"Saya Harus Bangkit": Kisah Ibu Menyusui Saat Terinfeksi COVID-19

Oleh: Alfian Putra Abdi - 14 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
Seorang penyintas COVID-19 bercerita bagaimana ia tetap menyusui anaknya saat masih terinfeksi.
tirto.id - Pamulang, 13 Januari 2021. Icha gagal menyimpan kekalutan ketika hasil tes swab antigen dirinya positif COVID-19. Ia kesal pada diri sendiri. Setelah setahun menarik diri dari kerumunan, menaati protokol kesehatan, virus itu justru melawat dan merampak baluartinya.

Semalam sebelumnya Icha demam tinggi dan batuk. Ia pikir hanya kelelahan karena keras bekerja. Ia mengobati diri dengan obat rumahan tetapi tidak mempan.

Beberapa jam sebelum mendapati kabar bahala itu, seorang sepupu Icha mengabarkan bahwa hasil tes swab antigennya reaktif. Dua hari yang lalu mereka baru saja bertemu di rumah Icha untuk urusan bisnis. Icha menangisi rentetan kejadian itu.

Pemilik nama lengkap Waritsa Asri itu bukan saja mengkhawatirkan diri sendiri. Icha tinggal bersama suami, ibunya seorang lanjut usia, dan dua anak: Arraya berusia 2 tahun 9 bulan dan Esma berusia 1 tahun 2 bulan yang masih aktif mengonsumsi ASI. Mereka rentan terpapar virus.

Satu hari setelah terkonfirmasi positif, Icha kembali ke rumah sakit untuk tes PCR. Hasil tes sekadar memperkuat diagnosis sebelumnya. Icha merasa ripuk.

“Walaupun hancur sebagai ibu, saya tahu harus bangkit dan di hari itu juga saya langsung cari informasi mengenai kemungkinan saya menyusui langsung,” ujarnya kepada reporter Tirto, Rabu (10/3/2021).


Sejak terkonfirmasi positif, Icha menjalani isolasi mandiri di rumah. Satu kamar khusus untuk dirinya. Ia ketat mengenakan masker dan menyediakan disinfektan di dalam kamar.

Icha fokus remedi sembari menimbang untuk tetap menyusui Esma. Saat bersamaan seorang anggota keluarga menyarankan Icha untuk memerah ASI. Tapi mulut mungil Esma tidak familier dengan dot atau cup feeder. Icha tidak sampai hati membiarkannya.

“Kalau saya perah maka hasilnya tidak akan maksimal dan akan membuat stres. Tidak mungkin memindahkan wadah menyusuinya yang sama sekali tak dikenali,” tutur Icha.

Selagi kondisi tubuh menyanggupi dan hanya bergejala ringan, Esma mesti menyusui langsung, pikir Icha. Namun ia sempat meragu dan takut akan menulari si ragil.

Bermodalkan konsultasi kepada seorang kerabat tenaga kesehatan hingga dokter dan membaca banyak artikel dan tambahan peran suportif suami, Icha menjadi yakin untuk tetap menyusui Esma.

Pada hari pertama Icha positif dan harus berjarak dari orang rumah, Esma yang sehari-hari lekat dengan Icha mendadak demam. Beruntung Esma tidak terkonfirmasi positif.

“Mungkin dia merasa berbeda ketika ibunya tak ada di samping dan sempat juga posisi menyusuinya tak bisa seenak dia seperti biasanya,” tutur Icha.

Demikianlah. Icha kian yakin untuk menyusui Esma.

Proses menyusui dengan mengindahkan protokol kesehatan. Icha ketat menggunakan masker, rajin bebenah, ventilasi udara terbuka lancar dan tidak menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Icha percaya keputusan untuk menyusui langsung akan merangsang hormon oksitosin dan membantu memudahkan penyembuhan dirinya—setidaknya menghindari dari stres.

“Bahagia paling sederhana yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Dengan menyusui secara langsung ketika terkena Covid ini juga harapannya si kecil mendapatkan antibodi,” ujarnya seolah kampiun lomba.



Epidemiolog dari Universitas Airlangga Surabaya Laura Navika Yamani mengatakan tidak masalah seorang penderita COVID-19 langsung memberikan ASI selama ia menjaga protokol kesehatan dengan ketat. Lagi pula menurutnya ASI terbilang aman dari virus COVID-19. “ASI tidak menularkan COVID-19,” ujar Laura kepada reporter Tirto.

Pemberian ASI secara langsung didukung oleh Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), dengan catatan: kondisi ibu memungkinkan untuk menyusui bayi. UNICEF tidak menyarankan pemberian susu sapi atau susu formula pada bayi di bawah 12 bulan karena kandungan gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bayi.

“Semua bukti menunjukkan bahwa menyusui sangat aman. Faktanya, virus ini belum pernah ditemukan di dalam ASI. Jadi, kami ingin mendorong para ibu untuk melanjutkan pemberian ASI kepada bayi dan anak hingga usia tahun,” tulis UNICEF.

Menurut panduan menyusui ibu penderita COVID-19 terbitan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ibu yang menyusui mesti melakukan kebersihan pernafasan dan apabila sesak nafas gunakanlah maskes medis, cuci tangan menyeluruh dengan sabun sebelum kontak anak, serta bersihkan dan disinfeksi seluruh permukaan yang disentuh secara rutin.

WHO mengimbau kepada ibu yang memiliki gejala berat atau menderita komplikasi untuk memberikan ASI secara aman. Dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menyusui atau memerah ASI; ibu perlu istirahat sejenak atau menyusui basah dengan meminta perempuan lain menyusui atau menggunakan ASI donor.

Setiap ibu penderita COVID-19 yang sudah melaksanakan protokol kesehatan secara benar diharapkan tetap menyusui secara langsung. Dokter spesialis anak dr.Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, CIMI tidak menyarankan ibu melakukan ASI perah kecuali dalam keadaan darurat, sebab ASI perah akan meniadakan ikatan kasih sayang antara ibu-anak.

“Ibu yang Covid itu mudah stres. Kalau bisa skin to skin [dengan bayi] dan menimbulkan kenyamanan. Itu bisa menurunkan stres,” ujar Utami kepada reporter Tirto.

Selain itu, dalam ASI terkandung hormon IGF-1, Insulin, Ghrelin, Leptin, Adiponektin dengan manfaat memenuhi nutrisi dan meningkatkan imunitas anak.

“Kalau menyusui langsung si bayi bisa menentukan apa yang bayi mau dan tidak mau. Pompa itu kalau darurat saja,” imbuhnya.


Pamulang, 10 Maret 2021.
Pagi itu Icha sudah bisa bermain bersama anak-anak di pelataran rumah. Aktivitasnya perlahan normal meski daya penciumannya tak lagi seperti dulu.

“Saya sendiri tampaknya belum sepenuhnya pulih, masuk ke long Covid yaitu anosmia,” tuturnya.

Menjadi penyintas membuat Icha lebih tegas membatasi kunjungan sekalipun itu dari famili. Ia tidak mau kecolongan oleh virus untuk kali kedua. Terlebih selang dua hari ia terkonfirmasi, suami, ibu, dan anak sulungnya ikut positif dengan gejala ringan dan beriringan membaik setelah melakukan isolasi mandiri selama 10 hari dan 3 hari tanpa gejala.

Ia dan keluarga beruntung bisa melewati masa kritis dengan penanganan medis dan dukungan tetangga yang mumpuni. Mereka tidak kekurangan makanan dan stok obat dari puskesmas selalu sedia.

“[Saya] sudah tahu rasanya Covid, jadi saya tahu kalau orang lain kena pasti tidak enak,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait PENYINTAS COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Rio Apinino
DarkLight