Sejarah Kapal Selam Jerman di Indonesia

Kapal selam Alugoro melakukan uji coba di Selat Bali terlihat dari Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (21/1/2020). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/hp.
Oleh: Petrik Matanasi - 28 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kisah awak kapal selam Jerman di Indonesia dan pelaut Jerman yang menjadi prajurit TNI Angkatan Laut.
Adolf Hitler tewas pada 30 April 1945. Ia bunuh diri bersama kekasihnya di Berlin saat pasukan Uni Soviet menggempur kota tersebut. Di tanah air, sebagian orang percaya bahwa Hitler bukan meninggal dunia di Berlin, melainkan di Indonesia. Hal ini salah satunya dikaitkan dengan seorang dokter Jerman bernama Georg Anton Poch. Konon ia pernah bekerja di Sumbawa dan menikah dengan perempuan asal Jawa Barat.

Baru-baru ini beredar kabar tentang penemuan kapal karam di perairan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Sejumlah pihak menduga bahwa kapal itu adalah kapal selam milik Jerman sisa Perang Dunia II. Sekali lagi, Hitler kembali dikaitkan dengan Indonesia. Namun sebagaimana dilaporkan Kompas, hasil penelusuran petugas gabungan TNI, Polri, dan tim SAR, bangkai kapal itu ternyata kapal kargo, bukan kapal selam.


Lalu bagaimana sebetulnya keberadaan kapal selam Jerman di Indonesia?

Saat Jepang menduduki Indonesia, seperti ditulis Horst Geerken dalam Hitler’s Asian Adventure (2017:266), kapal selam Jerman U-510 yang dikomandoi Letnan Kapten Alfred Eick, pernah singgah di Jakarta. Pada akhir Desember 1944, U-510 kemudian pulang ke Eropa. Dalam perjalanan pulang, kapal ini sempat diisi bahan bakarnya oleh U-861 di Madagaskar. Di Atlantik Selatan, U-510 menenggalamkan kapal dagang Kanada. Setelah PD II usai, kapal ini diambil Prancis.

Kapal selam U-861 juga milik Jerman yang pernah beroperasi di sekitar Indonesia. Sebelum bertemu U-510, kapal yang dikomandoi Jürgen Oesten ini sempat singgah di Surabaya. Selain U-861 yang merapat pada bulan November, Surabya juag disinggahi kapal selam U-537 yang merapat pada 9 November 1944 dan kapal selam U-195 pada 17 Maret 1945.

Menurut Geerken, Batavia menjadi pangkalan laut penting bagi kapal selam Jerman di wilayah bumi bagian selatan setelah Penang terganggu oleh sekutu. Kapal U-195, U-219, U-537 dan U-843 pun diperintahkan ke Batavia. Namun, sepanjang tahun 1944 hanya kapal U-168, U-837, dan U-862 yang beroperasi di Lautan Hindia. Sisanya kembali ke Eropa dengan membawa beberapa barang.

Megamendung dan Cikopo

Kapal selam U-196 juga pernah berada di Indonesia sebelum hilang pada November 1944. Salah seorang awaknya, Letnan Kolonel Dr Ing Haake, tertinggal di Megamendung. Ia meninggal dunia saat usianya sekitar 30 tahun. Jenazahnya dikuburkan di sebuah permakaman yang cukup rapi di daerah Arca Domas, Megamendung. Di sana juga terdapat sembilan makam orang Jerman lainnya, termasuk komandan kapal U-195, Letnan Kolonel Friedrich Steinfeld, yang meninggal pada November 1945.

Makam lainnya adalah mereka yang terbunuh pada 1945 dengan pelbagai sebab: kecelakaan seperti Letnan Hermann Tangermann, dibunuh orang Indonesia karena dikira orang Belanda seperti Letnan Wilhelm-August Jens dan Letnan Willi Schlummer. Ada juga yang meninggal di Cikopo seperti kopral Willi Petschow dan tukang kayu kapal bernama Eduard Onnen.

Di waktu senggang, para awak kapal itu beristirahat di daerah perkebunan Cikopo yang dikelola Emil Helfferich. Selain teh, di situ juga terdapat pelbagai sayuran seperti seledri, tomat, kol, wortel, dan kentang. Perkebunan itu mempekerjakan sekitar sekitar 400 orang petani lokal.

Masih menurut Geerken, Angkatan Laut Jerman memang sangat membutuhkan pangkalan seperti Jakarta yang dekat dengan Jawa Barat yang tanahnya subur. Saerah seperti Cikopo tentu bisa diandalkan untuk memasok bahan pangan para awak kapal selama selama menjalankan tugas.

Intel dan Dewaruci

Setelah Jepang dan Jerman kalah dalam Perang Dunia II, beberapa bekas awak kapal selam Jerman tinggal di Jawa. Sebagian dari mereka terlibat dalam sebuah pelatihan calon anggota intel Republik sekitar September 1945.

“Tiga orang mantan awak kapal selam Jerman memberikan latihan fisik setiap harinya,” tulis Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007:3). Conboy menyebut mereka adalah awak kapal selam U-Boat yang ditawan di Asia Tenggara selama perang. Mereka tak ingin kembali ke Jerman yang sudah kalah.

Badan intel itu dibentuk oleh Zukifli Lubis, dan umurnya sangat singkat. Ia membentuk Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI). Organ ini kemudian bubar dan disatukan dengan Bagian B dalam Kementerian Pertahanan Bagian V (KP-V) yang dipimpin Abdulrachman.




Antara tahun 1947-1948, KP-V menyusun sebuah Special Operation yang sempat dipimpin Subijakto. Dalam pelatihannya yang dipimpin Eddy Martadinata, bekas awak kapal selam Jerman dilibatkan.

Masfar R. Hakim dalam Sejarah Pendidikan Perwira TNI Angkatan Laut, 1945-1950 (1982:75) menyebutkan bahwa orang-orang Jerman “memberikan mata pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Pelatihan Special Operation berada di Sarangan."

Semasa pendudukan Jepang, di Sarangan memang banyak terdapat orang-orang sipil Jerman. Mereka sudah tinggal di sana sebelum Perang Dunia II berkecamuk.

Di luar para awak kapal selam itu, pelaut asal Jerman yang paling dikenal di Indonesia adalah August Friederich Hermann Rosenow. Ia yang lahir pada 1892 ini datang ke Indonesia sebagai pelaut kapal niaga. Rosenow mengenal Sukarno di zaman pendudukan Jepang dan mengusulkan pendirian sekolah olahraga serta akademi militer.

Ia mendukung perjuangan Republik Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Rosenow bahkan masuk Angkatan Laut Indonesia dan berpangkat Letnan Kolonel. Ia adalah orang penting dalam sejarah kapal latih taruna Angkatan Laut KRI Dewaruci.


Baca juga artikel terkait PERANG DUNIA II atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight