Menuju konten utama

Sosok Raja Harald, Pemimpin Norwegia Berjiwa Reformis Meninggal

Raja Harald dari Norwegia meninggal dunia. Ia dikenal sebagai sosok reformis. Namun, ia meninggal di tengah berkecamuknya gejolak di keluarga kerajaan.

Sosok Raja Harald, Pemimpin Norwegia Berjiwa Reformis Meninggal
Raja Harald V dari Norwegia (kanan) memberikan penghormatan di depan peti jenazah Ratu Elizabeth II yang disemayamkan di Westminster Hall, Istana Westminster, London, pada 18 September 2022.AFP/ JOHN SIBLEY / POOL
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Raja Harald dari Norwegia meninggal dunia pada Jumat (28/8/2026). Ia mangkat pada usia 89 tahun di tengah krisis yang sedang melanda keluarga kerajaan. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai raja berjiwa reformis bagi publik Norwegia.

Seturut The Straits Times, pihak istana kerajaan mengonfirmasi bahwa Raja Harald wafat di Rumah Sakit Universitas Oslo pada Jumat pagi. Konfirmasi ini diumumkan pihak istana melalui laman web resminya.

“Raja Harald meninggal dunia dengan tenang di Rumah Sakit Universitas Oslo pada hari Jumat, 28 Agustus, pukul 06.35,” tulis keterangan resmi pihak istana.

Harald merupakan raja tertua yang masih hidup di Eropa. Sebelumnya, ia dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan dan dibawa ke rumah sakit pada 17 Agustus lalu.

Kondisi kesehatan Harald juga pernah memburuk pada 2024 lalu ketika ia berlibur ke Malaysia. Kala itu, ia mengalami infeksi sampai harus mendapatkan perawatan dengan alat pacu jantung.

Sejak itu, Raja Norwegia yang dilantik sejak 1991 tersebut menurunkan intensitas kunjungan kenegaraan. Ia juga menolak turun takhta dan menegaskan bahwa sumpahnya sebagai raja berlaku seumur hidup.

Sepanjang hidupnya, Raja Harald dikenal sebagai raja yang reformis di Norwegia. Rekam jejaknya selama memimpin negara itu secara seremonial telah menciptakan sejumlah perubahan.

Profil Raja Harald dan Rekam Jejaknya

Harald lahir pada 21 Februari 1937. Ia merupakan pewaris takhta Kerajaan Norwegia pertama yang lahir di negara tersebut. Sebelumnya, Norwegia diperintah oleh raja-raja Denmark dan Swedia selama berabad-abad hingga 1905.

Kelahiran Harald juga menjadi alasan perayaan nasional di Norwegia. Setiap tanggal 21 Februari, Norwegia akan mengibarkan bendera mereka secara serentak sebagai peringatan atas kelahiran raja itu.

Harald memiliki darah ningrat dari Ratu Victoria di Inggris. Berdasarkan silsilahnya, Harald termasuk cicit dari ratu yang memerintah Kekaisaran Britania selama 63 tahun tersebut.

Sebagai seorang bayi yang lahir pada tahun 1937, kehidupan awal Harald di Eropa terdampak langsung oleh peristiwa Perang Dunia II. Ketika baru berusia tiga tahun dan Nazi Jerman menginvasi Norwegia, kedua orang tua Harald melarikan diri demi keselamatan kerajaan.

Ayah Harald, Olav, pergi ke Inggris bersama Raja Haakon untuk memerintah Norwegia dari jauh. Sementara itu, ibu Harald, Martha, pergi ke Swedia dan kemudian menuju Amerika Serikat (AS).

Harald ikut pergi bersama ibunya selama gejolak perang berkecamuk. Hal itu membuat masa kecil Harald dihabiskan di AS.

Harald kembali ke Norwegia pada 1945 ketika perang berakhir. Sejak itu, Harald menjalani kehidupan ningrat yang tak selalu berkilau.

Setelah kembali ke Norwegia, Harald bersekolah di sekolah neger dan bukan sekolah privat yang umumnya diikuti para bangsawan. Ketika menikah, Harald juga memilih mempersunting seorang rakyat biasa, Sonja Haraldsen, alih-alih dari kalangan bangsawan.

Harald kemudian resmi jadi Raja Norwegia pada 1991. Selama mengemban jabatan itu, ia berangsur jadi raja yang populer di kalangan publik Norwegia.

Ia dikenal sebagai raja yang mau mendekat ke rakyatnya sendiri. Seperti ketika berbagai bencana yang melanda negara itu, Harald kerap kali turut pergi ke lokasi kejadian dengan sepatu bot dan jaket usang demi menemui para korban.

Harald juga dikenal karena pidato-pidatonya yang tegas. Salah satu pidato yang dikenang adalah ketika Norwegia dilanda kasus pembunuhan 77 orang oleh Anders Behring Breivik, seorang fanatik sayap kanan anti-Islam pada 2011.

Kala itu, Harald menyampaikan pesan kuat yang disiarkan di televisi. Dengan nada suara yang emosional, ia menyatakan bahwa “kebebasan lebih kuat dari rasa takut”.

Pada 2016 lalu, ia juga berpidato tentang pentingnya toleransi antar sesama manusia. Kala itu, ia menyatakan warga Norwegia dapat memiliki berbagai latar belakang, kepercayaan, dan orientasi seksual tanpa diskriminasi.

Meninggal di Tengah Gejolak Keluarga Kerajaan

Harald meninggal dunia di tengah gejolak keluarga kerajaan yang sedang terjadi. Hal itu dikarenakan adanya skandal anggota keluarga yang terjadi silih berganti.

Salah satu kasusnya ketika menantu Harald, Mette-Marit, turut terlibat dalam skandal pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Ia juga telah mengakui relasinya dengan Epstein sebagai hal yang disesali.

Selain itu, cucu Harald, Marius Hoiby, juga baru dinyatakan bersalah pada Juni lalu atas empat dakwaan pemerkosaan dan satu dakwaan kekerasan dalam rumah tangga. Pengadilan menjatuhi hukuman kepada sang cucu denga empat tahun hukuman penjara.

Beberapa hari setelah vonis cucu Harald, Mette-Marit dilaporkan baru saja menjalani operasi transplantasi paru-paru. Namun, detail waktu pelaksanaan operasi itu tak disebutkan.

Dukungan terhadap monarki juga turun menjadi 60 persen pada Februari lalu. Hal ini terjadi seiring skandal demi skandal yang terjadi.

Di tengah menurunnya kepercayaan publik atas monarki, Harald merupakan salah satu figur yang tetap populer. Menurut jajak pendapat pada Februari 2026, Harald menjadi anggota keluarga kerajaan paling mewakili nilai kekuasaan yang ia pegang. Ia mendapat nilai 9,2 dari skala 1 hingga 10.

Akan tetapi, salah satu anggota keluarga Kerajaan Norwegia yang paling dicintai rakyatnya itu kini meninggal dunia. Meninggalkan situasi keluarga kerajaan yang sedang tak baik-baik saja.

Baca juga artikel terkait PROFIL TOKOH atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar