24 Desember 1979

Sejarah Uni Soviet Menginvasi Afganistan saat Malam Natal

Ilustrasi Uni Soviet menginvasi Afganistan. tirto.id/Sabit
Reporter: Felix Nathaniel - 24 Desember 2019
Dibaca Normal 5 menit
Sehari sebelum perayaan kelahiran Yesus, Uni Soviet menginvasi Afganistan dan membuat perang panjang tak berkesudahan.
Afganistan, 1979.

Ketika pasukan Uni Soviet mulai memenuhi jalan-jalan di Kabul dan perang mulai berkecamuk, seorang remaja berusia 17 tahun memutuskan pergi meninggalkan rumah dan keluarganya. Berbekal 100 dolar Amerika di tangan, dia berjalan kaki sejauh lebih dari 100 kilometer ke Wardak. Setelahnya menuju ke Peshawar, Pakistan, selama 10 hari. Remaja itu bernama Shaifiqullah Akbari.

Hari demi hari dilewati Akbari semampu dan sekuat-kuatnya untuk bertahan hidup. Hingga pada suatu hari berselang sembilan tahun kemudian, ia sudah berada di bandara Montreal, Kanada. Dia menjadi bagian dari gelombang pertama ribuan pengungsi Afganistan di negara tersebut.

Dengan membawa sebuah koper hitam yang berisikan akte kelahiran, ijazah sekolah, album foto keluarga, kacamata ayahnya, hingga sebilah pisau saku yang dulu biasa digunakan ibunya untuk mengupas buah-buahan, Akbari menghampiri seorang petugas di bandara tersebut.

"Saya pengungsi dari Afganistan," katanya. "Saya ingin suaka."

Prosesnya berlangsung cepat kala itu dan petugas tersebut segera memberikan Akbari tanggal persidangan khusus pengungsi. Di luar, setelah juga mengaku sebagai pengungsi, seorang pengemudi taksi yang baik memberikannya tumpangan ke stasiun kereta terdekat sehingga ia bisa naik kereta ke Toronto.

Sepanjang perjalanan, Akbari terus mengulang alamat rumah saudaranya di 1213 Baldwin St., jaga-jaga seumpama dia kehilangan satu-satunya kertas tempat alamat itu ditulis.

Kini Akbari, yang berprofesi sebagai makelar properti, telah berusia 59 tahun dan hidup tenteram di Brampton bersama istri beserta tiga orang anaknya. Beberapa kali ia membantu mengurus para pengungsi lain dari Afganistan yang juga hijrah ke Kanada.

Tapi, tentu tidak setiap pengungsi Afganistan bernasib "baik" seperti Akbari. Sebagai contoh, Sultan Gul, yang sudah 25 tahun bermukim di Pakistan tanpa kehidupan layak. Sebagaimana dilaporkan Radio Free Europe Radio Free Liberty, dengan kondisi sebelah kaki harus diamputasi akibat terkena ranjau darat, Gul tidak bisa bekerja apa-apa. Sementara anaknya mencapai 12 orang dan untuk tempat tinggal mereka, Gul hanya mengandalkan kamp pengungsian yang ada.

Ketika pada 2002 kepulangan pengungsi Afganistan terjadi besar-besaran, Gul tidak mau ikut karena merasa bukan waktu yang tepat untuk tinggal di sana. Keengganan yang sama juga sempat dirasakan oleh Mohamad Wali. Menurutnya, meski perang telah selesai tahun 1989, kini ada kelompok Taliban yang berkuasa melawan pemerintah.

“Tidakkah kamu tahu kematian telah menunggumu? Jika kamu kembali, kemungkinan cuma dua: dibunuh pemerintah atau Taliban. Lebih baik di Pakistan, setidaknya kita bisa hidup,” ucap Wali seperti dikutip AFP.


Menciptakan Perang

Hubungan Soviet dengan Afganistan sejatinya sempat baik. Warsa 1921, Soviet-Afganistan menandatangani Treaty of Friendship agar berada dalam posisi setara dan netral, serta tidak melancarkan agresi militer satu sama lain. Perjanjian ini berlaku 10 tahun dan terakhir diperpanjang tahun 1975.

Pada 27 April 1978, kelompok komunis berkuasa di Afganistan setelah pemberontakan yang dipimpin oleh Nur Muhammad Taraki berhasil menggulingkan pemerintahan Mohammed Daoud Khan. Hal itu terjadi juga disebabkan karena hubungan Daoud dengan Soviet merenggang. Selain lebih menjalin hubungan baik dengan Saudi Arabia dan Amerika Serikat, dia juga mencopot penasihat militer Afganistan yang berasal dari Soviet.

Meski pihak komunis berkuasa di bawah pemerintahan Taraki, mereka tetap tak mampu mengambil hati rakyat. Pasalnya, kelompok sayap kanan konservatif masih berkuasa di masyarakat. Perlawanan terjadi di mana-mana, termasuk juga pembunuhan sejumlah anggota Partai Rakyat Demokrasi Afganistan (PDPA).

Kerusuhan paling besar terjadi di kawasan Herat pada Maret 1979. Petani dan warga mengacungkan senjata, melewati jalanan yang penuh dengan pohon pinus menuju kantor gubernur setempat. Seraya membumihanguskan lambang-lambang komunis di sana, massa juga menyerbu penjara, merampok dan membakar bank, kantor pos, kantor surat kabar, serta gedung-gedung pemerintahan.

Orang-orang yang tak mengenakan baju agama muslim tradisional dipukuli. Pejabat Soviet yang berada di Herat tidak bisa melarikan diri. Setelahnya, tidak ada yang tahu pasti situasi di Herat. Sebagian saksi mata mengatakan, tubuh korban yang dimutilasi diarak warga keliling kota. Membalas tindakan ini, Soviet sempat menjatuhkan bom dua hari berturut-turut dan menyebabkan 20 ribu warga meninggal dunia.

Pada akhirnya, kerusuhan di Herat berhasil diredam pemerintah. Namun, riak-riak protes itu masih tersisa. Akhirnya internal partai yang bergerak melawan Taraki.

Berdasarkan kesaksian warga Afganistan bernama Reza, yang termaktub dalam A Darkling Pain (2015) karya akademisi Universitas California, Kristen Renwick Monroe, dkk, Taraki akhirnya tewas di tangan perdana menterinya: Hafizullah Amin. Pada Oktober 1979, Amin menyekap mulut dan hidung Taraki dengan bantal sampai mati lemas.

Setelah itu, ia menjadi presiden.

Amin bukanlah sosok yang ideal bagi Soviet. Latar belakang pendidikan Amin yang pernah bersekolah di AS membuat Soviet tak percaya kepadanya. Berdasar penuturan Reza masih dari buku yang sama, Soviet juga pernah beberapa kali mencoba membunuh Amin.

Kepemimpinan Amin akhirnya menyebabkan Soviet memutuskan menginvasi Afganistan. Hal ini tak lepas dari doktrin Leonid Brezhnev, pemimpin Rusia kala itu, yang menganggap Soviet perlu campur tangan terhadap negara yang menjadi rekan kerja samanya.

“Bagi Rusia, ini adalah dorongan terakhir,” tulis mantan Duta Besar Inggris di Moskow, Rodric Braithwaite dalam Afgantsy: The Russians in Afganistan 1979-89 (2011).

Pasukan yang dikirim oleh Rusia adalah 40th Army yang merupakan salah satu pasukan terkuat Soviet dan pernah digunakan di perang dunia II. Meski dibentuk ulang secara mendadak di tahun 1979, dalam arahan Letnan Jenderal Yu V. Tukharinov, pasukan tersebut berhasil menghabisi nyawa Amin hanya dalam tiga hari setelah kedatangannya.

Peneliti dari Fort Leavenwort, Kansas, Lester W. Grau menuturkan dengan cukup lengkap bagaimana Soviet mensukseskan gerakan yang disebut Operasi Badai-333 tersebut dalam laporannya berjudul The Take Down of Kabul: An Effective Coup de Main (2002).

Cara utama melalui pasukan pengintai dan batalion serangan udara yang bertujuan untuk merebut jalan Salang. Soviet percaya, penguasaan jalur ini memudahkan pasukan menuju Kabul di mana Amin berada. Dengan pesawat terbang, Soviet juga menerjukan resimen Parasut ke-345 untuk membantu mengangkut peralatan dan menambah pasukan.

Kesalahan Amin adalah membiarkan penasehat Soviet masih menduduki jabatan di pertahanan Afganistan. Dengan demikian, pasukan Soviet dapat masuk ke wilayah udara Afganistan tanpa hambatan. Amin tak paham apa yang akan mendatanginya kelak.

Pada 27 Desember 1979, Amin masih menggelar makan malam mewah di kediamannya, Istana Tajbeg. Kehadiran petinggi PDPA dari Moskow meyakinkannya bahwa hubungannya dengan Soviet berlangsung baik. Yang ia tidak tahu, di luar istana pasukan Soviet sudah mengepungnya. Sementara di dalam juga sudah ada beberapa anggota Spetsnaz--tentara khusus Soviet.

Ketika serbuan terjadi ke Istana, Amin hanya mengenakan celana pendek dan kaos. Dia meminta ajudannya memberitahu perwakilan Soviet bahwa ada penyerangan. Sang ajudan membalas bahwa pelakunya justru dari pihak Soviet.

“Bohong. Itu tidak mungkin,” kata Amin tak percaya sekaligus pasrah.

Ketika satu rombongan pasukan Soviet mendatangi ruangannya, Amin tengah membaringkan diri di atas meja kayu. Sejurus kemudian, ia dibunuh. Penyerbuan itu hanya berlangsung selama 45 menit. Dan usai penyerbuan ini, Soviet memilih Babrak Karmal, seorang komunis yang juga perwakilan mereka, sebagai presiden Afganistan selanjutnya.

Satu hal yang bisa jadi abai diantisipasi Soviet terkait penyerbuan tersebut: apa yang mereka lakukan justru melahirkan kaum Islam ekstremis yang kelak menjadi masalah bagi Barat dan dunia.


CIA, Tumbuhnya Al-Qaeda, dan Taliban

Penolakan atas Soviet datang dari masyarakat yang mengelompokkan diri dengan sebutan mujahideen atau mujahidin.

Dukungan terhadap kaum mujahidin datang dari negara Arab seperti Saudi Arabia-–yang notabene tidak suka dengan Soviet. Saudi menganggap Soviet mau mengobarkan revolusi di negara-negara Arab. Sementara itu, AS melalui Central Intelligence Agency (CIA) juga turut mendanai kaum mujahidin lalu menjadikan perang Soviet-Afghan sebagai proxy war.

Global Politics Magazine mencatat keterlibatan CIA mendanai mujahidin memang tersamarkan. Pemberian dana dilakukan melalui Pakistan, yang juga mendukung mujahidin. Padahal saat itu, mujahidin juga didukung oleh Osama Bin Laden. Tugas utama Osama adalah memasok dana dan logistik dari negara Arab ke kaum mujahidin.

Menurut jurnalis senior AS, Roy Gutman dalam How We Missed the Story: Osama Bin Laden, the Taliban, and the Hijacking of Afganistan (2008), andil Osama dalam Soviet-Afghan War telah menjadikannya sebagai sosok berpengaruh. Ia juga berhasil membangun Al Qaeda pada tahun 1988.

Setahun setelah hadirnya Al-Qaeda, Soviet akhirnya kewalahan dan menarik pasukannya pada 1989. Namun, perang sipil segera bergejolak di Afganistan. Kelompok lain yang tumbuh adalah Taliban. Mereka memperkenalkan diri pada tahun 1994. Dua tahun berdiri, Taliban telah berhasil menguasai sebagian besar daerah di Afganistan, termasuk Kabul.

Mereka bahkan membentuk pemerintahannya sendiri dan menjadikan hukum Islam sebagai aturan utama.



Lulusan Universitas Norh Carolina, Larry P Goodson dalam Afganistan's Endless War: State Failure, Regional Politics and the Rise of the Taliban (2001) setuju bahwa akibat perang yang panjang, kelompok elit baru selalu muncul, tapi itu pula yang membuat Afganistan tidak pernah kuat membentuk pemerintahan.

Taliban juga punya hubungan baik dengan Osama Bin Laden. Ketika ada serangan 9/11, AS sudah mendesak Afganistan agar menyerahkan Osama, tapi Taliban menolaknya. Sikap tersebut lantas membuat AS melancarkan serangan terhadap mereka, pihak yang dulu justru dibantu saat menghadapi Soviet.


Ketika Osama meninggal pada tahun 2011 dan kegiatan Al-Qaeda lamat-lamat tak terdengar, tidak demikian dengan Taliban. Perang antara AS dengan Taliban terus berlangsung karena Taliban menolak adanya pembicaraan damai dengan pihak Paman Sam. Ada 20 tentara AS yang tewas tahun ini akibat perang tersebut

Bagaimanapun juga, segala duka yang dialami para pengungsi, hingga perang berkepanjangan yang melahirkan Al-Qaeda serta Taliban, tak bisa dilepaskan dari kejadian di malam Natal 24 Desember 1979, tepat hari ini 40 tahun lalu, tatkala Soviet mulai menginvasi Afganistan.

Sejak itu hingga detik ini, ribuan orang masih kehilangan tempat tinggal, dan yang paling parah: korban perang masih akan terus bertambah.

Baca juga artikel terkait INVASI atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight