tirto.id - Penanganan dampak bencana hidrometeorologi terhadap lahan pertanian di Kabupaten Pidie, Aceh, terus dipercepat. Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) menjadikan Pidie sebagai pilot project rehabilitasi sawah yang mengalami kerusakan berat akibat bencana.
Hal tersebut disampaikan Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Dr. Safrizal ZA, saat melakukan kunjungan lapangan di Desa Blang Cut, Kecamatan Kembang Tanjong pada Jumat pekan lalu (3/9/2026). Berdasarkan data yang ada, total luas sawah rusak berat di Kabupaten Pidie mencapai 95 hektare.
“Satgas PRR telah mengerahkan alat berat untuk merehabilitasi sawah rusak berat di wilayah ini sebagai pilot project percontohan, mengingat Pidie memiliki luasan dampak yang relatif lebih kecil dibanding wilayah lain,” ujar Safrizal merujuk keterangan resmi pada Senin (7/9/2026).
Menurut Safrizal, penanganan di Pidie akan menjadi model yang dapat diajukan kepada Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebagai acuan rehabilitasi lahan pertanian di kabupaten lain yang mengalami kerusakan dengan skala lebih luas.
Salah satunya adalah Kabupaten Aceh Utara yang mencatat luas kerusakan hingga 4.800 hektare. Saat ini, penanganan di wilayah tersebut masih dalam tahap pengkajian kebutuhan anggaran.
Untuk wilayah Kembang Tanjong, rehabilitasi ditargetkan mencakup total 95 hektare dan dipastikan rampung 100 persen dalam waktu 30 hari. Saat peninjauan dilakukan, pekerjaan telah memasuki hari kesembilan dan berjalan dengan lancar.
Selain di Desa Blang Cut, kegiatan serupa juga tengah berlangsung di Desa Pante Beunot, Kecamatan Tiro, serta Desa Blang Pandak, Kecamatan Tangse.
Percepatan penanganan tersebut mendapat apresiasi dari Dr. Drs. Agus Susanto, Satgas Kementerian Pertanian di Aceh yang berasal dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian. Menurut Agus, kolaborasi lintas pihak di bawah koordinasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) turut mempercepat pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi.
“Pengerjaan di lapangan ini sangat cepat. Area seluas 12 hektare berhasil dikerjakan dalam kurun waktu kurang lebih 9–10 hari,” ungkap Agus.
Ia menjelaskan, kondisi lahan saat ini sudah terbuka. Material lumpur dan timbunan juga telah dibuang. Selain itu, tata letak parit telah disepakati bersama para petani sehingga lahan dapat segera kembali diolah dan ditanami.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, Hasballah. Ia menyampaikan terima kasih atas kepedulian jajaran Satgas PRR, khususnya Safrizal ZA dan Agus, yang konsisten turun langsung memantau penanganan dampak bencana di lapangan.
Hasballah berharap inisiatif rehabilitasi sawah di Pidie dapat menjadi pilar percontohan dan diterapkan di daerah lain yang menghadapi kondisi serupa.
Sementara itu, Keuchik (kepala desa-red) Blang Cut, Rusyidi, S. Pd, menyampaikan terima kasih kepada Kemendagri dan Satgas PRR yang telah turun langsung menangani sawah rusak berat di desanya.
"Tinggi lumpur hingga 81 centimeter, hampir satu meter. Alhamdulillah setelah Satgas PRR turun tangan, masalah ini selesai. Terima kasih kepada Pak Safrizal, Pak Mendagri, dan seluruh pihak yang telah membantu kami di Blang Cut, " sebutnya dengan wajah semringah.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































