Menuju konten utama

Tangis Nenek Jumaria Melihat Langsung Ka'bah, Bukan di Sajadah

Nenek Jumaria, jemaah haji asal Maros, Sulawesi Selatan masih berkeinginan mencium hajar aswad bila situasinya sudah memungkinkan.

Tangis Nenek Jumaria Melihat Langsung Ka'bah, Bukan di Sajadah
Nenek Jumaria, jemaah haji asal Kabupaten Maros yang menjadi ikon Makkah Route, saat ditemui Tim Media Center Haji, di Sektor 6 wilayah Jarwal, Makkah, Sabtu (16/5/2026). Kredit foto: Tim MCH 2026.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Air mata Nenek Jumaria menetes saat menceritakan momen pertama kali melihat Ka’bah. Perempuan berusia 70 tahun yang viral karena menjadi ikon Makkah Route ini seolah tidak percaya bisa menginjakkan kaki di Tanah Haram, lebih-lebih bisa melihat kiblat umat Islam seluruh dunia di depan mata, tidak lagi cuma gambar di sajadah.

"Alhamdulillah saya semangat. Kenapa aku bisa ada di sini? Saya orang miskin," kata Nenek Jumaria saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di kamar hotel Sektor 6, Wilayah Jarwal, Makkah, Sabtu (16/5/2026).

Mata Nenek Jumaria berkaca-kaca saat menceritakan momen sakral tersebut. Ia hanya bisa mengucapkan syukur karena telah dipanggil ke baitullah meski kondusi ekonominya jauh dari kata "cukup."

Sambil menyeka air mata, Nenek Jumaria tak bisa menggambarkan kebahagiaannya lewat kata-kata. Ia terharu dengan takdirnya: bisa sowan Rasulullah di Madinah dan tawaf mengelilingi Ka'bah.

"Terharu, bisa lihat Ka’bah. Tidak pernah menyangka, bisa sampai ya," kata Marwati, tetangga Nenek Jumaria yang setia menemaninya sejak di Madinah hingga Makkah.

Nenek Jumaria

Nenek Jumaria, jemaah haji asal Kabupaten Maros yang menjadi ikon Makkah Route, saat ditemui Tim Media Center Haji, di Sektor 6 wilayah Jarwal, Makkah, Sabtu (16/5/2026). Kredit foto: Tim MCH 2026.

Marwati bercerita, Nenek Jumaria ingin mencium hajar aswad. Tapi ia mengurungkan niatnya karena situasinya belum memungkinkan.

"Kami jaga keselamatan, yang penting kita wukuf dulu," kata Marwati, duduk di samping nenek Jumaria yang masih tak kuasa menahan tangisnya karena terharu.

Selama wawancara kurang lebih 30 menit, Nenek Jumaria berkali-kali meneteskan air mata. Tak banyak kata yang keluar, tapi bahasa tubuh dan sorot matanya sudah menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang kami lontarkan.

Sesekali pertanyaan tim MCH dijawab Marwati. Ia berperan menjadi penyambung lidah saat Nenek Jumaria tak kuasa berkata-kata dan hanya bisa menangis haru.

Menjadi Ikon Makkah Route

Nenek Jumaria menjadi cerminan jika ibadah haji bukan soal harta, tapi soal panggilan Allah. Nenek Jumaria yang tergabung dalam kloter 14 dari Embarkasi UPG tak menyangka, berkat menyisihkan uang hasil menjadi buruh tani, ia bisa menunaikan rukun Islam kelima tahun ini.

Jemaah haji lansia berusia 70 tahun asal Kabupaten Maros ini menabung selama 20 tahun dari hasil menjadi buruh tani. Ia tidak menyimpan di bank, melainkan ditaruh di dalam ember.

Di usia lanjut ini, perempuan sederhana itu akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Suci berkat kegigihan, keikhlasan, pengorbanan, serta keteguhannya untuk memenuhi panggilan Allah ke baitullah dan sowan Rasulullah SAW.

Kisah hajinya bukan cerita soal kemewahan, tapi kesederhanaan dan kerja keras untuk mewujudkan keinginan menunaikan rukun Islam kelima. Bahkan, ia rela makan ubi agar duit yang ia tabung untuk niat haji tidak terpakai.

Jumaria memang menjadi sorotan pada musim haji tahun ini. Sebab, ia adalah seorang nenek yang wajahnya viral di media sosial, setelah Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute.

Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 ini karena kisahnya yang luar biasa. Ditambah lagi, kondisi fisiknya yang masih bugar dan kuat, meskipun usianya sudah 70 tahun.

Jumaria hidup seorang diri di rumahnya di tengah sawah, cukup berjarak dari penduduk lain di kampungnya.

Selama ini, si nenek menghabiskan waktunya dengan sibuk bertani. Ia mengaku, hasil panen yang diperoleh tidak langsung dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian disisihkan dan disimpan sedikit demi sedikit sebagai tabungan haji.

Tak hanya dari bantu bertani di sawah, ia juga menerima upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain. Meski nominalnya tidak besar, seluruh uang itu tetap ia simpan dengan disiplin.

Bagi Jumaria, menyimpan uang menjadi perjuangan tersendiri. Ia tidak memiliki tempat khusus untuk menabung. Uang hasil kerjanya disembunyikan di berbagai tempat sederhana agar aman dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain.

Tabungan itu terkumpul perlahan selama hampir dua dekade. Ada kalanya ia hanya bisa menyimpan uang recehan, namun tekadnya untuk berhaji tidak pernah surut.

"Kadang Rp50, kadang Rp20, kadang Rp100, kadang Rp200 gitu," kata dia.

Selama bertahun-tahun, ia berusaha keras agar uang yang sudah disimpan tidak terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat hidup serba kekurangan, ia memilih bertahan dengan makanan seadanya.

Nenek Jumaria

Nenek Jumaria bersama teman kamarnya serta tim Media Center Haji, Sabtu (16/5/2026). Kredit foto: Tim MCH 2026.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Bayu Septianto