Menuju konten utama

Target Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen Sulit Tercapai

Kondisi perekonomian global menyebabkan target pertumbuhan perekonomian nasional sebesar 7 persen sulit tercapai.

Target Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen Sulit Tercapai
Petani memperlihatkan garam hasil panen yang diolah menggunakan metode terowongan (tunnel) dan membran plastik di Desa Lam Ujung Baitussalam, Aceh Besar, Aceh, Selasa (22/1/2019). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/ama.

tirto.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebutkan target pertumbuhan ekonomi 7 persen yang pernah dicanangkan Jokowi di awal kepemimpinannya sulit tercapai.

Sebabnya angka yang termaktub dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) itu disusun untuk jangka waktu selama 5 tahun. Padahal, kata Suhariyanto, selama dijalankan banyak ketidakpastian dalam perekonomian global.

"Kan RPJMN 5 tahun ke depan. Ketika kita prediksi, banyak dekali yang tidak terduga. Kapan The FeDd (bank sentral ASL) menaikan suku bunga. Dan kita gak tau perang dagang dapat berdampak," ucap Suhariyanto dalam konferensi pers di gedung BPS RI, Rabu (6/2/2019).

Pada 2019, proyeksi Bank Indonesia pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen. Angka ini juga jauh dari proyeksi pemerintah pada awal kepemimpinan Joko Widodo-Jusul Kalla. Menurut BPS angka pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2018 sebesar 5,17 persen.

Tidak hanya itu, nilai itu juga di bawah target antara 5,18 persen hingga 5,4 persen sesuai asumsi APBN 2018. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada September 2018 lalu pun memangkas target itu menjadi 5,14 persen hingga 5,21 persen.

"Target [pertumbuhan ekonomi] 7 persen berat sekali apalagi kalau memperhatikan [kondisi] perekonomian global," ucap Suhariyanto.

Hal ini menurutnya memiliki kaitan dengan imbas harga komoditas dan ekspor ke negara tujuan yang melambat.

Belum lagi, kata dia, saat ini BPS juga memaparkan, neraca perdagangan minus sejak Oktober 2018 lalu dinilai semakin memperlambat capaian pertumbuhan ekonomi pemerintah.

Hal itu terlihat dari laju pertumbuhan ekspor yang berangsur minus dari kuartal 3 ke kuartal 4 2018 dengan nilai 2,22 persen. Ditenggarai jumlah impor yang melampaui jumlah ekspor pada kuartal tersebut.

"Ini jadi hambatan impor kita lebih tinggi," ucap Suhariyanto.

Menurut Suhariyanto, Indonesia tidak sendiri, tetapi hal ini juga dialami negara-negara dunia. Sebut saja ekonomi Cina hanya hanya tumbuh 6,7 persen atau melambat secara years to years (perbandingan tahun ke tahun) sebesar 6,5 persen.

Sama halnya dengan ekonomi Singapura yang melambat dari angka 2,3 persen menjadi 2,2 persen. Tidak ketinggalan, Suhariyanto juga memaparkan stagnannya ekonomi Amerika Serikat dan Jepang yang masing-masing berada pada angka 3 persen dan 0,1 persen.

"Di tengah ekonomi global yang tidak pasti ini 5,17 persen merupakan capaian yang menggembirakan," ucap Suhariyanto.

Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Zakki Amali