tirto.id - Ketika dirilis pada 2006, The Fast and the Furious: Tokyo Drift hampir saja menjadi ajal bagi waralaba Fast and Furious. Penyebabnya, selain pencapaian di box office yang melempem, adalah banyaknya kelemahan, mulai dari akting buruk, penokohan tidak kuat, plot lemah, sampai ketidaksinambungan dengan dua film sebelumnya.
Namun, faktanya, Tokyo Drift justru menjadi titik balik bagi waralaba Fast and Furious. Di balik segala kekurangan itu, Tokyo Drift memberikan beberapa modal berharga bagi Fast and Furious untuk mengembangkan semestanya, mulai dari karakter Han yang diperankan Sung Kang, latar di Tokyo yang membuat Fast and Furious jadi "go international", sampai sutradara Justin Lin yang di kemudian hari juga mengarahkan Fast & Furious 6 dan F9: The Fast Saga. Fast & Furious 6 merupakan seri Fast and Furiousterlaris kedua sepanjang masa.
Dalam konteks lebih universal, Tokyo Drift berjasa besar memperkenalkan subkultur drifting kepada dunia. Tak seperti pada dua seri Fast and Furious sebelumnya, yang hanya menonjolkan balap mobil dengan adu kecepatan biasa, Tokyo Drift menunjukkan sesuatu yang berbeda. Bahwasanya, adu cepat juga bisa dipadukan dengan adu keterampilan berbelok yang disebut drifting.
Memilih Tokyo sebagai latar film adalah langkah tepat. Sebab, teknik drifting sendiri memang berasal dari Jepang. Sejarahnya bermula pada dekade 1970-an, ketika seorang pebalap bernama Kunimitsu Takahashi bereksperimen menikung guna memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk melahap satu lap.
Alih-alih menikung secara konvensional, Takahashi membuat bagian belakang mobil kehilangan traksi secara terkontrol saat memasuki tikungan, sehingga mobil meluncur menyamping tetapi tetap berada di jalur yang diinginkan. Hal itu memungkinkan kecepatan tikung lebih tinggi dan transisi antarbelokan lebih cepat.
Sejak itu, teknik drifting makin populer. Lalu, dalam perkembangannya, drifting akhirnya terpecah menjadi dua aliran besar, yaitu aliran Jepang dan Amerika. Aliran Jepang berfokus pada presisi, gaya, dan konsistensi sudut saat mobil meluncur. Sementara itu, aliran Amerika berkembang dengan pendekatan lebih agresif dan spektakuler, menonjolkan tenaga besar, kecepatan tinggi, serta asap ban yang tebal.
Namun, tentu saja drifting bukan sekadar milik orang Jepang maupun Amerika. Di Eropa, ada teknik Scandinavian Flick yang populer di kalangan pebalap reli. Teknik tersebut dilakukan dengan cara mengarahkan mobil sejenak ke arah berlawanan sebelum memasuki tikungan, lalu dengan cepat membanting setir ke arah tikungan yang dituju. Gerakan itu memanfaatkan perpindahan bobot kendaraan untuk membuat roda belakang kehilangan traksi, sehingga mobil dapat berbelok lebih tajam dan stabil, terutama di permukaan licin, seperti gravel, salju, atau aspal basah, yang lazim dijumpai di Skandinavia.
Ada pula drifting khas jazirah Arab bernama tafheet atau hajwalah, yang sama sekali berbeda dari drifting ala Jepang, Amerika, maupun Skandinavia.
Meski kerap disebut drifting khas Arab, unsur drifting dalam tafheet sebenarnya sangat minim. Sebab, drifting tafheet ini tidak dilakukan untuk menikung, melainkan di trek lurus. Drift dilakukan dengan "mengepotkan" mobil ke sisi trek berlawanan hingga mobil nyaris terguling dan hanya bertumpu pada dua roda di satu sisi, sementara sisi mobil lainnya terangkat ke udara. Setelah berada dalam posisi demikian, mobil pun langsung dipacu lagi dengan kecepatan tinggi.
Selain soal ketiadaan tikungan, minimnya unsur drift dalam tafheet juga bisa dilihat dari perkembangan tekniknya. Jika drift Jepang, Amerika, dan Skandinavia, lahir dan besar lewat kompetisi, tidak demikian dengan tafheet yang, pada dasarnya, hanyalah praktik menyetir ugal-ugalan di jalan raya. Trek lurus yang dimaksud pada tafheet pun sebenarnya hanyalah jalan raya lengang di tengah padang gurun.

Lahir dari Kultur Ugal-ugalan di Jalanan Sepi
Tidak diketahui secara pasti kapan persisnya tafheet mulai dipraktikkan oleh orang-orang di jazirah Arab. Namun, menurut Pascal Menoret dalam bukunya, Joyriding in Riyadh, subkultur ini lahir pada dekade 1970-an sebagai cara anak-anak muda berekreasi sembari menunjukkan maskulinitas. Seiring dengan makin kayanya negara-negara Arab, makin majunya infrastruktur, makin mudah pula tafheet ditemukan, tak cuma di Arab Saudi tetapi juga negara-negara tetangga.
Sebuah laporan dari 2008 mengindikasikan, tafheet baru benar-benar populer pada dekade 2000-an. Di Arab Saudi, tafheet mulai populer di Riyadh. Jalan aspal mulus, dipadukan dengan gurun pasir, membuat para pelaku tafheet bisa dengan leluasa memacu mobil-mobil mereka sambil beratraksi. Biasanya, ada beberapa kawan pengemudi yang ikut menumpang dalam mobil tersebut.
Sementara itu, laporanArab Newspada 2014 menyebut, selain sepak bola, hobi anak-anak muda Arab Saudi adalah melakukan atau menonton tafheet. Menurut laporan itu, yang menjadi pelaku tafheet bukan cuma anak dari kalangan berada. Sebab, mereka yang tidak memiliki mobil pun pada akhirnya memutuskan mencuri mobil, hanya agar bisa melakukan atraksi tafheet. Mobil-mobil bekas tafheet itu pun biasanya jadi ringsek dan ditinggalkan begitu saja di tengah gurun.
Menurut analisis Arab News, ada tiga faktor utama pendongkrak popularitas tafheet di Arab Saudi.
Pertama, anak-anak muda Saudi punya terlalu banyak waktu luang. Minimnya kegiatan ekstrakurikuler membuat mereka jadi tidak punya aktivitas apa pun selain sekolah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah.
Kedua, hobi adalah hal relatif baru di Arab Saudi. "Kata hobi adalah sesuatu yang asing dalam budaya kami. Ini adalah tempat yang keras. Nenek moyang kami terlalu sibuk berusaha bertahan hidup di tempat ini sehingga tidak punya waktu untuk mewariskan hobi pada anak cucu mereka," tulis Ibrahim Al-Ammar, dalam laporannya di Arab News tersebut.
Ketiga, kuatnya dorongan dari lingkungan untuk menyukai atau bahkan menjadi pelaku tafheet. Dia bahkan berseloroh, seandainya semua mobil menghilang dari Arab Saudi, anak-anak muda bakal menemukan cara melakukan tafheet dengan unta.
Tak seperti drifting di Jepang, misalnya, yang kental dengan budaya modifikasi, tafheet di Arab Saudi justru kebanyakan dilakukan dengan mobil-mobil bawaan pabrik. Jenis mobilnya pun bermacam-macam. Jika Jepang punya Toyota AE86, Mazda RX-7, dan Nissan 350Z, yang identik dengan mobil drift, di jazirah Arab, semua mobil bisa digunakan untuk tafheet, mulai dari sedan sampai SUV. Laporan CNNpada 2016 menjadi bukti bahwa SUV bisa jadi kendaraan tafheet populer di Uni Emirat Arab.

Tafheet pada akhirnya jadi sesuatu yang dicintai sekaligus dibenci. Anak-anak muda menyukai tafheet karena itu dapat menjadi ajang pacu adrenalin yang mudah ditemukan. Di sisi lain, aktivitas ini dibenci karena memang sangat berbahaya. Tak sedikit pelaku tafheet yang pada akhirnya meninggal dunia atau menyebabkan orang lain meninggal dunia.
Pada 2005, misalnya, ada seorang perwira Angkatan Laut Arab Saudi yang dihukum mati karena aksi tafheet yang dilakukannya menyebabkan kematian tiga penumpang mobil yang dikendarainya. Pada 2012, lagi-lagi ada seorang pelaku tafheet yang dihukum mati karena aksinya menyebabkan kematian orang lain.
Sejak itu, berbagai upaya menekan popularitas tafheet pun dikerahkan. Kepolisian setempat memberlakukan sanksi tegas bagi para pelakunya, mulai dari denda dan penyitaan mobil sampai hukuman penjara. Selain itu, para advokat safe driving pun makin aktif berperan memerangi ajang tafheet ilegal di jalan raya.
Namun kenyataannya, tafheetmasih populer sampai sekarang. Alasannya kurang lebih masih sama seperti yang disampaikan oleh Ibrahim Al-Ammar pada 2014: tafheet menjadi cerminan dari cara masyarakat Arab menyikapi modernitas dan kebebasan.
Setelah akhirnya tak lagi sibuk memikirkan cara bertahan hidup, masyarakat Arab akhirnya punya hobi. Dan hobi itu tidak cuma ditekuni, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inilah yang membuat tafheet bertahan sampai sekarang meski risiko bagi pelakunya sebenarnya sangatlah besar.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































