Sejarah Indonesia

Sikap Kepahlawanan Purnawarman Sejarah Perjuangan Raja Tarumanegara

Oleh: Iswara N Raditya - 13 September 2021
Dibaca Normal 4 menit
Sikap kepahlawanan dan perjuangan Raja Purnawarman tercatat dalam prasasti-prasasti peninggalan sejarah Kerajaan Tarumanegara.
tirto.id - Maharaja Purnawarman (395-434 Masehi) dikenal sebagai raja yang mengantarkan Kerajaan Tarumanegara ke masa puncak kejayaan. Sikap kepahlawanan dan perjuangan Raja Purnawarman tercatat dalam prasasti-prasasti peninggalan sejarah Kerajaan Tarumanegara.

Agus Aris Munandar melalui Indonesia dalam Arus Sejarah 2: Kerajaan Hindu-Buddha (2011) mengungkapkan, Kerajaan Tarumanegara pernah menguasai wilayah barat Pulau Jawa (kini termasuk Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta) pada abad ke-5 hingga ke-7 Masehi.

Dinukil dari Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah Panitia Wangsakerta (2005) yang disusun Ayatrohaedi, pusat pemerintahan awal Kerajaan Tarumanegara berada di puncak perbukitan Jasinga atau Jayasinghapura, sebelah barat Bogor berbatasan dengan Banten.

Pada era kepemimpinan raja ke-3, yakni Maharaja Purnawarman, ibu kota kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang juga menaungi kepercayaan Sunda Wiwitan ini dipindahkan ke Sundapura (dekat Bekasi sekarang), tepatnya tahun 397 M.

Maharaja Purnawarman memindahkan pusat Kerajaan Tarumanegara Sundapura karena terletak lebih dekat dari kawasan pesisir pantai utara Jawa. Nama Sundapura inilah yang nantinya menjadi identitas etnis yang menetap di pulau Jawa bagian barat atau Suku Sunda.

Disebutkan dalam naskah Wangsakerta, Kerajaan Tarumanegara pada era Maharaja Purnawarman membawahi 48 kerajaan kecil dari ujung barat pulau Jawa hingga Purwalingga atau yang sekarang disebut Purbalingga di Jawa bagian tengah.


Perjuangan Maharaja Purnawarman

Perjuangan Purnawarman terlihat dari upaya sang raja memajukan kerajaan beserta segenap rakyatnya, meliputi seluruh wilayah yang dinaungi Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara sangat makmur karena Purnawarman sangat peduli dengan sumber air atau sungai.

Sungai menjadi sumber kehidupan masyarakat Tarumanegara, termasuk untuk sektor pengairan, pertanian, sarana transportasi, hingga perdagangan. Dari sinilah Maharaja Purnawarman menggalakkan beberapa proyek besar terkait sungai yang menghidupi wilayah Tarumanegara.

Ada beberapa proyek besar terkait sungai yang dilakukan atas perintah Purnawarman. Pertama adalah Sungai Gangga atau Setu Gangga di Cirebon. Yoseph Iskandar dalam Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa (1997) memaparkan, Raja Purnawarman memerintahkan perbaikan alur Setu Gangga di Cirebon pada 410 M.

Kala itu, Cirebon termasuk wilayah Kerajaan Indraprahasta yang merupakan taklukan Tarumanegara. Pengerukan dan penguatan tanggul Sungai Gangga dilakukan secara karya bakti atau gotong royong oleh masyarakat dengan dukungan kaum brahmana dan diselesaikan dalam waktu kurang dari tiga bulan.


Proyek kedua dilakukan pada 412 M di Sungai Cupu yang mengaliri wilayah Mandala Cupunagara (Subang sekarang). H.M. Joesoef Effendi dan ‎Tata Ahmad Subrata Wiriamihardja dalam Laporan Diskusi Panel Menggali Kembali Sejarah Kerajaan Tarumanegara (1991) mengungkapkan, Maharaja Purnawarman memerintahkan tanggul Sungai Cupu agar diperkuat.

Setelah Sungai Gangga dan Sungai Cupu, proyek ketiga adalah pembenahan Sungai Cimanuk pada 413 M. Sungai sepanjang 130 kilometer yang membentang dari Garut hingga pesisir utara Laut Jawa di Indramayu ini alurnya diperbaiki dan tanggulnya diperkokoh.

Selain itu, dinukil dari Kasepuhan: Yang Tumbuh di Atas yang Luruh (1992) karya Kunaka Adimihardja, Maharaja Purnawarman juga memerintahkan dibuatnya petak-petak sawah di sekitar aliran sungai.


Tahun 417 M, Sungai Gomati dan Sungai Candrabhaga di Bekasi menjadi perhatian Maharaja Purnawarman. Sungai Gomati kini dikenal dengan nama Kali Cakung, sedangkan Sungai Candrabhaga disebut Kali Bekasi.

Purnawarman memerintahkan dibangun kanal di aliran kedua sungai tersebut. Dari Prasasti Tugu, seperti dikutip Poerbatjaraka dalam Riwayat Indonesia I (1952), diperoleh keterangan mengenai Kerajaan Tarumanegara dan proyek pembangunan kanal ini.

Menurut Purnawarman, tanggul-tanggul sungai-sungai besar di wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara harus dibuat lebih kuat sebagai tindakan untuk mengantisipasi terjadinya banjir atau air bah jika musim hujan tiba.

Setelah rangkaian proyek tersebut, ada satu pekerjaan besar lagi yang menunjukkan sikap kepahlawanan Maharaja Purnawarman, yakni pengerukan Sungai Citarum yang dilakukan pada sekitar tahun 419 M.


Setidaknya ada empat sungai besar yang menyangga wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara di tanah Sunda, yakni Cisadane di sisi barat, Ciliwung di tengah, serta Candrabhaga dan Citarum di timur.

Sungai Citarum adalah aliran air terpanjang di Jawa bagian barat. Maharaja Purnawarman pengerukan sungai yang mengalir dari Bandung hingga Karawang ini untuk memenuhi kebutuhan irigasi, transportasi, sekaligus sebagai antisipasi terjadinya bencana banjir.

Citarum memang ibarat nadi bagi Kerajaan Tarumanegara. Sungai yang memiliki banyak cabang yang jika seluruhnya dijumlahkan panjangnya bisa mencapai 300 kilometer ini juga terkait erat dengan asal-usul Kerajaan Tarumanegara dan kerajaan-kerajaan Sunda setelahnya.

Aliran Sungai Citarum menjadi batas alami dua kerajaan kembar setelah Tarumanegara runtuh pada sekitar 650 Masehi, yakni Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh atau yang nantinya dikenal sebagai Kerajaan Pajajaran setelah bersatu kembali.


Sikap Kepahlawanan Purnawarman

Sikap kepahlawanan Maharaja Purnawarman terlihat dari sosoknya yang amat dihormati oleh rakyat Tarumanegara. Hampir seluruh kegiatan yang dilakukan, termasuk rangkaian proyek sungai, melibatkan masyarakat secara gotong royong dan memberikan dampak besar terhadap ekonomi rakyat Kerajaan Tarumanegara.

Purnawarman menghargai rakyat dari segala kalangan, juga sangat menghormati kaum brahmana. Setiap kali selesai mengerjakan kegiatan besar yang melibatkan seluruh rakyat, Purnawarman menggelar selamatan besar-besaran dengan mengundang warga untuk berpesta. Sumbangan dalam jumlah besar juga kerap diberikan Purnawarman kepada kaum brahmana.

Contoh sikap kepahlawanan Maharaja Purnawarman juga terlihat dari keberaniannya. Ia adalah sosok raja yang pemberani dan menguasai berbagai ilmu serta strategi perang. Purnawarman memperoleh gelar Bhimaparakramoraja, yakni raja yang perkasa dan dahsyat.


Keperkasaan dan ketangkasan Maharaja Purnawarman membuatnya mendapat julukan Wyaghra ring Tarumanagara alias Harimau Tarumanagara. Purnawarman juga berjuluk Sang Purandara Saktipurusa atau manusia sakti penghancur benteng karena tidak ada satu pun musuh yang bisa melukainya.

Salah satu contoh sikap kepahlawanan Purnawarman lainnya adalah komitmen sang raja untuk melindungi segenap rakyat Tarumanegara, termasuk dari ancaman bajak laut. Di masa-masa awal pemerintahannya, Maharaja Purnawarman melancarkan operasi penumpasan terhadap bajak laut yang sering meresahkan di perairan laut Tarumanegara.

Menurut penelitian yang terhimpun dalam Laporan Diskusi Panel: Menggali Kembali Sejarah Kerajaan Tarumanegara (1991) yang disusun Yoesoef Effendi dan kawan-kawan, selama 4 tahun yakni dari 399 hingga 403 M, Maharaja Purnawarman melancarkan perang terhadap bajak laut.

Maharaja Purnawarman bahkan memimpin langsung angkatan laut Kerajaan Tarumanegara dalam pertempuran melawan bajak laut di perairan Ujung Kulon dalam operasi pertamanya. Dari 80 orang perompak, 52 orang dapat ditangkap dan ditawan, sementara sisanya tewas dalam peperangan.


Berkat rangkaian operasi penumpasan bajak laut ini, perairan Jawa di sebelah utara, barat, dan timur pun akhirnya bersih dari para perompak yang sebelumnya sering membuat resah kapal-kapal yang melintas, termasuk para nelayan, pedagang, pejabat kerajaan, tamu negara, dan lainnya.

Dikutip dari Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa (1997) karya Yoséph Iskandar, Sri Maharaja Purnawarman meninggal dunia pada 24 November 434 M dalam usia 62 tahun. Jenazah pemimpin terbesar Kerajaan Tarumanegara ini dikebumikan di tepi Sungai Citarum.

Silsilah Raja-raja Tarumanegara

  1. Jayasingawarman (358-382 M)
  2. Dharmayawarman (382-395 M)
  3. Purnawarman (395-434 M)
  4. Wisnuwarman (434-455 M)
  5. Indrawarman (455-515 M)
  6. Candrawarman (515-535 M)
  7. Suryawarman (535-561 M)
  8. Kertawarman (561-628 M)
  9. Sudhawarman (628-639 M)
  10. Hariwangsawarman (639-640 M)
  11. Nagajayawarman (640-666 M)
  12. Linggawarman (666-669 M)


Baca juga artikel terkait PURNAWARMAN atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Iswara N Raditya
Penyelia: Addi M Idhom
DarkLight