Sejarah Masuk dan Berkembangnya Kristen serta Islam di Minahasa

Ilustrasi cinta beda agama. Foto/img.welt.de
Oleh: Petrik Matanasi - 11 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Umat Islam dan Kristen sejak dulu hidup berdampingan di Minahasa. Masalah intoleransi yang terjadi dari luar wilayah mereka kerap memicu konflik lokal.
tirto.id - Sebuah balai pertemuan warga yang merangkap musala di Perumahan Agape Griya dirusak. Perumahan tersebut terletak di Desa Tumaluntung, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara. Peristiwa yang tersebar luas lewat video itu terjadi pada Rabu (29/1/2020) sekitar pukul 18.20 WITA.

Polisi telah menangkap satu orang yang diduga provokator. Selain itu, sejumlah pihak terkait juga telah melakukan pertemuan dan menyepakati beberapa hal. Intinya, mereka berusaha menjaga agar situasi kembali kondusif. Meski demikian, di sejumlah media sosial merebak isu tentang intoleransi di Minahasa yang mayoritas beragama Kristen.

Jika dirunut ke belakang, bagaimana sebetulnya sejarah pertemuan dan persinggungan antaragama di Minahasa?

Sebelum agama-agama dari luar datang, masyarakat Minahasa adalah penganut Alifuru. Menurut Bert Supit yang dikutip oleh Sukamto dalam Perjumpaan Antarpemeluk Agama di Nusantara (2018), "ciri khas kepercayaan ini (Alifuru) adalah pemujaan serta penghormatan terhadap para leluhur, terutama mereka yang dianggap sebagai dewa (opo)."

Sementara menurut Dieter Bartels dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku Jilid I: Kebudayaan (2017), Alifuru yang disebut juga Arfuru atau Alfuren merupakan "istilah kolektif yang merujuk ke suku-suku pedalaman di Indonesia Timur, seperti di Sulawesi, Halmahera, dan Seram."

Istilah ini, tambah Bartels, "sebagaimana digunakan penduduk pesisir, hampir selalu bersifat peyoratif, untuk menyiratkan superioritas mereka yang sudah berbudaya terhadap penganut kepercayaan tradisional yang 'biadab' dari daerah pedalaman."


Masuknya Islam dan Kristen ke Minahasa

Agama Kristen mulai berkembang di Minahasa setelah masuknya pendeta-pendeta zending dari Jerman pada 1831. Di sekitar danau Tondano ada Johann Friedrich Riedel. Sementara di sekitar Langowan adalah Johann Gottlieb Schwarz.

Pada zaman kolonial, zending banyak membuat sekolah di Minahasa. Tak heran jika orang-orang Minahasa sejak lama banyak yang melek huruf.

Setahun sebelum kedatangan Riedel dan Schwarz, Minahasa telah kedatangan tokoh Islam bernama Kyai Modjo dari Jawa. Ia adalah panglima Perang Jawa yang ditangkap Belanda pada 1828 dan dibuang ke sebuah kampung yang kini bernama Kampung Jawa Tondano (Jaton).

Jauh sebelum kedatangan Kyai Modjo, orang-orang Islam (pedagang Arab) sudah sampai ke pesisir Sulawesi Utara, yakni pada tahun 1590-an. Namun, menurut Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa (2007: 23), mereka tidak masuk ke pedalaman Minahasa yang saat itu masih kuat memeluk kepercayaan Alifuru.

Pada awal berkembangnya agama-agama dari luar Minahasa, para pemuka agama di sekitar danau Tondano hidup rukun berdampingan.

“Kyai Modjo sering berkunjung pada pendeta zendeling Riedel [J.G. Riedel] dan berbicara banyak dengannya. Ia menerima darinya sebuah Injil,” tulis Pendeta Nicolaas Graafland dalam Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya (1991:458-459).

Para pengikut Kyai Modjo banyak yang menikahi perempuan Minahasa. Keturunan mereka kemudian menjadi penganut Islam hingga sekarang dan tinggal di Kampung Jawa Tondano. Sementara di luar kampung tersebut adalah kampung orang-orang Minahasa yang menganut agama Kristen.

”Pelajaran sejarah toleransi dari akomodatifnya hubungan antara pengungsi Perang Jawa (1825‒1830) yang dipimpin Kyai Modjo dan 63 pengikutnya, semua laki-laki, menjadi contoh kerukunan yang berpengaruh paling signifikan dan sering dibicarakan,” tulis Nono Sumampow dalam Menjadi Manado: Torang Samua Basudara, Sabla Aer, dan Pembentukan Identitas Sosial (2018:56).

Beberapa tahun setelah Kyai Modjo dan para pengikutnya tiba di Minahasa, Tuanku Imam Bonjol juga dibuang ke daerah tersebut. Ia wafat di Pineleng.

Di era Revolusi, orang Islam dan Kristen Minahasa sama-sama terlibat dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ben Wowor dalam Peristiwa Patriotik (Merah-Putih): 14 Pebruari 1946 di Manado, Dalam Rangka Revolusi Kemerdekaan Bangsa Indonesia (1972: 29) menyebut nama Rachmad Pulukadang sebagai salah satu kaum Republiken yang melawan Belanda di Sulawesi Selatan. Sudah tentu, orang-orang Kristen yang mayoritas juga banyak yang ikut dalam perang kemerdekaan.


Situasi di Luar Memengaruhi Orang Minahasa

Beberapa dekade terakhir, Sulawesi Utara adalah daerah yang getol mempropagandakan keberagaman dan kebersamaan dalam sebuah masyarakat yang plural.

”Sifat idealistis itu bukannya mencerminkan kenaifan, melainkan kebutuhan yang mendesak,” tulis David Henley, Maria Schouten, dan Alex Ulaen dalam "Memelihara Perdamaian di Minahasa" yang dihimpun dalam buku Politik lokal di Indonesia (2007:426-427).

Menurut mereka, toleransi di Indonesia adalah sesuatu yang rapuh. Dan pencapaian masyarakat Minahasa dalam mencegah pertentangan antarkelompok (terutama kelompok keagamaan) ”bisa dibuyarkan oleh kegagalan peradaban” di daerah-daerah lain. Artinya, perdamaian antaragama di Minahasa bisa terancam kapan saja.

Orang-orang Minahasa Kristen, imbuh mereka, mengkhawatirkan implikasi-implikasi potensial mayoritas Muslim Indonesia, baik terhadap politik nasional maupun terhadap hubungan Kristen-Muslim lokal.




Sebagai contoh, masyarakat Minahasa merasa terancam oleh rencana dihidupkannya Piagam Jakarta—yang mengedepankan hukum Islam untuk semua warga NKRI—oleh kelompok Islam sekitar tahun 2000. Menggemakan Piagam Jakarta di ibukota dan daerah luar Minahasa lainnya, sama saja menguatkan wacana pemisahan orang-orang Minahasa dari NKRI.

Beberapa tahun kemudian, setelah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dibui karena pasal karet penodaan agama, muncul isu “Minahasa Merdeka” di Sulawesi Utara.

“Manado-Minahasa adalah salah satu kota paling pertama dan antusias bikin lilin untuk Ahok,” kata Nono ketika saya hubungi pada Kamis (2/5/2019).

Contoh lain adalah kekalahan telak pasangan Prabowo-Sandi—yang dekat dengan kelompok 212—dalam Pemilihan Presiden 2019 di Sulawesi Utara. Hal ini bisa menjadi bukti betapa merasa terancamnya orang-orang Kristen Minahasa atas persekutuan pasangan itu dengan kelompok Islam tersebut.

”Kenyataannya di Minahasa sekarang ini antipati terhadap Islam lebih kuat daripada di masa lampau,” tulis Hanley dan kawan-kawan (2007:436).

Baca juga artikel terkait PERUSAKAN MUSALA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight