Siasat Obral Diskon Pasca-Pencoblosan, Sukseskah?

Oleh: Joan Aurelia - 18 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Diskon pemilu antara idealisme dan gimik.
tirto.id - Kepulan asap Kopaja, suara bising knalpot, dan klakson ojek online seolah tak mengganggu kenyamanan Eka. Ia duduk santai menyandarkan punggung di tiang halte bus Kota Kasablanka Mall (KoKas). Matanya fokus melihat layar ponsel yang menampilkan deretan diskon pemilu dari aplikasi Instagram. Ibu jarinya tak henti bergerak mencari promo paling menarik yang ditawarkan para tenant mal.

“Aku kepingin makan es krim, sih, Kak,” kata wanita berhijab ini kepada saya.

Ia punya cukup banyak waktu untuk memilih makanan lain sambil menunggu kawannya datang.

Eka jarang menjelajahi daerah Kuningan, Jakarta Selatan, karena ia tinggal di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Ketika kesempatan datang ke Jaksel tiba, ia pun ingin menikmatinya semaksimal mungkin. Walhasil, pada hari pemilihan umum, ia berburu diskon dengan menunjukkan jari bertinta.


Mal yang dituju Eka adalah salah satu pusat perbelanjaan yang gencar menyuarakan promo diskon via Instagram. Ketika pengelola mal besar lain seperti Grand Indonesia, Gandaria City, Senayan City, dan Pondok Indah Mall merasa cukup menyebarluaskan info promo lewat unggahan berisi deretan logo label retail peserta diskon, tim manajemen KoKas membentuk #AbisCoblosKeKokasYuk dan membuat program undian berhadiah mobil.

Unggahan dengan tagar tersebut mulai memadati linimasa Instagram resmi @kotakasablanka sejak dua hari lalu dan menampilkan berbagai poster diskon setiap tenant peserta.

Eka cepat mengambil keputusan. Ia langsung memilih satu dari ratusan promo dalam mal ini.

Ia menyasar Baskin Robins yang menawarkan diskon produk 50%. Menurut Eka, potongan harga tersebut masuk akal dibanding jenis diskon di tenant lain yang menawarkan upsize gratis atau beli satu gratis satu.

Tentu tak semua sependapat dengan Eka. Sekitar satu jam setelah mal dibuka, antrean para tenant makanan dan minuman cepat saji di tempat ini terkesan menyesakkan dada. Butuh kesabaran dan keteguhan hati untuk bisa mendapat paket makanan seharga Rp30.000 di WingStop, minum Chatime setengah harga, menikmati DumDum seharga Rp17.000, atau menyesap kopi di J.Co seharga Rp25.000.

Situasi menyesakkan itu berbanding terbalik dengan pemandangan lengang dalam toko seperti H&M, Cotton On, Braun Buffel, dan The Executive yang nampak tak begitu menarik minat pengunjung meski papan diskon telah terpampang di depan toko.

Beberapa calon pembeli bahkan tak menyadari program promo yang ditawarkan toko. Mereka terlihat bingung dan terkejut kala petugas kasir meminta menunjukkan jari bertinta sebagai syarat mendapat potongan harga.


“Ya, sebenarnya menyenangkan, kan, bisa dapat diskon setelah kita ikut pesta demokrasi. Jadi kesannya enggak cuma-cuma banget,” kata Tara yang telah mengantre di depan kasir gerai The Body Shop lebih dari 15 menit. Ia membeli tiga buah sabun mandi di toko yang tengah mengadakan promo beli satu gratis satu itu.

Mungkin pengusaha Sofjan Wanandi akan senang bila mendengar ucapan Tara. Dua hari sebelum pencoblosan, Sofjan antusias menyatakan di hadapan ratusan wartawan bahwa memanfaatkan hak pilih pada pemilu 2019 adalah aktivitas yang sangat penting dan baik untuk dilakukan.

“Biasanya saya tidak merayakan pekan paskah di Indonesia. Tapi minggu ini saya rela tidak ke luar negeri karena memilih pemimpin bangsa lebih penting. Ini pesta besar,” kata pria penggagas KlingKing Fun, program diskon yang melibatkan ratusan retail busana, aksesori, makanan dan minuman, bioskop, pusat perbelanjaan, serta toko daring seperti Tokopedia.

Sofjan yang juga ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia berharap bisa membantu meningkatkan partisipasi warga untuk ikut pemilu. “Mudah-mudahan partisipasi pemilih bisa mencapai jumlah 80% dengan adanya program diskon ini,” imbuhnya.

Panitia dan penyelenggara acara tidak bisa menyebut satu per satu retail yang mengikuti program diskon ini. “Yang jelas lebih dari 250 brand ikut program ini. Beberapa brand lokal di berbagai daerah juga ikut menyelenggarakan diskon,” kata Shinta Kamdani, wakil ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia.


Diskon pemilu nampaknya telah lama direncanakan para pengusaha retail. Ada yang merancang program dalam waktu singkat, ada pula yang telah merencanakannya sejak jauh-jauh hari seperti Ria Sarwono, pendiri label busana Cotton Ink.

Desember lalu, Ria menggagas kolaborasi dengan ilustrator Hari Prast, pemilik akun @harimerdeka. Ria menyatakan keinginannya memproduksi kaos yang bisa memotivasi keinginan publik untuk ikut pemilu.

“Ternyata enggak gampang untuk cari gambar yang menyiratkan kerukunan dan tidak berpihak. Lalu pas ASEAN Games kami lihat ada salah satu potret dua calon presiden berpelukan. Nah kami pikir itu tepat,” kata Ria ketika dihubungi Tirto lewat telepon.

Kaos itu seketika jadi barang laris. Ria berkisah, ketika memasuki musim debat capres, orang makin berminat untuk membeli kaos tersebut. Dua minggu sebelum pencoblosan, penjualan kaos meningkat tiga kali lipat.

Perempuan yang mendirikan Cotton Ink bersama rekannya, Carline Darjanto, ini merancang promo pemilu dengan memberikan baju gratis bagi pembeli terpilih.

“Cotton Ink ingin turut meramaikan momen ini,” lanjutnya.


Keinginan serupa juga dimiliki Yudith Natalia Kindangen, pemilik kedai kopi Coffeedential. “Aku harap orang bangga dan semangat menunjukkan jarinya di depan petugas toko kami,” ucap Ria. Hari ini semua pembeli kopi susu hanya dikenakan biaya Rp10.000.

Pada hari-hari spesial seperti Valentine dan hari raya, Yudith mengaku kedai kopinya bisa menerima pendapatan 2-3 kali lipat ketimbang hari biasa. Pada hari pencoblosan, ia berharap bisa menjual 200-300 gelas kopi.


Infografik Pemilu atau liburan
undefined


“Ya enggak mungkin juga milih karena mau kejar diskonan di mana-mana. Aku milih ya karena mau milih. Terdengar agak aneh kalau ada yang nyoblos karena mau dapat diskon. Lagipula diskon-diskon kali ini biasa saja,” ujar Angelina, 30 tahun, dalam pesan singkat yang disampaikan kepada Tirto.


Di sisi lain, beberapa pedagang di Pasar Santa, Jakarta Selatan, punya pikiran berbeda.

“Sebenarnya aku bikin promo hari ini supaya orang-orang datang ke pasar. Tapi sepertinya mereka lebih tertarik untuk datang ke mal,” kata Adam, pemilik toko aksesori A-Craft yang mengakui Pasar Santa cukup sepi.

Ia mencoba menarik pengunjung lewat potongan harga dan pemberian produk cuma-cuma. “Jenis promonya beragam, tergantung benda apa yang mereka beli,” lanjut pria yang sudah bersyukur telah kedatangan dua pembeli pada hari itu.

Agung, pemilik kedai Timur Barat, mengaku hanya iseng mengadakan promo pemilu. Ia berniat memberi minuman gratis kepada tamu dan menyebarkan info diskon via Instagram satu hari sebelumnya. “Tapi, ya, orang-orang rasanya ingin yang jelas-jelas saja, langsung ke mal,” kata Agung pelan.

“Sebenarnya diskon pemilu semacam gimik. Apalagi untuk para pedagang benda hobi,” tutur Samson Pho, pemilik Laidback Blues Record Store, toko piringan hitam yang hari itu memberi potongan harga 10% untuk seluruh pembeli.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf