tirto.id - Seandainya Prof. Yusro Edy Nugroho mengikuti rencana awalnya kuliah di jurusan sastra Inggris, mungkin dia tak akan pernah menjadi seorang pakar filologi yang menghabiskan puluhan tahun meneliti naskah-naskah kuno Jawa. Pilihan yang dulu dirasanya sebagai jalan ‘tersesat’ menjadi takdir yang kini paling disyukurinya.
“Karena saya tidak bisa bercerita tentang salju yang bermacam-macam jenisnya, tapi saya bisa bercerita tentang Sastra Jawa yang sangat dalam,” kata Guru Besar Filologi Jawa Universitas Negeri Semarang (UNNES) kepada Tirto, Rabu (15/7/2026).
Kalimat itu menjadi cara dia menjelaskan mengapa ia tak pernah menyesali pilihannya sekaligus menunjukkan luasnya bidang keilmuan Sastra Jawa.
Apabila diamati, jurusan ini nyaris tak pernah muncul dalam ‘daftar jurusan paling diminati’ atau ‘daftar jurusan dengan prospek kerja yang luas’. Calon mahasiswa biasanya lebih meminati bidang teknologi, kesehatan, teknik, hingga bisnis yang lapangan pekerjaannya dianggap menjanjikan secara ekonomi. Terlebih lagi, jurusan ini memang tak banyak dibuka di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia.
Hanya ada empat perguruan tinggi yang membuka program studi sastra Jawa di Indonesia, yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Universitas Sebelas Maret (UNS). Universitas Udayana di Bali berfokus pada Sastra Jawa Kuno.
Kata Prof Yusro, saat menempuh jurusan Sastra Jawa, penting untuk mengubah pandangan bahwa kuliah semata-mata hanya sebagai jalan menuju pekerjaan. Sebab di sisi lain, jurusan yang dianggap memiliki prospek luas juga tak berarti memiliki jalan mulus.
Misalnya apabila dulu orang berbondong-bondong masuk Fakultas Ekonomi karena menganggap lapangan kerjanya lebih banyak dan luas, kini tren itu bergeser ke jurusan Psikologi dan Teknologi Informasi. Namun, bukannya secara logika ketika semakin banyak orang memilih jurusan yang sama, persaingan pekerjaan justru semakin ketat?
Pada akhirnya, masyarakat Indonesia seharusnya mengubah tujuan perkuliahan menjadi kebermanfaatan ilmu yang didapat.
Untuk bersaing dalam hidup, kini seseorang dituntut fokus terhadap apa yang menjadi minatnya. Sastra jawa disebut Prof Yusro tak mengajarkan seseorang menjadi pencari kerja. Tetapi bagaimana menjadi seseorang yang menarik untuk dipekerjakan.
Sastra Jawa Tak Sekedar Mempelajari Bahasa Daerah
Meski sepi peminat dan tak populer di kalangan para siswa, ruang kerja lulusan Sastra Jawa justru sebenarnya luas. Bagaimana tidak, alumninya ada yang menjadi peneliti bahasa dan sastra, dosen, penyiar radio dan televisi, wartawan, seniman, hingga pranatacara. Sebagian lainnya bekerja di museum, perpustakaan, dan lembaga kebudayaan yang mengelola manuskrip kuno.
Bahkan, ada lulusan yang terlibat dalam penyusunan korpus bahasa Jawa yang digunakan perusahaan teknologi global untuk mengembangkan sistem penerjemahan bahasa.
Memang benar, salah satu kesalahpahaman terbesar masyarakat adalah menganggap Sastra Jawa hanya mempelajari bahasa Jawa. Padahal, mahasiswa jurusan itu dibekali berbagai kompetensi, mulai dari linguistik, penciptaan karya sastra, filologi, hingga budaya Jawa.
Mereka belajar membaca aksara Jawa, mengalihaksarakan, menerjemahkan, dan menganalisis isi naskah agar pengetahuan yang tersimpan di dalamnya dapat dimanfaatkan untuk masa kini.

Tak hanya itu, mahasiswa juga mempelajari drama, ketoprak, karawitan, hingga pranatacara atau pembawa acara adat Jawa. Hingga juga dikenalkan pada tata busana tradisional, sastra wayang, dan berbagai bentuk ekspresi budaya Jawa lainnya.
Bagi Muhammad Robit Farikh, mahasiswa Sastra Jawa angkatan 2023 di UNNES, cakupan pembelajaran itu jauh melampaui bayangannya sebelum kuliah. Awalnya, ia memilih Sastra Jawa karena tertarik pada wayang, naskah kuno, dan filsafat Jawa. Namun, setelah menjalani perkuliahan, ia menyadari jurusan tersebut justru mempertemukannya dengan berbagai disiplin ilmu lain.
Di antara seluruh mata kuliah yang diambilnya, Filologi menjadi yang paling berkesan. Menurut Robit, naskah-naskah kuno yang dipelajari di kelas menyimpan banyak pengetahuan yang masih relevan hingga sekarang.
"Naskah-naskah kuno yang berisi banyak sekali informasi dari masa lampau mulai dari sistem kepercayaan, mitigasi bencana, hingga obat-obatan," katanya.
Di tengah perkembangan AI, Profesor UNNES justru melihat alasan baru mengapa Sastra Jawa tetap penting dipelajari. Manuskrip-manuskrip kuno yang selama ini tersimpan di perpustakaan dan keraton justru dapat dihidupkan kembali melalui teknologi digital.
Dia mencontohkan pengalaman mahasiswanya yang mengkaji sebuah naskah berhuruf Jawa dari Keraton Yogyakarta. Naskah yang berisi cerita-cerita tersebut terlebih dahulu dibaca, dialihaksarakan, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Setelah itu, isi naskah dikembangkan menjadi film animasi dengan memanfaatkan teknologi AI.
Meski demikian, dalam prosesnya AI masih memiliki keterbatasan dalam memahami naskah-naskah kuno. Proses membaca aksara Jawa, menerjemahkan, hingga menafsirkan makna sebuah naskah tetap membutuhkan kemampuan manusia karena sarat dengan konteks bahasa, sejarah, dan budaya yang tidak bisa dipahami mesin secara otomatis. Di situlah juga letak relevansi Sastra Jawa di era AI.
“Dunia yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno itu amat sangat banyak relevansinya dengan AI,” kata dia.

Setiap orang pada dasarnya memang memiliki ketertarikan yang berbeda-beda terhadap suatu bidang ilmu, mulai dari matematika, biologi, sejarah, hingga kebudayaan. Karena itu, pilihan jurusan semestinya berangkat dari minat dan keinginan untuk mendalami ilmu tersebut.
Ketika seseorang berhasil menjadi ahli di bidang yang dipilih, peluang kerja akan terbuka dengan sendirinya.
Bahkan dalam konteks Sastra Jawa, bidang ilmu ini tidak hanya relevan bagi masyarakat di Pulau Jawa. Bali juga memiliki program studi Sastra Jawa Kuna karena banyak naskah keagamaan Hindu-Buddha di daerah tersebut menggunakan bahasa Jawa Kuna sebagai sumber utamanya.
Hal itu menunjukkan bahwa kajian Sastra Jawa memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar mempelajari budaya Jawa, sekaligus masih memiliki peran penting dalam memahami sejarah, bahasa, dan kebudayaan Nusantara.
Dari sisi mahasiswa, Robit juga merasa jurusan ini masih membutuhkan banyak generasi penerus di tengah perubahan zaman. Dia berpandangan bahwa mempelajari sastra dan kebudayaan merupakan salah satu cara menjaga identitas bangsa agar tidak terputus dari akar sejarah dan warisan leluhurnya.
“Saya ingin menakik teori cultural genocide bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa ada tiga cara: satu, kaburkan sejarahnya. Dua, cabut kebudayaannya. Tiga, putuskan hubungan dengan leluhur,” katanya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id
































