Saffiyah Khan dan Kisah Klasik Perlawanan Perempuan

Saffiyah Khan (kanan) menataap pemimpin EDL, sebuah organisasi sayap kanan yang rasis. Joe Giddens/PA
Oleh: Windu Jusuf - 11 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Foto sikap tenang Saffiyah Khan menjadi viral. Ia tak sendiri. Banyak kisah perempuan yang tegak melawan penindasan.
tirto.id - Seorang laki-laki Birmingham marah-marah di Twitter. “Tukang sihir kurang ajar itu memilih diam untuk para korban serangan teror di Stockholm dan Westminster. Masih untung dia punya gigi utuh.”

Nama laki-laki itu adalah Ian Crossland, anggota English Defense League (Liga Pembela Inggris, EDL), sebuah organisasi sayap kanan yang luar biasa rasis, anti-imigran, dan anti-Muslim. Adapun "tukang sihir" yang ia maksud adalah Saffiyah Khan, seorang gadis keturunan Pakistan-Bosnia.

Dilaporkan oleh Guardian, Saffiyah sedang membela seorang perempuan berjilbab, yang dirundung gerombolan ELD setelah mengecam mereka rasis. Reaksi Saffiyah sebenarnya sederhana saja: berdiri dengan tenang, sembari melempar senyum, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana dan memandang Bung Crossland yang sedang ngamuk itu. Polisi pun membawanya ke tempat yang aman. Sikap tenang, rileks, dan seulas senyum yang terpampang itulah yang membuat foto yang mengabadikan aksi Saffiyah menjadi viral.

EDL menggelar protes yang diikuti 100 orang di sekitar Masjid Birmingham, masjid terbesar kota tersebut, untuk merespons aksi teror berdarah di kompleks parlemen Westminster (London) dan Stockholm (Swedia) yang terjadi dalam dua minggu terakhir. Aksi ini dikecam Partai Buruh, Partai Liberal Demokrat, serta pucuk pimpinan Partai Konservatif di dewan kota Birmingham. Reaksi yang tak kalah unik juga ditunjukkan para pengurus Masjid Birmingham, yang menyambut protes para pembenci dengan mengadakan pesta teh bergaya Britania seraya mempersilakan mereka duduk manis.

Dengan senyum dan menawarkan teh, baik Khan dan pengurus Masjid Birmingham membawa satu pesan untuk para pendemo: “Ancaman kalian sia-sia belaka.”

Barisan protes, aparat, dan perempuan adalah tiga kata kunci penjelas potret-potret ikonik yang menjadi saksi atas dunia yang tengah bergolak beberapa tahun belakangan.

Melawan Bigot, Melawan Aparat

Foto Saffiyah Khan barangkali akan dipajang dalam kaleidoskop akhir tahun 2017 nanti, mengulangi apa yang pernah dilakukan Zakia Belkiri pada Mei tahun lalu.

Belkiri, gadis Muslim keturunan Maroko itu, mengambil selfie di antara rombongan protes kelompok ultra-kanan Vlaam Belang, yang sedang berdemonstrasi di depan perhelatan Muslim Expo di Antwerp, Belgia. Fotografer Jurgen Augusteyns, yang mengabadikan momen tersebut, tidak saja menangkap keberanian Belkiri di tengah kelompok yang meneriakkan “Tolak jilbab, tolak masjid, setop Islam”, tapi juga memperlihatkan bagaimana para demonstran salah tingkah dan terpaksa tersenyum menyaksikan pose Belkiri.

Celakanya, setelah foto jepretan Augusteyns viral, tereksposlah cuitan-cuitan lama Belkiri yang bernada anti-semit. "Hitler tidak membunuh semua Yahudi. Supaya kita bisa paham mengapa ia membunuh mereka,” demikian Belkiri berkicau pada 2014. Belkiri meminta maaf ke publik dan mengatakan bahwa cuitan tersebut ditujukan pada kaum Zionis, bukan orang Yahudi secara keseluruhan.

Lain cerita dengan seorang perempuan kulit hitam tak dikenal yang dipotret Jonathan Bachman dari Reuters. Yang dihadapi perempuan bergaun itu bukan gerombolan rasis berspanduk, melainkan tiga orang polisi huru-hara berkostum lengkap, di kota New Orleans.

Dikutip dari Sydney Morning Herald, rupanya ia sedang mengikuti aksi protes merespons kematian dua warga kulit hitam di tangan polisi. Protes ini diorganisir oleh Black Lives Matter, jejaring gerakan komunitas kulit hitam Amerika Serikat, yang rutin menggelar aksi-aksi menolak kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam yang semakin membesar beberapa tahun belakangan ini. Black Lives Matter pun tercatat sebagai partisipan aktif gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) yang diorganisir aktivis dan intelektual di AS, Kanada, Australia, dan Inggris dengan tuntutan pengakhiran pendudukan dan kolonisasi Israel terhadap Palestina.

Pose serupa bisa ditemukan dalam foto seorang perempuan yang menahan gas air mata yang disemprotkan dari jarak dekat oleh polisi di Taman Gezi, Istanbul, Turki pada 2013. Ceyda Sungur, nama perempuan bergaun merah itu, adalah seorang dosen di Istanbul Technological University. Foto itu diambil ketika Sungur dan para mahasiswanya hendak mencatat nama-nama pendemo yang luka-luka dan butuh bantuan medis.

Hurriyet Daily News menyebutkan, foto tersebut segera memicu gelombang protes besar di seantero negeri menentang pemerintahan Erdogan yang otoriter.


Tradisi Lama Perlawanan Perempuan

Salah besar jika foto protes perempuan adalah temuan khas abad sekarang ini. Pada 1967, Jan Rose Kashmir, siswa SMA usia 17, turun ke jalan bersama ribuan aktivis menggelar aksi bertajuk Vietnam’s March on the Pentagon agar pemerintah AS menarik pasukan dari medan Perang Vietnam.

Fotografer Prancis Marc Riboud menangkap momentum dramatis konfrontasi Kashmir yang akhirnya mendunia dan menjadi simbol sebuah generasi. Kashmir digambarkan menggenggam bunga chrysanthemum, berhadapan langsung dengan ujung bayonet sederet anggota Garda Nasional (National Guards). Majalan Smithsonian memuji karya Riboud "jukstaposisi telanjang antara angkatan bersenjata dengan kepolosan generasi bunga”.

Tentu tak boleh dilupakan pula tradisi yang lebih tua, seperti yang terlihat dalam lukisan bertajuk “Liberty Leading the People” karya Eugene Delacroix. Pelukis Perancis itu merekam suasana revolusi 1830 yang menggulingkan sisa-sisa monarki Perancis, dengan menaruh sosok seorang perempuan bertelanjang dada—menggenggam bendera tiga warga di tangan kanan dan bedil di tangan kiri—memimpin barisan pemberontak bersenjata yang terdiri dari laki-laki.

Barangkali lukisan yang dipajang di sampul album Coldplay (Viva La Vida, 2008) inilah yang memulai tema klasik dalam sejarah seni protes. Perempuan di sana diposisikan sebagai pelopor pembebasan dari tirani. Perempuan yang melawan dan tidak berpangku tangan.

Dan tentu, dalam rentetan tradisi yang panjang itu, kita tak hanya mengenal Saffiyah Khan, Ceyda Sungur, dan Jan Rose Kashmir, tapi juga ratusan jepretan foto para Kartini Kendeng yang menyemen kaki mereka pada bulan lalu.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Windu Jusuf
Penulis: Windu Jusuf
Editor: Zen RS
DarkLight