tirto.id - Syamsir Siregar, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), meninggal dunia Selasa (25/8/2026) lalu. Syamsir merupakan pensiunan jenderal yang sempat mengemban jabatan Kepala BIN era Presiden SBY. Bagaimana sosoknya dikenal selama ini?
Sebelumnya, kabar duka kematian Syamsir Siregar telah dikonfirmasi oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Dalam keterangan tertulis, perusahaan tempat Syamsir didapuk jadi komisaris itu mengumumkan meninggalnya bekas jenderal tersebut.
"Perseroan menyampaikan bahwa, Bapak H Syamsir Siregar yang menjabat sebagai Komisaris Utama perseroan meninggal dunia pada Selasa, 25 Agustus 2026," tutur keterangan tertulis Corporate Secretary JPFA Maya Pradjono.
Syamsir memang aktif menjabat sebagai komisaris perusahaan swasta tersebut setelah tak lagi aktif berdinas di instansi pemerintah. Sementara itu, semasa hidupnya, ia dikenal sebagai sosok pejabat militer dengan spesialisasi bidang intelijen.
Profil Syamsir Siregar dan Rekam Jejaknya
Syamsir Siregar merupakan seorang pria kelahiran pada 23 Oktober 1941. Ia lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara.
Dari Pematangsiantar inilah Syamsir kemudian tumbuh dalam era awal kemerdekaan Indonesia yang penuh gejolak. Saat itu, ketika ia tumbuh dewasa, ia kemudian masuk jadi tentara.
Syamsir lulus Akademi Militer Nasional (AMN) Pada 1965. Setelah lulus, ia kemudian resmi jadi tentara dan ditempatkan dalam kesatuan Infanteri-Kostrad.
Dari satuan itu, Syamsir kemudian meniti karier militernya. Ia memulainya dari komandan brigade hingga panglima kodam. Perjalanan karier Syamsir ini terjadi pada dekade 1970-an hingga 1990-an.
Puncak karier Syamsir di militer terjadi setelahnya. Tepatnya pada 1994, ia ditunjuk jadi Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA, sebelum jadi BAIS TNI). Jabatan ini diemban Syamsir hingga 1996.
Nama Syamsir kemudian kembali mencuat pada 2004. Kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono terpilih menjadi Presiden RI ke-6 yang dipilih secara demokratis.
Peristiwa itu rupanya erat berpengaruh terhadap Syamsir. Hal ini lantaran Syamsir ditunjuk SBY untuk menjadi Kepala BIN, menggantikan AM Hendropriyono. Syamsir kemudian menjabat untuk periode 2004-2009.
Syamsir saat dilantik jadi Kepala BIN berada di tengah tekanan publik tentang kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib. Pada awal 2005, Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk SBY mengindikasikan adanya jejak anggota BIN dalam kasus pembunuhan tersebut.
Sejumlah nama disebut terkait dengan kasus pembunuhan itu. Nama yang termasuk di dalamnya seperti petinggi BIN, Muchdi Purwopranjono, yang menjabat Deputi V BIN pada 2004.
Kasus pembunuhan Munir tak terjadi di masa kepemimpinan Syamsir di BIN. Namun, Syamsir harus bertindak sebagai pejabat tertinggi BIN di kala tekanan publik atas kasus ini terarah lembaganya.
Setelah usai periode kepresidenan pertama SBY pada 2009, jabatan Syamsir sebagai Kepala BIN ikut selesai. SBY berhasil menang pemilu untuk kedua kalinya, namun jabatan Kepala BIN tak diberikan kepada Syamsir, melainkan diserahkan kepada Sutanto. Nama Sutanto dikenal sebagai mantan Kapolri.
Jabatan Syamsir tidak lagi berurusan dengan dunia intelijen setelah itu. Ia beralih jadi pejabat perusahaan swasta. Pada 2010, Syamsir Siregar ditunjuk PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. sebagai komisaris utama.
Syamsir pun aktif di sana sebagai komisaris utama perusahaan milik keluarga Santosa tersebut. Hingga kemudian, pada 25 Agustus 2026 Syamsir meninggal dunia.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































