis diartikan sebagai wilayah atau lingkungan pertahanan—biasa disingkat WK. Istilah ini menjadi istilah militer yang lazim digunakan di Indonesia pada masa Revolusi.

Jika kawan seangkatannya macam Nasution jadi Panglima Divisi di Jawa Barat dan Alex Kawilarang juga memimpin pasukan di Sumatera, Simatupang hanya punya beberapa staf di markas besar, bukan pasukan tempur.

Sim tidak dikenal sebagai panglima atau komandan pasukan. Dia dikenal sebagai perwira yang cerdas di Markas Besar. Menurut Harsya Bachtiar, pada 27 September 1948, Simatupang yang hampir tiga tahun di Markas Besar diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Perang.

Dia mengikuti perkembangan perundingan diplomasi yang merugikan Indonesia selama revolusi. Simatupang mengaku, dalam Percakapan Dengan Dr TB Simatupang, dirinya ikut memberi masukan di bidang militer dalam perundingan-perundingan (hlm. 72). Tahun 1949, Sim masuk pada komisi yang diketuai dr. Johannes Leimena dengan jabatan wakil ketua komisi dalam kapasitasnya sebagai ahli militer.

Baca juga: Johannes Leimena, Orang Paling Jujur di Mata Sukarno

infografik mozaik simatupang


Ketika kondisi kesehatan Panglima Besar Sudirman memburuk, Sim dijadikan pelaksana tugas Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP). Pangkatnya Kolonel dan usia baru 29. Setelah pengakuan kedaulatan dan Sudirman meninggal dunia pada 29 januari 1950, Sim tak lagi jadi pelaksana tugas, melainkan menjadi KSAP. Sementara itu, Nasution diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Ketika menjadi KSAP, Simatupang juga menjadi Ketua Gabungan Kepala-kepala Staf (GKS). Mula-mula pangkatnya kolonel, namun belakangan menjadi mayor jenderal.

Selama menjadi KSAP, menurutnya, “Permasalahan yang paling mendasar yang dihadapi GKS ialah menempatkan angkatan bersenjata atau TNI yang telah menjadi besar selama perang rakyat sebaik-baiknya di tengah perkembangan negara.”

Baca juga: Gus Dur Memelopori Rotasi Panglima TNI

Permasalahan militer di zaman Simatupang adalah peleburan bekas KNIL ke dalam TNI, pengurangan anggota militer dari unsur bekas laskar perjuangan, dan munculnya pergolakan daerah. Belum lagi penolakan perwira-perwira TNI dari non-KNIL yang tidak sudi diberi ilmu oleh instruktur-instruktur Belanda selepas pengakuan kedaulatan. Dekade 1950-an memang dikenal sebagai tahun penuh masalah bagi TNI.

Posisi KSAP disandangnya hingga 1954, ketika umurnya baru 34—usia yang terlalu muda dan cepat untuk pensiun sebagai jenderal. Setelahnya, dia menjadi penasihat Menteri Pertahanan.

Setelah tak lagi berkegiatan di bidang militer dan pemerintahan, Simatupang dikenal aktif di dunia gereja dan pekabaran injil. Sudah tentu dia mulai insyaf akan pentingnya teologi dalam memandang banyak masalah-masalah dunia. Jenderal pintar ini pernah menjadi Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Ia juga dikenal sebagai penulis. Salah satu karyanya adalah Laporan Dari Banaran (1961), sebuah catatan perjalanan gerilya setelah Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948. Tahi Bonar Simatupang meninggal dunia tepat di perayaan tahun baru 1990 atau hari ini 28 tahun lalu. Namanya dikenang sebagai seorang tentara intelektual dan jenderal pemikir.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live