Panen Opium di Tanah Taliban

Warga Afghanistan panen opium di sebuah ladang bunga poppy di distrik Golestan, Farah, Afghanistan. [Foto/Reuters/Goran Tomasevic]
Oleh: Tony Firman - 31 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Rezim Taliban di Afghanistan kerap disebut sebagai pemerintah yang memberlakukan syariat Islam sampai titik paling ekstrem. Tapi kenyataannya, rezim ini mendapatkan uangnya dari menanam candu alis opium.
tirto.id - Tim pasukan khusus AS dan pasukan Afghanistan menyelinap diam-diam ke daerah Marjah, kota pertanian yang berdebu di provinsi Helmand, Afghanistan Selatan. Selang beberapa saat, mereka baku tembak melawan gerilyawan Taliban. Sebuah sesi baku tembak pun berlangsung cukup panjang dan brutal.

Pasukan Amerika kalah jumlah oleh para militan Afghanistan. Buntut dari pertempuran itu, seorang tentara Amerika tewas pada 5 Januari 2016 lalu.

Selama pendudukan oleh pasukan AS dan Inggris, pertempuran sengit terutama terjadi di wilayah Helmand karena provinsi ini merupakan benteng militan Taliban. Menurut laporan IBTimes, sejak 2009 pasukan AS banyak dipasok ke daerah tersebut, dan sekaligus paling banyak mengalami korban tewas dan luka-luka, baik pasukan AS maupun Inggris. Wilayah ini juga bagian strategis dan penting karena rumah bagi ladang opium terluas di negara Afghanistan.

Opium Afghanistan memang telah terkenal sebagai produk terbesar, menjadi bahan lebih dari 90 persen heroin di seluruh dunia. Bersama dengan Pakistan dan Iran, Afghanistan membentuk poros bulan sabit emas yang merujuk pada daerah dengan budidaya opium dan ganja.

Jejak tanaman ini di Afghanistan meningkat saat Soviet menginvasi daerah tersebut pada 1979 sampai 1980. Dengan pengawasan dan kontrol yang kurang, produksi opium digenjot sebagai cara untuk menghasilkan pundi-pundi uang guna membeli senjata. Berbeda dengan nasib opium di Iran, penurunan produksi opium karena penyumbatan rute perdagangan juga hukuman berat untuk obat-obatan telah menurunkan produksi dari barang ini.

Di Pakistan, negara tetangga Afghanistan lainnya, pembatasan budidaya tanaman ini telah dilakukan dan mulai bergeser terpusat di Afghanistan pada akhir 1990-an, menciptakan jalur perdagangan baru.

Tahun ini, hasil produksi dari ladang opium melonjak 43 persen dengan mencapai 4.800 ton dari tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan produksi 3.300 ton. Data terbaru yang dirilis UN Office on Drugs and Crime (UNODC) pada 2016 menyebutkan, area yang digunakan sebagai ladang pertanian tanaman bunga poppy, sumber dari opium telah meningkat sebesar 10 persen menjadi 201.000 hektar dibanding tahun lalu yang memiliki luas total sebesar 183.000 hektar.

Provinsi Helmand sendiri tetap menjadi wilayah ladang opium terbesar dengan 80.273 hektar. Diikuti Badghis dengan luas sebesar 35.234 hektar, Kandahar 20.475 hektar, Uruzgan 15.503 hektar, Nangarhar 14.344 hektar, Farah 9.101 hektar, Badakhshan 6.298 hektar dan terakhir Nimroz dengan luas 5.303 hektar.

Penurunan luas ladang yang tercatat ada di wilayah Farah dan Nimroz yang masing-masing turun sebesar 57 dan 40 persen. Sedangkan kenaikan tinggi mencapai 184 persen terjadi ada di wilayah provinsi Badghis dan Badakhshan 55 persen.

Secara total, lahan opium Afghanistan yang terbesar pada 2016 ini ada di wilayah selatan dengan luas 117,987 hektar. Dibanding 2015, ladang ini mengalami penurunan sebesar 1 persen dari yang semula 119.765 hektar. Namun, seluruh wilayah lainnya mengalami peningkatan, seperti di wilayah utara yang meningkat 324 persen dari 1.875 hektar menjadi 7.951 hektar. Timur laut meningkat 55 persen dari 4.056 hektar menjadi 6.298 hektar. Wilayah timur meningkat 44 persen dari luas 12.424 hektar menjadi 17.608 hektar.

Di wilayah tengah, peningkatan terjadi sebesar 24 persen dari semula 321 hektar menjadi 398 hektar. Dan yang terakhir di wilayah barat meningkat sebesar 15 persen dari semula 44.308 hektar menjadi 41.067 hektar. Ini semua terjadi dalam rentang satu tahun, antara 2015 sampai 2016 hingga laporan ini diturunkan.

Untuk produksi hasil panen tahun ini, wilayah selatan yang memiliki ladang terluas mampu menghasilkan 2.591 ton disusul wilayah barat dengan 1.139 ton.

Tahun 2016 ini, pemberantasan opium berlangsung di 7 provinsi dan mengurangi sebanyak 355 hektar, namun pemberantasan ini jauh menurun dibanding pada 2015 yang berhasil memberantas 3.760 hektar di 12 provinsi yang tersebar.

Untuk Biaya Perang

Budidaya bunga poppy sebagai penghasil utama opium telah tercatat sebagai sumber utama dana perang sejak meletusnya perang Afghanistan-Soviet. Pemerintahan Presiden Najibullah bersama Soviet memerangi pemberontak Mujahidin yang belakangan ditunggangi Amerika Serikat. Ini tak bisa dipisahkan dari konteks Perang Dingin.

Ketika kelompok Mujahidin yang kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai kelompok milisi Taliban berhasil menumbangkan pemerintahan Najibullah, perdagangan opium juga dijadikan sumber pendanaan kelompok Taliban.

Laporan dari United States Institute of Peace yang berjudul "How Opium Profits the Taliban" mengungkapkan, ketika pasukan pimpinan AS resmi menginvasi Afghanistan pada Oktober 2001, larangan Taliban terhadap budidaya opium telah berjalan selama 15 bulan. Selama itu hampir tidak ditemukan ladang opium di seluruh wilayah selatan sebagai basis utama kelompok militan bersenjata Taliban ini.

Namun kemudian, beberapa komandan Taliban seperti yang disebutkan dalam penelitian tersebut terlibat dalam perdagangan yang statusnya menjadi ilegal tersebut. Tujuannya masih sama: untuk mendapatkan dana bagi kelompoknya.

Dalam survei tersebut, yang dilakukan pada 2009, lebih dari 80 persen responden percaya bahwa perjuangan para komandan Taliban di selatan lebih karena motif keuntungan berdagang opium daripada ideologi agama yang menjadi ideologi resmi Taliban. Menurut data intelijen NATO, hanya 5 persen dari komandan Taliban yang masih berjuang untuk menegakkan ideologi agama mereka.

Taliban mengenakan pajak zakat sebesar 20 persen di tiap truk yang membawa hasil opium, padahal secara umum zakat hanya pada 2,5 persen dari pendapatan atau kekayaan. Perjanjian perdagangan angkutan bilateral dengan Islamabad, Pakistan, pada 1965, juga memungkinkan komoditas secara sah dapat diangkut melintas negara dengan status bebas cukai dari pantai Pakistan ke Afghanistan. Ketika berbagai perusahaan mengirimkan barang-barang elektronik dan bahan makanan, sekembalinya ke Pakistan truk-truk ini juga membawa ganja, heroin dan selundupan lainnya.

Dalam laporan yang sama, Taliban juga menarik pajak bagi petani opium di wilayah kekuasaannya sebesar 10 persen dan menerapkan kontrol yang ketat. Bahkan di daerah yang tidak ada kekuatan dominan yang jelas, ada laporan bahwa terjadi pertempuran antara komandan Taliban, kelompok kriminal, dan pejabat korup yang semuanya dipicu memperebutkan petani-petani opium.

Selain pajak yang dipungut dari para petani bunga poppy tersebut, Taliban juga menarik pajak 10 persen dari para pemilik toko setempat, dan pemilik usaha kecil lainnya.

Pada 22 Mei 2016 kemarin, Mullah Mansour, pemimpin Taliban, tewas dalam serangan pesawat tanpa awak milik militer Amerika Serikat. Direktorat Keamanan Nasional Afghanistan mengatakan, Mansour telah dibunuh di daerah Dalbandi, provinsi Balochistan.

Laporan BBC menyebutkan, Mullah Mansour yang baru memimpin Taliban pada 2015 lalu menggantikan pemimpin sekaligus presiden Taliban, Mullah Omar, telah merepotkan dan banyak mengakibatkan kerugian di pihak militer Amerika Serikat.



Mullah Mansour juga diperkirakan telah mengembangkan sumber penghasilan baru yang sangat besar bagi Taliban, selain untuk memperkaya dirinya dan sesama sukunya. Apa lagi jika bukan perdagangan kartel obat-obatan multi miliaran dolar.

Seorang pejabat senior Afghanistan menjelaskan, konflik yang intens di provinsi Helmand ini juga berkontribusi besar terhadap terhalangnya upaya pemberantasan ladang opium di musim ini. Yuri Fedotov, Direktur Eksekutif UNODC, dalam siaran persnya di Brussel awal Oktober lalu mengungkapkan penjualan opium diperkirakan dapat meraup 15 milliar dollar AS dalam waktu empat tahun.

The Death Penalty For Drug Crimes in Asia tahun 2015 melaporkan, meskipun ada penerapan hukuman mati, Afghanistan tidak memiliki undang-undang yang mengatur hukuman mati sebagai ganjaran atas kejahatan narkoba. Dengan tingkat produksi opium terbesar di dunia, pemerintah memperkirakan bahwa saat ini ada sekitar 3 juta orang yang ketergantungan terhadap obat-obatan di negara tersebut.

Ini juga berkaitan dengan keadaan di lapangan bahwa pihak militer, polisi dan pejabat Afghanistan turut terlibat dan berperan dalam bisnis perdagangan opium.

Baca juga artikel terkait OPIUM atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Zen RS
DarkLight