tirto.id - Siapa di antara kalian yang pernah menonton film The Help (2011)?
Bagaimana pendapat kalian tentang ceritanya? Adakah semacam perasaan janggal setelah menyaksikan penampilan duo aktris Viola Davis dan Emma Stone tersebut?
Film adaptasi dari novel fiksi sejarah karya Kathryn Stockett ini bercerita tentang perjuangan maid atau pembantu kulit hitam melawan diskriminasi dan penindasan ras kulit hitam di Amerika Serikat, tepatnya selama Gerakan Hak Sipil Mississippi, yang berlangsung dari 1954 sampai 1968.
Cerita berpusat pada dua orang maid keturunan Afrika, Aibileen dan Minny, serta Skeeter Phelan, jurnalis muda berkulit putih yang peduli dengan hak-hak pembantu kulit hitam.
Meskipun Skeeter hidup dikelilingi masyarakat kelas atas, bahkan berteman dengan bangsawan kulit putih yang suka menindas pembantunya, idealismenya tak goyah. Dia merasa tergerak melakukan sesuatu untuk pembantu berkulit hitam.
Skeeter mengajak Aibileen dan Minny untuk menulis buku tentang pengalaman pembantu kulit hitam yang telah bekerja puluhan tahun pada keluarga-keluarga bangsawan kulit putih.
Buku mereka laku terjual dan menjadi pembicaraan hangat di Mississippi, seakan menjadi angin perubahan yang menyegarkan dalam kehidupan Aibileen dan Minny.
Selain itu, publikasi tersebut menjadi penyemangat bagi perempuan-perempuan Amerika keturunan Afrika lainnya yang, mau tidak mau, harus bekerja pada orang-orang kulit putih sejak usia belia demi bertahan hidup.
Nah, seiring kisah demi kisah bergulir, sebagian besar dari kita mungkin akan dibuat terpesona dengan karakter Skeeter, dan Celia, satu-satunya perempuan kulit putih di kota Jackson yang memperlakukan pembantunya dengan manusiawi.
Namun, di situlah masalahnya.
Terdapat kecenderungan dalam film untuk ‘memuja’ dua karakter berkulit putih tersebut dan tindakan-tindakan yang dapat mereka lakukan untuk usaha pembebasan para maid.
Ya, The Help kental dengan narasi white savior, sebuah genre cerita yang menempatkan tokoh-tokoh berkulit putih di posisi sentral dan superior.
Istilah white savior itu sendiri merujuk kepada orang-orang kulit putih yang menganggap dirinya sebagai penolong yang hebat bagi orang kulit hitam, penduduk asli (indigenous), dan orang kulit berwarna (BIPOC).
Mereka meyakini bahwa mendukung dan menyelamatkan komunitas BIPOC menjadi tanggung jawab mereka karena orang kulit berwarna dianggap tidak memiliki cukup sumber daya, kecerdasan, dan kemauan keras untuk mengusahakannya sendiri.
Selama ini sudah cukup banyak cerita yang menerapkan trope serupa—menggunakan keterlibatan tokoh kulit putih dalam dinamika kehidupan kelompok kulit berwarna —seperti film Avatar (2009), kartun produksi Disney Pocahontas (1995), dan Dances With Wolves (1990).
Sekilas, nampaknya tidak ada yang salah dengan niat baik dan panggilan hati orang kulit putih untuk “membantu” orang-orang dalam kelompok BIPOC.
Namun, seperti disampaikan oleh jurnalis Jenny Singer dalam tulisannya di Glamour, narasi-narasi white savior bisa jadi bermasalah ketika sudah mengaburkan realitas sejarah dan melebih-lebihkan cerita untuk membuat orang kulit putih kelihatan keren, padahal aslinya mereka hanya bystander.
Singer juga menyayangkan film-film yang bertujuan baik untuk mengangkat martabat orang kulit hitam ini justru “dibuat” oleh kru film—dari sutradara, produser, penulis, sinematografer, komposer—yang berkulit putih. Ironis, kata dia.
Selain itu, dalam kehidupan nyata, sepak terjang orang-orang penganut paham white savior dapat jauh lebih berbahaya daripada yang kita bayangkan.
Bagaimana bisa begitu?
Pasalnya, orang-orang kulit putih dengan white savior syndrome umumnya akan mengasumsikan sendiri apa yang dibutuhkan oleh orang-orang BIPOC tanpa merasa perlu bertanya langsung kepada mereka.
Tengok saja kisah “heroik” Renee Bach, perempuan asal Amerika Serikat yang mendirikan lembaga amal “Serving His Children” di Uganda. Ini dilakukan Bach saat berusia 20 tahun, sekitar tahun 2009 lalu.
Belakangan ini, ia kembali menjadi perbincangan setelah kisahnya diangkat menjadi dokumenter tiga episode di HBO berjudul Savior Complex (2023).
Bach merupakan bagian dari gelombang kelompok Evangelis Amerika, gerakan aliran penganut Kristen Protestan, yang menjalani misi sukarela ke Uganda untuk membantu penduduk yang miskin dan membutuhkan.
Tanpa pendidikan kedokteran ataupun lisensi profesional, Renee yang hanya berbekal ijazah SMA ini mendirikan organisasi nonprofit Serving His Children di sebuah kota di tenggara Uganda, Jinja.
Lembaga ini menjadi semacam pusat distribusi makanan yang kemudian menawarkan pelayanan kesehatan bagi anak-anak kecil yang sakit kritis.
Bach menangani lebih dari 1.000 bayi dan anak kecil yang sakit di kliniknya, mencakup pemasangan infus, penyaluran makanan, pemberian resep obat, transfusi darah, dan berbagai prosedur medis lainnya.
Semua itu dilakukan Bach tanpa pengetahuan medis apapun.
Pada tahun-tahun awal klinik berdiri, Bach bahkan tidak mempekerjakan dokter. Dia hanya dibantu oleh tiga perawat asal Uganda dan seorang perawat sukarelawan dari AS bernama Jackie Kramlich. Baru pada 2013 dia mempekerjakan dua orang dokter.
Seiring itu, kenaifan Bach dalam menjalankan pelayanan misionaris tersebut menelan korban jiwa.
Berdasarkan keterangan Kramlich yang bekerja di klinik Bach selama empat bulan, Bach menangani sebagian besar perawatan medis. Ia akan mengambil keputusan medis sepihak dengan, atau tanpa adanya, perawat di klinik utama.
Bahkan, Kramlich menyebut bahwa Bach pernah melakukan prosedur transfusi darah dengan hanya mengandalkan informasi dari Google.
"Kukira Renee berfantasi bahwa dia ditahbiskan, istimewa, dan dipisahkan. Dia [berpikir] dirinya memang dokter alami," kata Kramlich di Savior Complex.
Berkat kesaksian Kramlich dan bukti-bukti kelalaian klinik, pengadilan Uganda melayangkan gugatan perdata terhadap Bach atas tuduhan malpraktik.
Kini, kasus Bach telah ditutup dengan kesepakatan damai. Bach harus membayar 9.500 USD kepada dua ibu dari anak yang meninggal di tangannya yang mengguggatnya ke pengadilan.
Apa itu artinya superioritas kulit putih terhadap kelompok-kelompok marjinal sudah usai?
Oh, belum tentu. Selama narasi white savior masih diglorifikasi, Renee Bach selanjutnya mungkin akan terus bermunculan.
Penting diingat juga, masih ada banyak orang yang memberikan dukungan pada Bach hanya karena dia berkulit putih. Ini menjadi alasan mengapa klinik tanpa dokter yang Bach kelola tetap dapat menerima pasien meski tidak memenuhi kualifikasi.
“Orang-orang memujinya, (Bach) mendapatkan donasi dan terlihat seperti Bunda Teresa sehingga kalian mengira bahwa yang dilakukannya pasti akan baik-baik saja,’” kata Kramlich.
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih