Bagian 3 - Habis

Sejarah Kerajaan Majapahit: Negara Punah di Masa Pancaroba

Oleh: Iswara N Raditya - 18 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Sejarah Kerajaan Majapahit benar-benar punah setelah diserang pasukan Kesultanan Demak di era pemerintahan Sultan Trenggana.
tirto.id - “Saya kira Indonesia tidak akan punah. Memang anu, apa namanya, hewan purba? Saya kira Indonesia ke depan makin kuat,” tandas Kiai Haji Ma’ruf Amin di Menteng, Jakarta, Selasa (18/12/2018). Cawapres pasangan capres petahana Joko Widodo (Jokowi) ini menanggapi klaim Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia terancam punah.

Indonesia memang bukan binatang purba macam dinosaurus yang sudah punah. Namun, sebuah negara atau pemerintahan yang besar sekalipun bisa saja musnah. Bumi Nusantara pernah menjadi saksi sejarah kerajaan-kerajaan yang semula amat kuat tapi akhirnya justru tamat. Kerajaan Majapahit salah satunya.

Melanjutkan yang sudah dipaparkan pada bagian 1 dan bagian 2, sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada, perang saudara, tidak adanya lagi pemimpin yang mumpuni, sampai munculnya Kesultanan Demak pada 1475 yang digagas oleh Raden Patah dengan dukungan Walisongo membuat kepunahan Kerajaan Majapahit semakin dekat.

Raden Patah disebut-sebut adalah putra raja Majapahit ke-11, Brawijaya V (1468-1478), dari istri selir, yakni perempuan asal Cina bernama Siu Ban Ci. Raden Patah kecewa karena ayahnya takluk kepada Girindrawardhana yang kemudian berkuasa di Majapahit dengan gelar Brawijaya VI (1478-1498).



Girindrawardhana atau Brawijaya VI merupakan menantu Brawijaya V atau ipar Raden Patah yang justru merebut takhta mertuanya itu. Situasi ini membuat peluang Raden Patah untuk menjadi raja Majapahit penerus ayahnya pun pun pupus.

Raden Patah (1475-1518) lantas membangun kerajaan sendiri di Demak, dibantu tokoh-tokoh syiar Islam di Jawa. Diungkapkan Wiwin Djuwita Ramelan dan ‎Supratikno Rahardjo dalam buku Kota Demak Sebagai Bandar Dagang di Jalur Sutra (1997), Raden Patah sudah memeluk Islam karena pernah berguru kepada Sunan Ampel dan diambil menantu oleh salah satu ulama Walisongo itu.

Pengaruh Islam bertambah kuat di Demak dan banyak daerah lain di Jawa, berbanding terbalik dengan pamor Majapahit dan Brawijaya VII yang tambah merosot. Semakin banyak daerah taklukan yang melawan dan melepaskan diri. Sejalan dengan itu, kian banyak pula orang Jawa yang beralih memeluk agama Islam.

Raden Patah wafat pada 1518. Penerusnya, Pati Unus (1518-1521), gugur tiga tahun berselang dalam penyerbuan terhadap Portugis di Malaka. Dan, yang memungkasi riwayat panjang Majapahit adalah pemimpin Kesultanan Demak ke-3, Sultan Trenggana (1521-1546).

Majapahit di bawah kendali Brawijaya VI tidak semakin membaik. Dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (2005) karya Slamet Muljana dikisahkan, pada 1527 Sultan Trenggana mengirimkan pasukan untuk menduduki Majapahit.



Selain untuk menaklukkan kerajaan leluhurnya itu, Sultan Trenggana juga bermaksud memutus relasi antara Majapahit dengan Portugis yang saat itu sudah mulai terjalin. Serangan tersebut sukses, Brawijaya VI terbunuh. Semakin banyak warga Majapahit dan masyarakat Jawa yang menjadi mualaf.

Keluarga dan anak-anak Brawijaya VI yang enggan memeluk Islam, lanjut Muljana, melarikan diri ke Pasuruan dan Panarukan (Situbondo). Mereka masih tetap beragama Hindu dan tidak pernah tunduk kepada Kesultanan Demak hingga akhir hayat.

Sejak tahun 1527 itulah riwayat Kerajaan Majapahit tamat setelah Kesultanan Demak di bawah komando Sultan Trenggana mengakuisisi wilayah-wilayah taklukan yang masih tersisa. Bekas imperium yang pernah amat digdaya itu akhirnya benar-benar punah di tengah musim pancaroba, masa peralihan dari era Hindu-Buddha ke periode Islam di Nusantara.


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight