Menuju konten utama

Ringkasan Seputar Peristiwa Perang Iran Amerika Hari Ke-83

Situasi Perang Iran hari ke-83 menunjukkan AS dan Iran masih bernegosiasi. Di sisi lain, para aktivis Global Sumud Flotilla diperlakuan buruk oleh Israel.

Ringkasan Seputar Peristiwa Perang Iran Amerika Hari Ke-83
Wakil Presiden AS JD Vance (kanan) berbicara selama konferensi pers setelah bertemu dengan perwakilan dari Pakistan dan Iran, sementara menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner (kiri) dan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff (tengah) menyaksikan, di Islamabad Pakistan pada 12 April 2026. AFP/JACQUELYN MARTIN

tirto.id - Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah mencapai hari ke-83 pada Kamis (21/5/2026). Retorika ancaman perang masih berkumandang di tengah kesepakatan gencatan senjata, sementara negosiasi perdamaian belum tercapai.

Baik AS maupun Iran masih melayangkan retorika bermuatan ancaman pada hari ke-83 jalannya perang. Washington menyebut siap menggempur Iran jika negosiasi tak berhasil, sementara Teheran menuding AS berusaha “memulai perang baru”.

Menukil Al Jazeera, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller membuat peringatan kepada Teheran dengan menyebut bahwa rezim Iran punya pilihan untuk menyetujui proposal perdamaian AS atau menghadapi konsekuensi militer “yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern”.

Miller melayangkan peringatan itu ketika berbicara dengan Fox News belum lama ini. Miller juga menyebut bahwa pilihan itu adalah keputusan terpenting kepemimpinan Iran saat ini di tengah negosiasi yang masih buntu.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah menuduh AS tengah mencoba menyulut pertempuran baru. Hal itu diungkap negosiator Iran itu sembari menyebut AS telah memaksakan tuntutan perdamaiannya kepada Teheran.

“Gerakan musuh, baik terang-terangan maupun rahasia, menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan ekonomi dan politik, mereka tidak meninggalkan tujuan militernya dan berusaha memulai perang baru,” kata Ghalibaf.

Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah menunda rencana serangan terbaru AS ke Iran pada Rabu (20/5). Pernyataan itu diikuti keterangan Trump bahwa negosiasi AS-Iran kini telah mencapai “garis batas” antara mencapai kesepakatan atau melanjutkan pertempuran.

“Mudah-mudahan, orang-orang itu akan membuat kesepakatan yang bermanfaat bagi semua orang,” kata Trump.

Rencana serangan baru AS ke Iran sebelumnya dilaporkan telah memicu ketegangan antara Trump dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Pada Kamis, CNN merilis laporan tentang hal itu, menyebut keduanya terlibat pembicaraan sengit via telepon pada Selasa.

Ketegangan itu terjadi karena Netanyahu tak puas dengan keputusan Trump untuk menunda serangan lanjutan pada pekan ini. Netanyahu disebut telah mendorong Presiden AS itu untuk melakukan serangan dan tak lagi mengulur waktu.

Proses Negosiasi Tetap Berjalan

Sementara itu, proses perundingan menuju perdamaian menunjukkan pergerakan baru. Meski begitu, sampai di mana pembicaraan telah berlangsung belum bisa dipastikan.

Pada Kamis, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi tiba di Iran sebagai upayanya memediasi perundingan. Namun media Pemerintah Iran mengindikasikan bahwa jalannya perundingan masih diterpa kebuntuan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut Teheran kini tengah meninjau tanggapan terbaru Washington terkait kerangka perjanjian perdamaian. Kantor Berita Nour Iran menyebut tanggapan itu didasarkan pada proposal “14 poin” yang sebelumnya dikirim Teheran.

Di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dan petrokimia dunia, tak tampak ada kemajuan dalam isu penutupan selat oleh Iran. Alih-alih tercapainya resolusi yang bisa mengembalikan arus distribusi, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) justru mengumumkan keberhasilan mereka dalam mengoordinasikan perjalanan 26 kapal via Hormuz.

Usai ditutup secara de facto oleh IRGC, Teheran sebelumnya telah meminta pengakuan atas pelayaran di selat tersebut. Hal ini termasuk penerapan biaya lintas dan prosedur administratif untuk melakukan pelayaran di sana.

Otoritas Selat Teluk Persia Iran yang baru dibentuk pada Kamis juga menyebut bahwa pelayaran “tanpa izin akan dianggap ilegal”. Pernyataan ini memperpanjang kekhawatiran bagi industri pelayaran global yang terdampak penutupan Hormuz.

Eskalasi di Teluk Masih Tinggi

Di tengah situasi ini, Uni Emirat Arab (UEA) menuduh kelompok bersenjata di Irak telah melancarkan serangan drone ke fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir milik mereka. Kementerian Luar Negeri UEA membuat pernyataan untuk mendesak Irak mencegah “semua tindakan permusuhan yang berasal dari wilayah” Irak.

Berbeda dengan UEA yang membuat pernyataan untuk meredam eskalasi, Israel membuat pernyataan yang berpotensi meningkatkan eskalasi konflik. Kepala Angkatan Darat Israel Eyal Zamir baru saja membuat pernyataan bahwa militer Zionis siap untuk kondisi apa pun.

“Saat ini, [militer Israel] berada pada tingkat siaga tertinggi dan siap menghadapi perkembangan apa pun,” kata Zamir dalam pertemuan dengan semua komandan divisi militer.

Pernyataan Zamir itu beriringan dengan ulah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang memicu amarah komunitas internasional. Ben-Gvir baru-baru ini mengunggah video dirinya mencemooh para aktivis Global Sumud Flotilla yang diculik pasukan Zionis dari kapal mereka.

Tindakan Ben-Gvir itu telah memicu kecaman dari berbagai pihak. Australia, Italia, Prancis, Belanda, Selandia Baru, Kanada, dan Belgia menyebut akan memanggil duta besar atau diplomat Israel atas persoalan tersebut.

Sedangkan, Inggris, Spanyol, Jerman, Irlandia, Turki, dan Qatar membuat pernyataan untuk mengecam perlakuan pasukan Israel terhadap para aktivis perdamaian Palestina itu.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar