Selfie Bukan Cuma Soal Narsisisme

Selfie Bukan Cuma Soal Narsisisme
Ilustrasi selfie. FOTO/CNA
12 Februari, 2018 dibaca normal 3 menit
Ada beberapa hal positif dari mengambil pose solo dan membagikannya ke media sosial.
tirto.id - Predikat kota paling aman atau paling nyaman untuk ditinggali boleh jadi tak asing lagi di telinga. Lain halnya dengan predikat “kota paling doyan selfie”. Pada Maret 2014 silam, Time merilis daftar kota-kota dengan penduduk paling gemar mengambil pose solo di seluruh dunia. Peringkat pertama diduduki oleh Makati City, Filipina, dengan prevalensi 258 pengambil selfie per 100.000 orang.

Ada beberapa kota di Indonesia juga yang masuk dalam daftar tersebut. Di peringkat 18, bertengger Denpasar dengan prevalensi 75 per 100.000 orang, peringkat 43 ada Yogyakarta dengan prevalensi  51 per 100.000 orang, dan Bandung bercokol di peringkat 88 dengan prevalensi 33 per 100.000 orang.

Selfie, yang sempat menjadi Word of The Year 2013 versi Oxford Dictionary, memang telah menjadi bagian dari komunikasi di era digital bagi berbagai kalangan warganet, terutama milenial. Berdasarkan survei Pew Research Center tahun 2014, 55 persen warga AS usia 18-33 pernah membagikan foto selfie di media sosial.

Sebagian pihak memandang selfie yang jamak dibagikan warganet ini mengisyaratkan hal negatif, contohnya selfie berkaitan dengan sifat narsisisme dan kebutuhan akan pengakuan yang begitu besar. Berbagai kajian ilmiah telah dilakukan untuk menggali fenomena selfie dan tidak sedikit dari temuan-temuan yang diperoleh mengafirmasi sisi gelap selfie. Satu di antaranya menghasilkan term 'selfitis' yang dideskripsikan sebagai gangguan mental yang berkaitan dengan selfie.

‘Selfitis’, Sisi Gelap Selfie

Selfitis merujuk pada kondisi ketika seseorang secara obsesif mengambil foto selfie. Kata ini pertama kali disebutkan pada tahun 2014 dalam sebuah artikel hoaks di Adobo Chronicles. Di sana dikatakan bahwa American Psychiatric Association (APA) telah secara resmi menggolongkan kegiatan mengambil selfie sebagai gangguan mental.

Kebenaran artikel tersebut dibantah organisasi bersangkutan yang dalam situsnya menyatakan, “Tidak, selfitis tidak dimasukkan dalam DSM-5 [buku pegangan para psikiater untuk menggolongkan gangguan mental], tetapi masih banyak gangguan mental sungguhan yang membutuhkan pengobatan.”.

Selfitis adalah gangguan mental semakin dipercaya sebagai bualan karena pada laman About situs yang merilis artikel terkait dinyatakan bahwa konten-konten yang mereka publikasikan adalah tulisan-tulisan kreatif, bukan berita.

Kendati selfitis sebagai gangguan mental menurut APA sudah diafirmasi sebagai kebohongan, bukan berarti studi yang bertujuan menguji apakah ada relasi antara aktivitas selfie dengan gangguan mental tak lagi dilanjutkan.

Dilansir The Independent, Mark Griffiths dan Janarthanan Balakrishnan membuat studi eksploratif terkait selfitis yang dimuat di International Journal of Mental Health Addiction tahun 2017. Kedua peneliti ini mencetuskan Selfitis Behaviour Scale yang bisa digunakan untuk mengukur perilaku gemar mengambil selfie anak-anak muda.

Setelah mendapat temuan-temuan studi, Balakrishnan menyatakan, “Biasanya, mereka yang menderita hal ini [selfitis] merasa kurang percaya diri dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, dan mereka mungkin memperlihatkan gejala serupa dengan perilaku kecanduan.”

Ia berharap, dengan dilakukannya penelitian awal soal selfitis, akan muncul penelitian-penelitian susulan yang mengkaji lebih dalam tentang perilaku obsesif dalam ber-selfie dan menemukan solusi untuk orang-orang yang berperilaku demikian.

Perspektif Lain Soal Selfie

Sekalipun sering diasosiasikan dengan sifat narsisis, terlebih pada milenial, selfie sebenarnya bukanlah fenomena yang baru muncul pada abad ke-21. Memang benar terminologi ini baru muncul ada tahun 2000-an, tetapi perilaku mengambil gambar diri telah ada sejak puluhan ribu tahun silam.

Diana Parkinson, psikoterapis dari Inggris, menyatakan dalam Stylist, “Selfie telah menjadi cara berkomunikasi yang diterima masyarakat. Ini adalah cara modern memamerkan diri karena semakin banyak dari kita yang berkomunikasi secara online, demikianlah cara dan tempat kita memproyeksikan diri. Manusia selalu melakukan selfie sejak dulu, entah dengan gambar-gambar di gua atau potret diri—ini mengafirmasi ulang identitas kita. Ini adalah evolusi alamiah.”

Berbekal anggapan bahwa selfie merupakan fenomena budaya komunikasi yang telah berevolusi, desainer game asal California, Tommy Honton dan Tair Mamedov, memelopori pembuatan Museum of Selfies di AS. Dikutip The Guardian, museum kreasi Honton dan Mamedov akan dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama akan diperlihatkan kronologi potret diri yang ditemukan mulai dari lukisan di gua sampai galeri foto di Facebook. Sementara pada bagian kedua akan dipertunjukkan karya-karya seni kontemporer yang terinspirasi dari budaya selfie.


Selfie Bukan Cuma Soal Narsisisme

Bagi anak-anak muda, selfie merupakan bagian dari pembentukan identitas dan eksplorasi diri. Dr. Andrea Letamendi, psikolog klinis dari UCLA mengungkapkan, “Selfie memungkinkan anak muda dan remaja untuk mengekspresikan perasaan dan membagikan pengalaman-pengalaman penting.”

Lewat selfie, anak muda bisa menjajal cara tampil dengan pakaian, dandanan, pose, dan di tempat-tempat tertentu. Hal ini berpengaruh terhadap perasaan mereka karena dapat terkait dengan bagaimana orang-orang yang terhubung secara online menerima dan bereaksi atas gambar diri mereka.

Asosiasi negatif selfie memang diamini sebagian orang. Namun, Dr. Pamela Rutledge, direktur Media Psychology Research Center, menangkap yang sebaliknya dari selfie. Ia menyatakan bahwa selfie menyangkut sikap apresiatif dan syukur seseorang.

Aneka pengalaman menarik di tempat-tempat tertentu yang diabadikan dalam selfie dan dibagikan kepada orang-orang di media sosial merupakan perwujudan sikap-sikap tersebut. Dengan melihat kembali memori manis yang tercetak dalam foto-foto selfie, seseorang juga bisa meningkatkan level optimismenya lantaran foto-foto tersebut memuat emosi positif.

 
Selain Rutledge, Gwendolyn Seidman, associate professor Psikologi di Albright College yang berfokus pada relasi dan cyberpsychology juga memandang selfie sebagai hal yang tak buruk-buruk amat. Ia berargumen, aksi membagikan foto selfie bisa membuat seseorang lebih peka terhadap reaksi orang lain dan menjadi mawas diri.

Melatih kepekaan bisa dianggap sebagai hal yang positif. Akan tetapi, hal ini bisa menjadi bumerang ketika yang didapatkan seseorang adalah komentar-komentar negatif terhadap foto selfie-nya. Penilaian dan kepercayaan diri yang anjlok adalah efek samping publikasi selfie yang tidak jarang dialami orang-orang.


Efek negatif bagi diri pengambil selfie ini semakin dimungkinkan oleh adanya standar-standar kecantikan atau pencapaian yang bila tidak diikuti hanya akan mendatangkan cibiran.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - ita/msh)

Keyword