Serba Salah Busana India di Bawah Kolonialisme Inggris

Potret keluarga India dengan berpakaian tradisional India sambil duduk di sofa. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 5 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Di mata orang Inggris pada abad ke-19, busana orang India dianggap sebagai lambang inferioritas.
Dalam Plain Tales from The Raj (1975), sejarawan Inggris Charles Allen bercerita soal Kenneth Warren, pegawai negeri sipil Inggris yang bertugas di Upper Assam, daerah sangat terpencil di India pada masa penjajahan Inggris. Warren dikisahkan berupaya mati-matian untuk mempertahankan tampilan kelas sosialnya bahkan saat sedang makan malam seorang diri di kediamannya.

“Aku memakai setelan jas lengkap demi mempertahankan kehormatanku. Aku berkata kepada pelayanku--yang heran melihatku tampil begitu rapi padahal hanya makan malam sendiri--’Mulai sekarang setiap malam adalah pesta makan malam dan kamu akan melayani jamuan ini seolah ini adalah pesta jamuan yang dihadiri orang banyak,” catat Allen mengutip Warren.

Penggalan kisah tersebut adalah cerminan bagaimana orang Inggris yang tinggal di India selama zaman kolonial selalu berusaha membedakan diri dengan penduduk asli. Prinsip utamanya: haram bila orang Inggris menyesuaikan diri dengan laku hidup orang-orang India.

Emma Tarlo, profesor antropologi dari Goldsmith University London, dalam studi "British Attitudes to Indian and European Dress" yang terbit dalam The Fashion History Reader (2010) menyebut pandangan sebelah mata terhadap orang-orang India setidaknya terjadi pada abad 19 saat orang-orang Inggris sampai di pelabuhan di India. Mereka menganggap pria-pria India yang di sekitar pelabuhan jorok karena hanya mengenakan kain untuk menutup tubuh dan tidak mengenakan alas kaki.


Orang-orang Inggris lantas menganggap warga India terbelakang dan tidak beradab. Dari sanalah muncul anggapan bahwa meniru perilaku atau mengadopsi elemen budaya orang India sama halnya dengan mendegradasi moral dan superioritas bangsa Barat.

Sebetulnya, orang-orang Inggris punya kekaguman terhadap busana tunik yang dikenakan pria elite di India dan busana sari yang dikenakan perempuan-perempuan di negara Asia Selatan itu. Namun, mereka memilih mengesampingkan kekaguman tersebut dan terus menggaungkan anggapan bahwa segala sesuatu terkait India adalah lambang inferioritas.

Berdasar studi Tarlo, stereotip terhadap busana India sepanjang abad ke-19 terlihat jelas dalam karya sastra novel, koran, kartun-kartun bertema politik, dan juga catatan harian dari orang-orang yang hidup pada masa tersebut.

Hal yang kemudian mereka lakukan terhadap busana India adalah mengekspor beberapa ‘sampel’ ke Inggris untuk ditiru desainnya, diproduksi di sana, dan dikirim kembali ke India untuk diperdagangkan dengan label ‘katun Manchester’.

Kebetulan, pada periode itu, sejumlah penemu di Inggris merancang mesin jahit sehingga memungkinkan produksi massal.

Orang-orang Inggris mengklaim ‘Katun Manchester’ berkualitas tinggi. Padahal, katun yang jadi material dasar pembuat kain pun berasal dari India.

Bagi orang Barat, ‘katun Manchester’ membuat derajat orang India sedikit meningkat dan membuat mereka tampil sedikit lebih beradab.

Ketika orang Inggris enggan mengadaptasi elemen busana orang India, orang-orang India terutama yang berasal dari kalangan elite mulai mengenakan setelan jas serupa dengan yang dikenakan orang Eropa.

Dalam Cloth, Clothes, and Colonialism: India in the Nineteenth Century (1998) disebutkan bahwa para elite pria dan kaum intelektual di India memadukan setelan jas dengan turban yang khas dari negara mereka. Ada kalanya turban diganti dengan jenis penutup kepala lain seperti topi kupluk atau topi yang biasa dikenakan tentara.

Orang-orang Eropa tidak memprotes hal ini karena menyadari bahwa kaum elite dan terpelajar India kerap kali membantu mereka dalam politik dan bisnis. Namun, di mata orang Eropa, meski orang India memakai setelan jas, mereka tetap saja tidak akan bisa menyamai orang Eropa akibat kualitas pakaian dan kebiasaan yang tetap dianggap berbeda.

Sejak abad ke-18, kaum terpelajar India memegang posisi penting--pengelola keuangan atau guru bahasa Persia dan Urdu--dalam perusahaan yang didirikan orang Inggris. Mereka tidak hanya mengenakan setelan jas dari Eropa tetapi juga alas kaki berupa selop. Namun barulah pada awal abad ke-19, kaum terpelajar dan elite India yang bekerja di kantor-kantor Inggris diperkenankan menggunakan sepatu saat menghadiri acara semi-formal di luar urusan kantor.

Namun, pada praktiknya penggunaan busana dan aksesori yang terpengaruh dari negara Barat ini jadi cukup rumit akibat ada benturan dengan nilai-nilai setempat. Oleh karena itu muncul beragam kritik terutama ditujukan kepada penganut Hindu. Ada yang menyebut bahwa tidak sepatutnya orang India masuk ke ruang kerja orang Inggris dengan memakai alas kaki karena itu sama saja dengan menghina budaya India. Orang Inggris yang membiarkan orang India masuk ke dalam ruangan dengan menggunakan sepatu dianggap tidak mengerti dan tidak menghargai etika bangsa lain. Para tetua adat di India mengharapkan orang Inggris sanggup memahami bahwa setiap bangsa memiliki simbol kesopanan yang berbeda. Ada yang menyimbolkan kesopanan dengan tindakan melepas tutup kepala atau melepas alas kaki.




Orang India yang diperkenankan secara leluasa mengadaptasi busana dan aksesori orang barat adalah para penganut agama Kristen. Menurut dokumen-dokumen zaman itu, tidak ada kisah soal pemuka adat atau pejabat India yang memprotes kaum awam penganut Kristen yang mengenakan jas atau sepatu di manapun dan kapanpun.

Di sisi lain, orang-orang Bengal yang pada saat itu masih hidup sesuai nilai-nilai tradisi Hindu mesti berusaha keras agar bisa mengganti gaya penampilan mereka. Yang diprotes tidak semata soal izin mengenakan busana barat tetapi juga terkait aturan penggunaan pagri (penutup kepala).

Mereka akhirnya mengajukan usul kepada pemerintah Bengal agar diperkenankan melepas pagri dalam pertemuan dengan orang-orang Inggris. Alasannya, pagri tidak ergonomis untuk digunakan dan tidak memiliki fungsi penting untuk dipakai.

Pandangan sebelah mata juga tertuju pada perempuan India. Para isteri misionaris merasa risih melihat mayoritas perempuan India yang mengenakan busana yang kurang tertutup. Oleh karena itu para isteri misionaris ini kemudian mendoktrinasi mereka dengan beberapa jenis busana yang dianggap sopan di mata perempuan Barat.

Mereka (terutama yang berasal dari kasta Nadar di kalangan orang Tamil) kemudian mengadaptasi gaya busana para isteri misionaris. Di samping itu mereka juga mulai menggunakan syal sebagai pelengkap gaya.

Baca juga artikel terkait INDIA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight