24 Agustus 1977

Suwarsih Djojopuspito: Membebaskan Perempuan dengan Menulis

Suwarsih Djojopuspito. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Fitri Ratna Irmalasari - 24 Agustus 2020
Dibaca Normal 4 menit
Suwarsih Djojopuspito meninggalkan klise tentang perempuan dalam novel-novelnya. Dunia kepenulisan adalah ajang membebaskan diri.
“Marti, doakanlah aku dapat bekerja dengan penuh cita-cita. Kau masih ingat bahwa pertalian persaudaraan antara kau dan aku harus mengekalkan kesetiaan kita akan sumpah kita berdua; bekerja bagi mereka yang tertindas dan untuk Indonesia, tanah air kita bersama.”

Itulah yang dikatakan Sulastri kepada kakaknya, Marti, dalam novel Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito.

Sulastri dan Marti dikisahkan sebagai dua perempuan yang melek pengetahuan dan melek nasionalisme. Dua-duanya juga aktivis pergerakan nasional. Hanya saja mereka memilih jalan yang berbeda. Sulastri memilih membantu suaminya, Sudarmo, untuk terjun dalam dunia pendidikan pribumi tanpa sedikit pun memanfaatkan lembaga-lembaga pemerintah kolonial. Sementara Marti menjadi aktivis organisasi perempuan arus utama.

Idealisme Sulastri bukan tanpa risiko. Suwarsih Djojopuspito menggambarkan bagaimana keputusan itu membuat Sulastri mengalami masa-masa sulit, pindah dari satu kota ke kota lain demi memperjuangkan cita-cita yang abstrak dalam keadaan serba kekurangan.

Dalam kata pengantar untuk Manusia Bebas terbitan tahun 2000, Toeti Heraty menjelaskan novel ini sebagai kisah kehidupan keluarga yang menjalani kekecewaan bertubi-tubi, mengatasi badai pernikahan, dan kembali pada kemampuan mencatat kenangan, menulis, dengan cita-cita suatu negeri Indonesia (hlm. xvii).

Novel itu pertama kali diterbitkan dengan judul Buiten het Gareel (Keluar dari Jalur) pada 1940. Suwarsih menuruti saran Charles Edgar du Peron, penulis indo kelahiran Batavia, untuk menulis dalam bahasa Belanda. Du Peron juga yang kemudian membantu penerbitannya.

Lantaran berkisah tentang pergerakan nasional di era 1930-an, mau tidak mau novel ini harus ditulis dalam bahasa Belanda. Apalagi, pada masa ketika Suwarsih menulis Buiten het Gareel, pemerintah kolonial sedang gencar-gencarnya menangkapi siapa saja yang dianggap nonkooperatif. Penggunaan bahasa Belanda paling tidak bisa menetralkan kecurigaan pemerintah kolonial. Novel ini dicetak ulang pada 1946 dan baru pada 1975 diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan.


"Cetek-cetek" tapi Kritis

Kisah Sulastri sebenarnya adalah kisah penulisnya sendiri. Suwarsih menulis Manusia Bebas untuk merekam masa prihatin sepanjang 1933-1937 ketika ia dan suaminya, Soegondo Djojopuspito, harus pindah dari satu kota ke kota lain. Mereka berpindah-pindah dari Purwakarta, Bandung, Semarang, lalu kembali ke Bandung pada 1937.

Menurut du Peron, Suwarsih menulis novel itu dengan gaya yang sangat sederhana dan mengisahkan hal-hal yang "sepele" dan "cetek-cetek". Novel itu bahkan lebih menyerupai sebuah dokumen atau buku harian Suwarsih yang nama pemiliknya diganti menjadi Sulastri.

Bagi Suwarsih, dunia pergerakan, meminjam istilah Aquarini Priyatna dalam makalah bertajuk "Suwarsih Dojopuspito: Menciptakan Subjek Feminis Nasionalis Melalui Narasi Autobiografis" (2013, PDF), dimaknai sebagai perlintasan ruang intelektual dan domestik yang harus ia lakukan terus menerus: rumah, pergerakan perempuan, pergerakan nasional—hal-hal yang sulit dilakukan, tetapi biasa bagi perempuan. Perlintasan itu menantang kecerdasan dan kemampuannya menyesuaikan diri. Namun perlintasan itu juga yang menyediakan banyak hal "cetek-cetek" yang mendorongnya berefleksi dan bersikap kritis atas berbagai peran yang harus ia jalani.

Diceritakan dalam Manusia Bebas, suatu hari Sudarmo mencemooh kesenangan Sulastri mengenakan baju bagus sebagai mental borjuis. Ejekan itu membuatnya dongkol. Sulastri merasa sudah banyak berkorban dan bekerja keras demi cita-cita mereka berdua dan karena cintanya pada Sudarmo. Namun hanya karena kesenangan Sulastri pada “hal-hal sepele” dan pakaian-pakaian, ia merasa bisa menegur atau membentak Sulastri (hlm. 46).

Lain waktu Sulastri terang-terangan mengkritik suaminya: “Kau memang angkuh. Kau menganggap rendah seseorang yang tak berpendidikan. Orang-orang menyebut kita angkuh karena kau dan aku tak menyelami hati mereka. Kawan-kawan sekerja kita tak membuka hati mereka terhadap kita. Padahal kita sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan mereka.”


Tak hanya kepada suaminya yang merupakan representasi ego maskulin dalam pergerakan nasional, Sulastri juga kritis kepada pergerakan perempuan. Lagi-lagi ini berkaitan dengan yang "cetek-cetek" tadi. Marti menegur kebiasaan Sulastri yang suka membaca roman dan menulis buku harian. Marti meminta Sulastri membaca buku yang lebih berguna bagi dunia pergerakan perempuan atau menulis artikel untuk majalah perempuan yang diasuh organisasi perempuan yang ia pimpin. Kegiatan Sulastri menulis buku harian atau mencatat hal-hal pribadi, menurut Marti, terlalu sentimentil dan “tak akan berguna bagi siapa pun” (hlm. 196).

Mengenai apa yang berguna dan tidak berguna bagi pergerakan perempuan, pada halaman terakhir Manusia Bebas, Sulastri melontarkan gurauan yang menyiratkan pertanyaan kritis: “Apakah PID (polisi politik Hindia Belanda) dan pergerakan wanita akan mengizinkannya, kalau aku sekarang membuat kue untuk Rustini (anak Sulastri)?”

Selain Sulastri dan Marti, ada banyak perempuan dalam Manusia Bebas mewakili rupa-rupa karakter dan permasalahannya masing-masing yang dipengaruhi dan memengaruhi jalannya pergerakan nasional: konflik keluarga, kesusahan ekonomi, poligami, antipoligami, dan lain-lain. Semuanya ditampilkan dalam dialog dan hubungan-hubungan antarpribadi yang wajar terjadi sehari-hari.

Melalui hal "cetek-cetek" itu Suwarsih merefleksikan kembali kebebasan serta cita-cita dan perjuangannya. Apakah cara atau tujuan yang paling penting? Apakah untuk ambisi pribadi atau untuk kaumnya? Toeti Heraty menyebut karakter seperti ini sebagai perempuan yang teguh dalam keutuhan identitas dan aspirasi. Demikian teguh karena diiringi sikap kritis dan upaya memahami lingkungannya (hlm. xx).


Menulis dan Menjadi Bebas

Suwarsih lahir di Bogor pada 20 April 1912. Pada tahun yang sama, dengan dukungan pemerintah Belanda, Yayasan Kartini resmi berdiri dan menggalang dana untuk membangun Sekolah Kartini di beberapa kota di Jawa pada 1913-1916. Kelak Suwarsih—bersama kakaknya, Suwarni—masuk Sekolah Kartini Cabang Bogor dan menjadi salah satu lulusan terbaik. Yayasan kemudian memberi Sulastri beasiswa Dana Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah guru untuk bangsa Eropa di Surabaya pada 1929.

Dalam hal melampaui zamannya, Suwarsih dan Kartini kerap dibandingkan. Goenawan Mohammad, dalam salah satu Catatan Pinggir-nya, memuji Suwarsih sebagai perempuan hebat "di luar garis yang lurus".

"Seperti Kartini," catat Goenawan, "kata-katanya [Suwarsih], tulisannya, merupakan catatan harapan dan kepedihan perempuan Indonesia yang melawan dan terjepit. Tapi ia bukan Kartini. Penuturannya lebih kompleks, lebih intim, lebih terbuka, dan dengan latar belakang yang lebih luas ketimbang surat-surat Habis Gelap Terbitlah Terang."




Sesungguhnya sulit membandingkan keduanya sebab Kartini dan Suwarsih datang dari latar belakang kelas sosial dan konteks zaman yang berbeda. Lagi pula dalam dominasi dunia patriarki, perempuan akan selalu menjadi warga kelas dua. Yang perlu dicatat adalah baik Suwarsih maupun Kartini sama-sama menulis untuk menjadi bebas.

Kehendak perempuan untuk menjadi bebas ketika menulis dibenarkan pengarang dan feminis Perancis Hélène Cixous. Seturut catatan Mariana Amiruddin dalam "Hélène Cixous: Revolusi Sosial, Revolusi Linguistik" yang dimuat di Jurnal Perempuan (No.52, 2007: 137), bahwa ketika perempuan menulis ia mendapatkan kebebasannya karena menjadi penentu dalam penciptaan teks.

Manusia Bebas bukan novel pertama Suwarsih. Sebelumnya ia pernah menulis novel berbahasa Sunda berjudul Marjanah. Namun Balai Pustaka menolak menerbitkannya dengan alasan isinya kurang mendidik.

Naskah novel yang "kurang mendidik" ini bercerita tentang Maryanah, perempuan muda yang digambarkan cantik dan sempurna yang jatuh cinta pada Sutrisna, seorang laki-laki beristri. Di akhir cerita keduanya bersatu. Maryanah tak merebut Sutrisna. Istri Sutrisna meninggalkannya karena mengejar hasrat seksualnya dengan kawan Maryanah. Cerita berakhir dengan memenangkan semua tokoh perempuan.


Suwarsih menampilkan berbagai karakter perempuan dalam novel-novelnya, dari yang menurut norma sosial dilabeli sebagai “perempuan baik-baik” hingga yang “bukan perempuan baik-baik”. Alih-alih menghakimi tokoh-tokoh perempuannya, Suwarsih memperlihatkan para perempuan itu sebagai agen kebebasan bagi diri mereka sendiri.

Dalam Manusia Bebas (hlm. 292), Sulastri bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku menulis untuk Indonesia?”

Sulastri kemudian menjawab sendiri pertanyaan tersebut: “Ini satu ironi. Aku menulis demi kesenanganku sendiri dan tidak untuk orang lain.”

Jawaban itu tidak salah. Ia tidak bisa memerdekakan bangsanya jika ia sendiri belum merdeka.

Suwarsih meninggal di Yogyakarta pada 24 Agustus 1977, tepat hari ini 43 tahun lalu, pada usia 65. Novelnya berjudul Arlina memenangkan Hadiah Penghargaan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1975. Setahun berikutnya Dewan Juri Sayembara Roman DKJ 1976 merekomendasikan novel Maryati dan Kawan-kawan sebagai karangan yang dapat diterbitkan. Ia menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma secara anumerta pada 14 Agustus 2013.

==========

Fitri Ratna Irmalasari adalah editor dan penerjemah independen. Ia menyelesaikan S1 di Program Studi Prancis UI dan S2 di Departemen Ilmu Sejarah UI. Tesis masternya tentang perubahan persepsi manusia terhadap hewan di Hindia Belanda yang tercermin dalam pembangunan Kebun Binatang Cikini.

Baca juga artikel terkait NOVELIS atau tulisan menarik lainnya Fitri Ratna Irmalasari
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fitri Ratna Irmalasari
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight