Menuju konten utama
Sejarah Indonesia

Sejarah Majapahit: Penyebab Runtuhnya Kerajaan & Daftar Raja-Raja

Kerajaan Majapahit melemah lalu tamat menjelang abad 16, apa saja penyebab keruntuhannya?

Sejarah Majapahit: Penyebab Runtuhnya Kerajaan & Daftar Raja-Raja
Lambang Kerajaan Majapahit. FOTO/Wikipedia

tirto.id - Majapahit tercatat dalam sejarah pernah menjadi kemaharajaan besar di Nusantara dengan wilayah yang amat luas. Namun, kerajaan yang berdiri pada akhir abad 13 Masehi ini melemah lalu tamat menjelang abad 16. Apa saja penyebab runtuhnya Kerajaan Majapahit?

Timbul Haryono lewat tulisan bertajuk "Kerajaan Majapahit: Masa Sri Rajasanagara sampai Girindrawardhana" yang terhimpun dalam jurnal Humaniora (1997:107) menyatakan bahwa Majapahit adalah salah satu kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara.

Sejarah kerajaan yang juga kerap disebut dengan nama Wilwatikta ini, tulis Inajati Adrisijanti buku Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota (2012:30), diawali dengan pembukaan hutan oleh Raden Wijaya di delta Sungai Brantas pada 1293, yang kemudian menjadi desa dengan nama Majapahit.

Raden Wijaya yang merupakan menantu Raja Kertanegara -penguasa terakhir Kerajaan Singasari- pada akhirnya mampu mengalahkan Jayakatwang berkat persekutuan dengan pasukan Mongol yang tiba di Jawa.

Jayakatwang adalah Adipati Kediri yang sebelumnya telah membunuh Kertanegara dan mengambil-alih takhta Singasari.

Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya menyerang balik pasukan Mongol dan menghancurkan mereka. Usai itu, ia mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya menjadi raja pertamanya dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309).

Pasang surut pun menjadi bagian dari perjalanan Majapahit. Masa kejayaan Majapahit adalah ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk (1350-1389) dengan didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, demikian dikutip dari Historical Dictionary of Indonesia (2012) karya Robert Cribb dan Audrey Kahin.

Lantas, bagaimana kerajaan besar yang memiliki wilayah sangat luas berkat Sumpah Palapa Gajah Mada dan angkatan perang hebat ini bisa runtuh? Ada beberapa faktor penyebab runtunya Kemaharajaan Majapahit, antara lain:

Wafatnya Gajah Mada & Hayam Wuruk

Setelah Gajah Mada meninggal dunia pada 1364, disusul dengan wafatnya Hayam Wuruk pada 1389, Majapahit tidak memiliki pemimpin yang mampu mengulangi masa kejayaan kerajaan ini.

Masa-masa selanjutnya menjadi periode yang suram dan panjang bagi Majapahit. Sering terjadi pertikaian bahkan di dalam lingkungan istana, wilayah-wilayah taklukan pun mulai melepaskan diri yang semakin memperlemah pengaruh Majapahit.

Perang Saudara

Tiadanya pemimpin yang kuat membuat internal Majapahit goyah dan terbelah. Pada 1405, terjadi perang saudara yang dikenal dengan sebutan Perang Paregreg. Perang ini melibatkan Wikramawardhana melawan Bhre Wirabhumi.

Wikramawardhana adalah istri putri Hayam Wuruk dari permaisuri yakni Kusumawardhani. Sedangkan Bhre Wirabhumi merupakan putra Hayam Wuruk dari istri selir.

Perang saudara tersebut dimenangkan oleh Wikramawardhana (1390-1428) yang menjadikan dirinya tetap berkuasa sebagai Raja Majapahit setelah Hayam Wuruk.

Namun demikian, Wikramawardhana maupun para penerusnya tidak mampu membangkitkan kejayaan Majapahit.

Berkembangnya Agama Islam

Ahmad Mansyur dalam Api SejarahI (2012:108) menyebutkan, pada periode 1405–1433, armada muslim dari Cina yang dipimpin oleh Laksamana Cheng-Ho beberapa kali datang ke Jawa. Terbentuklah komunitas muslim Cina dan Arab di beberapa daerah, seperti Semarang, Demak, Tuban, serta Ampel.

Dari situlah Islam berkembang, terutama di wilayah pesisir pantai Utara Jawa. Mulai terjadi proses islamisasi di banyak tempat di Jawa, termasuk di wilayah kekuasaan Majapahit.

Dikutip dari Sejarah Peradaban Islam di Indonesia (2006) yang disusun Mundzirin Yusuf, bandar-bandar dagang baru pun dibuka untuk menyaingi bandar milik Majapahit yang pengaruhnya semakin merosot.

Salah satu bandar baru yang kemudian berpengaruh adalah di Demak. Di sinilah nantinya berdiri Kesultanan Demak yang merupakan kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa dan menjadi ancaman baru bagi Majapahit.

Serangan Kesultanan Demak

Kesultanan Demak berdiri pada 1478. Pendirinya adalah Raden Patah (1475-1518) yang tidak lain adalah putra dari Raja Majapahit kala itu yakni Kertabumi atau Brawijaya V (1468-1478) dari istri seorang wanita berdarah Cina bernama Siu Ban Ci.

Perkembangan Demak sebagai kerajaan Islam di Jawa sangat pesat, berbanding terbalik dengan Majapahit yang semakin melemah. Melihat situasi itu, Demak pun berencana menghancurkan Majapahit.

Serangan pertama Kesultanan Demak terhadap Majapahit terjadi pada 1517 yang membuat perekonomian kerajaan Hindu-Buddha itu lumpuh. Serangan tersebut dipimpin oleh Pati Unus (1488-1521), Sultan Demak kedua yang merupakan menantu Raden Patah.

Tahun 1527, Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana (1521-1546) kembali menyerang Majapahit. Sultan Trenggana adala pemimpin Kesultanan Demak ketiga yang juga adik Pati Unus.

Serangan kedua Demak benar-benar menghancurkan Majapahit bahkan mengakhiri riwayat kerajaan yang pernah sangat perkasa di Nusantara ini.

Daftar Penguasa Kerajaan Majapahit

  • Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309)
  • Kalagamet/Sri Jayanagara (1309-1328)
  • Sri Gitarja/Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
  • Hayam Wuruk/Sri Rajasanagara (1350-1389)
  • Wikramawardhana (1389-1429)
  • Suhita /Dyah Ayu Kencana Wungu (1429-1447)
  • Kertawijaya/Brawijaya I (1447-1451)
  • Rajasawardhana/Brawijaya II (1451-1453)
  • Purwawisesa /Girishawardhana/Brawijaya III (1456-1466)
  • Bhre Pandansalas/Suraprabhawa/Brawijaya IV (1466-1468)
  • Bhre Kertabumi/Brawijaya V (1468 -1478)
  • Girindrawardhana/Brawijaya VI (1478-1489)
  • Patih Udara/Brawijaya VII (1489-1527)

Baca juga artikel terkait KERAJAAN MAJAPAHIT atau tulisan lainnya dari Alhidayath Parinduri

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Alhidayath Parinduri
Penulis: Alhidayath Parinduri
Editor: Iswara N Raditya