tirto.id - Sebuah bom bunuh diri meledak di depan Mapolresta Solo, pagi tadi, tepat pukul 07.30 saat beberapa polisi sedang mengadakan apel pagi. Satu orang pelaku tewas di tempat setelah meledakan diri.
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) menduga pelaku aksi bom ini mengarah pada ISIS. "Jadi ini adalah analisa kami. Ini adalah perubahan srategi global ISIS. Di pusat sengketa mereka yakni Irak dan Suriah posisi mereka terus terdepak, wilayah yang mereka duduki banyak yang sudah direbut pasukan pemerintah didukung serangan udara sekutu," ucapnya kepada MetroTV
"Akibatnya mereka mengubah srategi. Dengan memulangkan pasukan mereka kembali ke negara masing-masing. Setelah itu mereka diinstruksikan untuk menyerang negara masing-masing."
"Sangat mungkin aksi ini mengarah pada ISIS. Namun memang perlu analisa lebih dalam."
"Inilah perubahan srategi mereka. Sama seperti serangan di Paris, Istanbul, Madinah dan Jedah baru-baru ini."
Sutiyoso menampik bahwa badan yang dipimpinnya telat melakukan deteksi dini. "Ini sebenarnya sudah bisa deteksi. Tapi ada hal yg tak bisa disampaikan ke umum."
"Yang paling penting gini, kita sudah tahu srategi mereka. Namun yang pasti kita harus mewaspadai mereka karena ada simpatan ISIS yang belum berangkat ke Irak dan Suriah. Ada juga kombatan yang sudah pulang, cara untuk mengantisipasinya harus libatkan baik masyarakat untuk membantu. Sebanyak apapun aparat tak akan tak sanggup awasi indonesia yang luas ini. Kami butuh masyarakat untuk jadi mata dan telinga kami."
"Segera laporan ke kami kalau ada apa-apa jangan terlambat. Mereka bisa nyerang dimana saja, kapan saja, dimana saja."
Sutiyoso berharap agar UU Terorisme segera direvisi. Secara regulasi UU itu menurutnya belum berpihak pada aparat intelejen dan kepolisian saat mengusut aksi teror. "Saya harap kepada anggota dewan revisi segera dilakukan," imbuhnya.
Peristiwa satu dan lain ada kaitannya. Peristiwa satu dan lain ada kaitannya.
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Aqwam Fiazmi Hanifan
Masuk tirto.id





























