Menuju konten utama
Mozaik

Karkono Kamajaya di Antara Warta, Candu, dan Kebudayaan Jawa

"Saya kira nama itu akan mengingatkan kita pada cinta kasih sesama manusia," ujar Karnoko saat menjelaskan penambahan "Kamajaya" pada namanya.

Karkono Kamajaya di Antara Warta, Candu, dan Kebudayaan Jawa
Header Mozaik Jurnalis Menyelundupkan Candu. tirto.id/Fuad

tirto.id - Ketika kayangan diserang musuh, Sang Hyang Guru yang tengah bertapa sulit dibangunkan oleh para dewa. Dalam keadaan terdesak, Kamajaya, sang dewa cinta, menembakkan panahnya membuat Sang Hyang Guru menghentikan pertapaan sekaligus mengingat istrinya.

Kayangan dapat diselamatkan oleh Sang Hyang Guru setelah para penyerang ditaklukkan. Keadaan kembali normal dan Dewi Uma, istri Sang Hyang Guru, akhirnya mengandung dan melahirkan Ganesya.

Sementara itu, Kamajaya kena hukuman akibat membangunkan tapa Sang Hyang Guru. Ia dibakar yang disusul istrinya, Dewi Ratih, atas niatnya sendiri membakar diri.

Karkono, seorang pejuang, wartawan, politikus, penulis, dan ahli kebudayaan Jawa yang hidup dengan integritas tinggi menambahkan Kamajaya pada namanya di usia 17 tahun. Nama itu pula yang menjadi nama pena dalam karya-karyanya.

"Saya kira nama itu akan mengingatkan kita pada cinta kasih sesama manusia," ujarnya dalam satu kesempatan.

Ia pernah menyelundupkan 22 ton candu dari Jawa ke Singapura untuk mengumpulkan dana bagi Republik Indonesia yang baru lahir. Tindakannya menghasilkan sejumlah besar uang untuk menopang kas negara selama tahun 1948-1949.

Salah satu pencapaian terbesarnya adalah melakukan transliterasi Serat Centini dari huruf Jawa ke aksara Latin yang terdiri dari 12 jilid buku dan 4000 halaman. Dikerjakan dalam waktu 17 tahun, dari 1974 hingga 1991.

Wartawan Tiga Zaman

Karkono Kamajaya dikenal karena kontribusinya dalam bidang sastra dan budaya Jawa. Ia mendalami berbagai profesi, antara lain perdagangan, jurnalisme, sastra, penerbitan, penulis lagu, hingga kepemimpinan politik.

Di usia muda, ia mencicipi era jurnalistik Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka. Kariernya dimulai saat umur 17 tahun usai menyandang nama Kamajaya bersama Oetoesan Indonesia dan Sedya Tama, keduanya berbasis di Yogyakarta.

Ia anak ketiga dari lima bersaudara yang lahir di Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah, pada Selasa Legi 23 November 1915, bertepatan dengan 15 Sura 1846 dalam kalendar Jawa. Nama aslinya Karkono Partokusumo.

Sedari bayi, ia diasuh oleh pamannya, Ki Sutopo Wonoboyo, seorang tokoh Taman Siswa, pemimpin majalah berbahasa Belanda, Sara Murti, sekaligus Ketua Pengurus Besar Persatuan Djurnalis Indonesia (Perdi).

"Saya malah lupa nama orang tua kandung. Kalau tak salah, nama muda Ayah itu Sadar, sedangkan Ibu bernama Wage," ujarnya dalam wawancara yang dilansir Gatra edisi 21 Oktober 1996.

Karkono terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan, mulai dari Neutrale Holands Inlandse Jongensschool, Solo, pada 1931, dan Gouvernements MULO di Solo pada 1933. Warsa 1935, ia bergabung dengan Taman Siswa di Yogyakarta dan menjadi jurnalis dengan nama samaran Kamajaya.

Ia masuk gerakan politik pada tahun-tahun awal jelang revolusi fisik. Berperan sebagai komisaris Indonesia Moeda (IM) dan Ketua IM Cabang Surakarta pada 1933 hingga 1934. Gerakan ini diketuai penyair kawakan Amir Hamzah.

Di tahun itu juga ia menjadi penulis merangkap sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) cabang Solo.

Pada tahun-tahun berikutnya, Kamajaya menjadi wartawan lepas dan kariernya kian melesat ketika dipercaya menjadi redaktur Poestaka Timur Yogyakarta sampai tahun 1941.

Selain aktif di pergerakan, ia juga terlibat dalam dunia seni pada masa awal pendudukan Jepang. Ia memimpin pertunjukan teater di Kebun Binatang Cikini, sekarang Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tak bisa lepas dari dunia pers, ia kembali memimpin berbagai media, termasuk redaktur harian Asia Raya yang dipimpin tokoh Parindra, Mr. Samsudin dan kepada redaksi Pertjatoeran Dunia dan Film. Kedua media ini berkantor di Jakarta.

Setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1946 hingga 1947, Kamajaya sempat menjabat sebagai Ketua DPRD Karesidenan Surakarta dan anggota Konstituante mewakili Partai Nasional Indonesia (PNI).

Karkono terakhir kali terlibat dalam politik sebagai Ketua I PNI Persatuan sebelum benar-benar pensiun dari dunia politik pada 1967. Ia memilih fokus pada kegiatan kebudayaan setelah menyaksikan sebuah konsep yang tidak sejalan dengan cita-citanya.

Ia menulis buku Sum Kuning pada 1972 berdasarkan kasus pemerkosaan oleh anak pejabat pada 1970 di Yogyakarta. Buku itu sempat dilarang Jaksa Agung, namun menginspirasi Frank Rorimpandey untuk mengangkatnya ke layar lebar pada 1978.

Film itu dicekal di Yogyakarta dan Kamajaya mendapatkan berbagai teror. Judul film sempat berganti menjadi Balada Sumirah sebelum akhirnya menjadi Perawan Desa dan berhasil menyabet Piala Citra pada 1980.

Kamajaya tiga kali gagal dalam biduk rumah tangga, dan hanya menyebut istri terakhirnya, Sri Murtiningsih yang ia persunting pada 1968. Dari pernikahan itu ia memiliki seorang anak bernama Sasi Karini Partokusumo.

Menyelundupkan Candu

Opium atau candu berperan penting dalam menopang keuangan negara saat Revolusi Kemerdekaan 1945-1949.

Perdagangan dan penyelundupan candu merupakan instruksi Perdana Menteri, Bung Hatta, pada 1948. Hasil penjualannya digunakan pemerintah untuk membayar gaji pegawai, membiayai perwakilan di luar negeri, dan membeli senjata.

Depo Regi Candu dan Kantor Obat di Yogyakarta dipilih sebagai pusat penyimpanan candu karena pertimbangan keamanan. Kala itu Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan dan pusat kekuasaan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Kamajaya membuka mulut setelah 22 tahun merahasiakan perannya dalam menyelundupkan candu. Adalah Wonohito, pemred Kedaulatan Rakyat yang memintanya menulis kisah heroik itu pada tahun 1970.

"Semula, saya menolak, tapi akhirnya saya jelaskan juga. Padahal ketika penyelundupan itu berlangsung, tidak pernah ada yang bertanya-tanya. Tahunya, saya pergi ke Jakarta, dan kadang-kadang ke front," terang pengagum Raden Ngabehi Ranggawarsita ini kepada Prasetya Adi dari Jakarta Jakarta edisi 28 Maret-3 April 1992.

Ia berangkat dari Kediri Selatan karena Candu yang masih mentah disimpan di Kantor Regi Candu dan Garam di Kediri, sementara pabrik tempat pengolahan candu terletak di Wonosari Gunung Kidul dan Beji Klaten.

Perjalanannya menempuh rute Lautan Hindia ke arah timur menyeberang Selat Bali.

"Berbahaya sekali, karena di sana banyak kapal Belanda yang patroli, sambung Kamajaya.

Mekanisme permohonan candu untuk dijual dilakukan dengan mengajukan surat permohonan kepada Kementerian Keuangan, Kementerian Pertahanan, atau Kantor Wakil Presiden.

Pemerintah membolehkan penjualan candu dalam mata uang NICA (f) dengan harga tertentu, yang lebih stabil dan dapat dipergunakan untuk membeli senjata atau perlengkapan perang dari luar negeri.

Dalam beberapa kasus, penjualan candu atau penyelundupan candu ke luar negeri dihargai dengan dolar Amerika Serikat.

Kamajaya bebas keluar masuk pemeriksaan karena menurutnya ia beruntung, tampangnya mirip China. Bahkan dalam beberapa kali penyelundupan, ia kerap menggunakan besek kecil, sementara candunya ia tumpuk dengan kue kering.

Tidak diketahui berapa nominal angka penjualan candu selama operasi itu dilakukan. Namun yang pasti tidak melulu dalam bentuk uang. Perdagangan barter lazim dilakukan, yang melibatkan komoditas seperti pakaian dan senjata.

Fokus dalam Kebudayaan Jawa

Karkono Kamajaya juga berkontribusi terhadap budaya Jawa dengan mendirikan Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan "Panunggalan", Lembaga Javanologi Yogyakarta sejak 1984 untuk mempelajari dan mengembangkan budaya Jawa. Ia sangat prihatin dengan menurunnya citra budaya Jawa dan mengkritik pemerintah yang mengabaikan pengembangan budayanya.

Ia menerjemahkan Serat Centhini, sebuah ensiklopedia Jawa yang ekstensif, menjadi 12 jilid selama 17 tahun, menampilkan dedikasinya dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Jawa.

Selain melakukan transliterasi Serat Centini, ia juga menulis berbagai buku, termasuk novel seperti Solo di Waktu Malam (1950). Lewat novel ini, ia berhasil mengangkat cerita-cerita lokal dan memperkenalkan mereka kepada pembaca modern.

Ia juga menciptakan ensiklopedi khazanah pengetahuan Jawa bernama Almanak Dewi Sri yang terbit tahun 1971, disusul buku dongeng rakyat Nagalinglung Tunggulwulung pada 1980.

Aktivitas budaya lainnya ia lakoni pada Yayasan Bahasa dan Kesusastraan Jawa di Yogyakarta pada 1957 hingga 1958, lalu Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) sejak tahun 1963.

Berbagai penghargaan berhasil diraihnya, salah satunya diberikan oleh panitia Borobudur Writers & Cultural Festival dan diberi nama Sang Hyang Kamahayanikan Award. Penyerahan penghargaan berlangsung di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta pada malam tanggal 8 Oktober 2016.

Sebelumnya, ia mendapat Penghargaan dari pemerintah Provinsi Yogyakarta pada tahun 1992 dan Penghargaan Bintang Jasa Pratama dari Presiden Republik Indonesia pada tahun yang sama.

Di usia senja, ia menerima banyak pengunjung dari berbagai kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri, hanya untuk berkonsultasi. Ia kerap dianggap sebagai "ensiklopedia bergerak".

Karkono Kamajaya meninggal pada 5 Juli 2003 di RS Pantirapih Yogyakarta dan dikebumikan di komplek makam Taman Siswa Wijaya Brata.

Baca juga artikel terkait MOZAIK atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Humaniora
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi