Sri Mulyani Sebut Perlambatan Ekonomi 2019 Bakal Berlanjut di 2020

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 28 Januari 2020
Dibaca Normal 1 menit
Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi pada 2020 di atas 5 persen terlepas dari perlambatan yang terjadi sejak awal tahun.
tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi 2020 akan terdampak dari pelbagai perlambatan yang dialami selama tahun 2019. Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan berupaya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pada 2020 di atas 5 persen terlepas sejumlah ketidakpastian dan perlambatan yang terjadi sejak awal tahun.

“Di satu sisi kita bersyukur pertumbuhan ekonomi tahun 2019 bisa ditutup di atas 5 persen. Tapi dinamika ini kita antisipasi spill over-nya di 2020,” ucap Sri Mulyani dalam rapat dengar pendapat di Komisi XI DPR RI, Selasa (28/1/2020).

Kepada anggota DPR RI, Sri Mulyani memaparkan realisasi pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 diperkirakan hanya menyentuh 5,05 persen meskipun BPS belum mengeluarkan data resmi. Hal itu diperoleh usai Sri Mulyani mendapat angka realisasi kuartal IV 2019 yang diprediksi menyentuh 5,06 persen.

Sebab melambatnya pertumbuhan ekonomi 2019 di kisaran 5,05 persen dari tahun 2018 yang sempat tumbuh 5,3 persen adalah melemahnya investasi. Dari sempat tumbuh 5-6 persen bahkan 8 persen di kuartal I 2018, selama tahun 2019 pertumbuhannya hanya di kisaran 4,74 persen.

Lalu ekspor-impor sama-sama mengalami kontraksi. Meskipun berdampak cukup baik pada neraca perdagangan, efeknya pada pertumbuhan ekonomi di 2019 kemarin malah sebaliknya.

“Pertumbuhan negative untuk impor ini pasti akan ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi 2020,” ucap Sri Mulyani.

Pada 2020 sendiri, pemerintah memasang target optimis pada pertumbuhan ekonomi di APBN dengan angka 5,3 persen. Namun, Sri Mulyani menyatakan mencapai angka itu bisa jadi tetap sulit lantaran banyak asumsi APBN 2020 sudah terlanggar sejak awal tahun.

Misalnya asumsi nilai tukar Rp14.400 per dolar AS terpaut jauh dari realisasi saat ini di kisaran Rp13.000-an per dolar AS. Lalu ada juga deviasi harga minyak mentah yang realisasinya malah menyentuh 50-an dolar AS di bawah asumsi 63 dolar AS per barel.

Belum lagi dari target lifting minyak sebanyak 755 ribu barel per hari (BOPD) dan gas sebanyak 1.191 ribu barel setara minyak per hari diperkirakan tak akan tercapai.

“Lifting migas saya tidak terlalu optimis bahwa ini akan terpenuhi sama seperti terjadi 2019. Eksplorasinya serta penemuan sumur baru tidak memberi jaminan peningkatan,” ucap Sri Mulyani.

Di sisi lain, factor ekonomi global juga agak suram di awal tahun. Sri Mulyani mencontohkan dalam Januari 2020 saja, sudah ada kejadian besar seperti wabah Corona yang menghantam Cina, isu pemakzulan Trump sampai ketegangan hubungan AS dan Iran.

“Memang masuk tahun 2020 ada optimisme namun hanya dalam waktu kurang dari seminggu optimisme itu kemudian terbalik,” ucap Sri Mulyani.


Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz
DarkLight