Saat Elite PKS Mulai Menyuarakan Opsi Capres Selain Prabowo

Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Iman bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto , politikus Rachmawati Soekarnoputri dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso usai mengumumkan lima bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pilkada Serentak 2018 di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu (27/12/2017). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
17 April 2018
Dibaca Normal 2 menit
Elektabilitas Prabowo yang cenderung stagnan menjadi salah satu alasan PKS suarakan nama Gatot Nurmantyo sebagai capres alternatif.
tirto.id - Langkah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto maju menjadi calon presiden (capres) di Pemilu Presiden 2019 kian terjal. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang sebelumnya menjadi kunci satu-satunya Prabowo meraih tiket capres, mulai menyuarakan suara berbeda. Alih-alih memperkuat dukungan untuk Prabowo, sejumlah elite PKS malah menyuarakan nama Gatot Nurmantyo sebagai capres alternatif pengganti Prabowo.

Meski begitu, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Ferry Juliantono masih optimistis PKS mendukung Prabowo sebagai capres. Indikasinya adalah kehadiran elite PKS di acara Rakornas Gerindra beberapa hari lalu.

"Kemarin presiden PKS dan sekjennya, kan, datang ke Rakornas," kata Ferry kepada Tirto, Selasa (17/4).

Bagi Ferry, pernyataan sejumlah elite PKS seperti Nasir Djamil, Mardani Ali Sera, dan Hidayat Nur Wahid tidak mewakili sikap PKS secara institusi. Menurutnya keputusan resmi PKS ada di tangan Sohibul Iman selaku ketua umum dan Mustafa Kamal sebagai sekretaris jenderal.

"Opini individu wajar saja. Tapi presidennya terus berkomunikasi," kata Ferry.


Ferry mengatakan sejumlah pertemuan antara Prabowo dengan Gatot bukan tanda mundurnya Prabowo dari bursa capres. Ia memastikan Gerindra masih satu suara memandatkan Prabowo menjadi capres. Menurut Ferry, nama-nama seperti Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo dikaji oleh internal Gerindra dalam kapasitas bukan sebagai capres.

"Keduanya (Anies dan Gatot) masuk dalam kajian cawapres. Enggak ada capres," kata Ferry. "Kan memang Pak Prabowo dan Pak Gatot dekat dari dulu."

Bukan cuma Anies dan Gatot, Ferry mengatakan Gerindra juga mengkaji sembilan nama bakal capres/cawapres PKS untuk menjadi cawapres pendamping Prabowo. Menurutnya, semua nama tersebut layak menjadi cawapres karena merupakan kader terbaik PKS.

"Cuma keputusannya tergantung nanti hasil musyawarah. Bagaimana kami mau menentukan kalau mereka belum menyatakan dukungan?" kata Ferry.


Direktur Eksekutif Populi Centre Usep S. Ahyar menilai sikap sejumlah elite PKS menunjukkan belum adanya format terbaik capres-cawapres yang akan diusung koalisi Gerindra-PKS pada Pilpres 2019. Hal ini terkait rendahnya elektabilitas sembilan nama bakal cawapres PKS.

"Katanya paling tinggi Aher, tapi itu juga masih kecil elektabilitasnya dibandingkan Anies, misalnya," kata Usep kepada Tirto.

Survei Median selama 24 Maret-6 April 2018 menyebutkan elektabilitas Anies R. Baswedan sebagai cawapres paling tinggi dibandingkan tokoh lain dengan perolehan suara 6,2%. Sedangkan, 9 nama bakal cawapres dari PKS malah tidak ada yang masuk deretan 5 besar.

Dari sisi PKS, kata Usep, terdapat keraguan terhadap sosok Prabowo yang juga elektabilitasnya belum berhasil meningkat secara signifikan, meskipun masih bertengger di urutan kedua setelah Jokowi. Selain itu, menurutnya, PKS menginginkan menciptakan faktor kaget seperti di DKI Jakarta tatkala mencalonkan Anies-Sandiaga.

"Peluang calon alternatif memang lebih meyakinkan di Pilpres 2019," kata Usep.

Berkaca pada hasil survei, Usep memandang Anies dan Gatot bisa menjadi pasangan alternatif yang diterima Gerindara maupun PKS. "Kedua tokoh ini saya pikir dekat dengan kedua pihak itu. Ini bisa jadi format seperti Anies-Sandi," kata Usep.

Infografik Current Issue Obsesi Gatot Nurmantyo

Selain itu, kata Usep, elektabilitas Gatot juga terus meningkat dari waktu ke waktu meski belum sampai mengungguli Jokowi dan Prabowo. Dalam survei Median, mantan Panglima TNI tersebut memang menempati urutan ketiga dengan elektabilitas 7%.

Format Gatot-Anies, kata Usep, juga berpeluang bagi kedua partai tersebut untuk memunculkan sosok baru dengan target jangka panjang di Pilpres 2024. Karena, dengan dominasi elektabilitas Jokowi sangat sulit untuk memenagi Pilpres 2019, sehingga parpol lain lebih baik memikirkan strategi memenangi pilpres selanjutnya.

"Bagaimanapun yang maju di 2019 akan menjadi sangat diperhitungkan di 2024," kata Usep.

Isyarat balik badan PKS mendukung Prabowo disampaikan politikus PKS di DPR RI Nasir Djamil. Ia mengungkapkan ada suara di internal partainya yang menginginkan Gatot Nurmantyo sebagai capres yang diusung Gerindra menggantikan Prabowo. Salah satunya dirinya sendiri.

"Saya punya analisis tiket itu akan diberikan ke orang lain. Yang paling berkesempatan untuk mendapatkan itu adalah GN (Gatot Nurmantyo)," kata Nasir.

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera juga sampaikan pernyataan senada. Menurutnya, elektabilitas Prabowo masih stagnan sampai hari ini. Sehingga butuh capres alternatif untuk diusung. "Kalau menurut saya ini berarti masyarakat butuh sosok pemimpin baru di luar nama itu. Angkanya stuck begitu," kata Mardani.


Wakil Ketua Dewan Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid pun berpendapat sama. Menurutnya, di internal partainya memang ada pembahasan terhadap kandidat capres selain Prabowo, salah satunya Gatot.

"Nama-nama yang lain tentu kami pertimbangkan, kami kaji, tapi prioritas kami adalah 9 nama," kata Hidayat, di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (17/4/2018).

Selain Hidayat, Wakil Ketua Bidang Humas PKS, Dedi Supriyadi juga menyatakan nama Gatot menjadi salah satu tokoh yang masuk dalam kajian kandidat capres dari luar partai yang akan diusung oleh PKS.

"Praktis yang tidak ada namanya itu Pak Jokowi. Tapi semua kembali ke keputusan majelis syuro dan partai koalisi. Kami masih tetap 9 nama. Kalau Gerindra mau usung Pak Gatot silakan," kata Dedi.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
(tirto.id - Politik)

Reporter: M. Ahsan Ridhoi
Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Muhammad Akbar Wijaya
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live
a