Simatupang Mematahkan Mitos

Oleh: Petrik Matanasi - 26 Oktober 2016
Dibaca Normal 4 menit
Simatupang berdebat sengit dengan guru sejarahnya. Ia berusaha mematahkan mitos-mitos sang guru yang bermental kolonialis itu.
tirto.id - Meneer Haantjes seorang guru sejarah di Christelijke Algemene Middelsbare School (SMA Kristen). Letak sekolah itu di depan Rumah Sakit Umum Pusat yang dulu dikenal sebagai Centraal Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ). Haantjes jelas seorang Belanda pendukung politik kolonialisme. Pelajaran sejarahnya pun tak akan jauh dari nilai-nilai kolonialisme yang begitu merendahkan orang-orang pribumi. Golongan yang menjadi minoritas muridnya di SMA Kristen tersebut.

Keangkuhannya sebagai pendukung kolonialis, membuat Haantjes pernah berseru ke murid-muridnya di sekolah, penduduk pribumi Hindia Belanda tidak mungkin bersatu mencapai kemerdekaan. Karena banyak suku yang berbeda-beda. Haantjes tentu tidak sadar sebuah bangsa tak melulu diciptakan karena persamaan suku, tapi yang tak kalah penting adanya perasaan senasib, apalagi jika sependeritaan, yang membuat mereka bisa membayangkan dan bermimpi tentang sebuah bangsa.

Itu semua tentu kalah menyebalkan dengan pendapat sang guru yang meyakini sekali bahwa orang-orang pribumi Hindia Belanda, yang disebut Indonesia, tak akan mungkin membangun kekuatan militer modern untuk mengalahkan Belanda. Kondisi fisik orang Indonesia tidak mengizinkan untuk menjadi tentara. Inferioritas orang pribumi memang dibangun dengan menanam mitos-mitos bahwa pribumi atau sebuah golongan tak akan bisa maju.

Tak selamanya muridnya diam saja. Guru sejarah itu akhirnya bertemu juga siswa yang mendebatnya dengan tajam. Darah muda siswa batak yang bergejolak itu membantah ala anak remaja yang emosional. Perdebatan itu ramai dan sampai jadi masalah yang membuat siswa tersebut berhadapan dengan kepala sekolah. Nampaknya sang guru sejarah sakit hati. Kala itu kepala sekolah disebut direktur. Di SMA Kristen itu, kebetulan yang menjabat Meneer EH de Haan.

Siswa tersebut adalah alumni SMP Kolonial macam Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Tarutung, Sumatera Utara. Namanya Tahi Bonar Simatupang. Di kalangan teman-temannya dia bisa dipanggil Sim. Kepada Sim, de Haan, menasihati, silahkan berdebat membela keyakinan tanpa membuat orang lain sakit hati. Sebagai remaja nasehat itu hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sudah pasti karena dia masih kesal pada Haantjes.

Sim ingat, Ahmad Yani dan Taswin, yang belakangan jadi perwira tinggi TNI adalah adik kelasnya di sekolah tersebut. Sim lulus dari SMA Kristen tersebut ketika Negeri Belanda dibabat NAZI Jerman. Sekitar 10 Mei 1940. Masa menghancurkan mitos-mitos yang dulu diyakini Haantjes dengan angkuh akhirnya tiba juga.

Orang-orang pribumi, kata Haantjes, tak cocok untuk menjadi tentara karena fisiknya. Haantjes mungkin tak pernah tahu, militer Inggris yang tangguh, pun tak hanya merekrut orang Asia tapi juga menjadikannya andalan di banyak peperangan selama 150 tahun terakhir. Begitu juga Perancis, memiliki Legiun Asing, yang menerima personil dari Asia juga. Di antara mereka bahkan dikirim ke banyak peperangan juga. Kerajaan Belanda, tentu sudah lebih dari seabad merekrut banyak serdadu dari orang Indonesia. Bahkan serdadu pribumi lebih tahan penyakit tropis dan terbiasa dengan alam Indonesia.

Sim punya kesempatan mematahkan mitos gurunya tersebut dengan masuk militer. Sim, bersama Abdul Haris Nasution, akhirnya menjadi orang-orang Batak pertama yang belajar di Akademi Militer Kerajaan Belanda setelah melalui wajib militer. Orang Batak ketika itu paling tinggi jadi Sersan. Sulit ditemukan yang jadi perwira. Sim dan Nasution termasuk pencetak sejarah orang-orang Batak di KNIL.

“Saya sendiri memasuki Akademi Militer Kerajaan di Bandung itu dengan tekad untuk membuktikan ketidakbenaran dalil yang banyak diedarkan pihak Belanda waktu itu, yaitu bangsa Indonesia tak akan pernah merdeka,” tulis Sim dalam post scriptum Saya Adalah Orang Yang Berutang (1989).

infografik simatupang mematahkan mitos


Semasa di Akademi Militer, Sim tergolong kadet yang rajin belajar soal banyak teori militer Eropa. Kondisi darurat, membuat Sim dan taruna lain, termasuk taruna-taruna pribumi, diluluskan dengan tergesa-gesa karena ada ancaman serbuan Jepang. Lulus dari akademi tersebut, Sim diperbantukan sebagai perwira perhubungan Resimen Pertama. Atasannya adalah Letnan Breet.

Ketika balatentara Jepang mendarat, dari Banten, pasukan Resimen Satu mundur ke Cianjur. Sim berada dalam pasukan yang bertahan di Ciranjang. Akhirnya mereka jadi tawanan Jepang di Sukabumi. Beruntunglah sisa gajinya masih cukup untuk hidup dalam waktu yang agak lama asal hidup hemat.

Sim jadi saksi pendaratan tentara Jepang. Militer Belanda yang dibangga-banggakan guru sejarahnya dulu tak berdaya melawan Jepang. Banyak dari perwira ini melarikan diri. Jika bertemu Haantjes, Sim tentu akan menertawakan gurunya tersebut.

Sim sempat kerja sebagai pegawai bea cukai berkat bantuan Hans Pandelaki di masa pendudukan Jepang yang singkat. Sim berhubungan diam-diam dengan kelompok Sutan Syahrir yang anti Jepang. Kelompok ini rajin mengikuti berita perang antara Jepang dengan sekutu. Mereka bertukar pikiran soal politik. Sim dan kelompok Syahrir percaya bahwa Jepang tak akan memenangkan Perang Dunia II yang mereka sebut peperangan Asia Timur Raya itu. Ramalan itu terbukti benar setelah Nagasaki dan Hirosima dibom atom lalu Jepang menyerah pada 14 Agustus 1945.

Dalam beberapa bulan setelah kekalahan Jepang itu, Sim terlibat dalam upaya pembangunan tentara juga. Sudah pasti dalam rangka mematahkan mitos guru sejarahnya yang merendahkan pribumi. Sim terlibat dengan menjadi Kepala Organisasi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sejak 1945, lalu menjadi Wakil Kepala Staf Umum Tentara sejak September 1948.

“Saya dipandang oleh banyak kawan sebagai teoritikus yang diharapkan harus dapat memberikan sumbangan pikiran berhubung masalah-masalah yang mendasar mengenai perang dan revolusi,” aku Sim. Itu membuatnya mempeloposi sebuah kelompok studi ilmu perang bernama Yudhagama. Selama di TKR, yang kemudian berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Sim tak pernah memimpin pasukan. Dia adalah perwira staf yang pemikir. Sementara Nasution adalah Komandan Divisi Siliwangi.

Setelah adanya ReRa, banyak Jenderal Mayor yang jadi Kolonel lagi. Para mantan perwira KNIL yang lebih senior dari Sim macam Didi Kartasasmita dan Oerip Soemohardjo, yang punya pangkat Jenderal setelah 1947 sudah tidak di TNI lagi. Sudah pasti yang tetap Jenderal adalah Panglima Besar Sudirman. Setelah kematian Sudirman, tidak ada lagi posisi Panglima Besar. Hanya ada Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP). Posisi ini diisi oleh Sim. Sejak 1950 hingga 1953.

Menurut Sayidiman, “ketika Pak Sim sebagai KSAP diangkat sebagai Mayor Jenderal, ia adalah satu-satunya,” Jenderal di TNI di awal tahun 1950an. Sementara Kepala Staf angkatan-angkatan dibawahnya hanya dipimpin perwira berpangkat Kolonel. Sim, juga Nasution, termasuk orang-orang Batak pertama yang jadi jenderal dan petinggi TNI.

Sim mengundurkan diri dari jabatan itu setahun setelah Peristiwa 17 Oktober 1952, ketika TNI melakukan demonstrasi di sekitar istana untuk menuntut pembubaran Parlemen. Dia mundur dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Setelah itu dia hanya menjadi penasihat kementerian pertahanan.

Meski tak jadi orang penting lagi di TNI, Sim yang pemikir ini berusaha membangun doktrin dan kader TNI. Dia mengajar di Sekoad dan juga Akademi Hukum Militer. Materi-materi yang diberikannya di sekolah itu kemudian menjadi kumpulan tulisan dalam buku Pelopor Dalam Perang Pelopor Dalam Damai (1954). Sim juga menulis Dua Puluh Tahun setelah Peristiwa 17 Oktober 1952 (1972). Sim juga dikenal sebagai tokoh Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Pernah juga dia menjadi Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia.

Untuk seorang purnawirawan jenderal, karir Sim tak tergolong panjang. Perlu puluhan tahun untuk menjadi jenderal. Sim jadi militer terhitung sejak 1940, ketika dia wajib militer sekaligus pendidikan perwira di KMA Bandung sampai 1953 ketika sudah berpangkat Mayor Jenderal. Ia menjadi jenderal dalam waktu singkat. TNI butuh perwira pemikir untuk membangun organisasi TNI. Sejarah membuatnya jadi seperti itu. Pencetak sejarah, di antaranya adalah mereka yang menentang sebuah mitos. Sim termasuk salah satunya. Dia tak pernah menyangka apa yang pernah diperdebatkannya dengan guru sejarahnya menjadi sebuah kenyataan.

Sim begitu berutang pada Tuhannya, tanah airnya, bangsa Indonesia dan juga TNI atas patahnya mitos-mitos yang diyakini guru sejarahnya dulu. Setidaknya, bangsa Indonesia bisa membangun TNI sebagai militer yang kuat. Namun, TNI belum pernah mengalahkan Militer Belanda ketika Perang Kemerdekaan. Militer Belanda lebih dikalahkan oleh diplomasi dan bukan jalan militer atau perang. Patah tidaknya mitos jika orang Indonesia tak bisa mengalahkan Belanda, Sim setidaknya ikut mengajari TNI berpikir dan berdiskusi. Nama Sim saat ini terabadi sebagai Jalan TB Simatupang.

Baca juga artikel terkait SIMATUPANG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti