Rezim Seni di Istana, Beda Soekarno Beda Soeharto

Oleh: Kukuh Bhimo Nugroho - 10 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Sebagai pecinta keindahan, Presiden Soekarno menjejali istana dengan berbagai karya seni untuk menunjukkan citra diri sebagai bangsa yang agung. Tercatat sebanyak 2000-an lukisan menjadi koleksi negara di masa Soekarno. Sayangnya, banyak lukisan koleksi negara itu yang kini hanya teronggok di gudang.
tirto.id - Ani Yudhoyono terkagum-kagum ketika berkunjung ke Istana Buckingham, London, pada Oktober 2012 silam. Lukisan yang begitu banyak menghiasi dinding Istana Buckingham, begitu menawan dan membuatnya terpana. Belum lagi karya seni lainnya yang tak kalah mengesankan.

“Mungkin ini adalah pengalaman yang langka, tidak semua orang bisa merasakannya,” kata Ani yang pada waktu itu mendampingi kunjungan negara suaminya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Keindahan Istana Buckingham yang dirasakan oleh mantan Ibu Negara itu sebenarnya adalah yang biasa. Sebab seperti itulah seharusnya sebuah istana. Megah, mewah dan mengundang decak kagum.

Kemegahan seperti itu sebenarnya bisa didapat di setiap istana negara di mana pun. Begitu juga di Indonesia. Di istana kepresidenan, baik di Jakarta, Bogor ataupun Yogyakarta, terpajang begitu banyak karya seni. Mulai dari lukisan, patung, diorama dan masih banyak lagi.

Sebuah istana dan karya seni, sejak dulu memang memiliki ikatan yang erat. Ibarat sekeping mata uang yang memiliki dua sisi. Istana tanpa seni akan kehilangan daya magisnya. Kosong tanpa jiwa.

Hal itu diamini oleh Mikke Susanto, dosen ISI Yogyakarta yang dipercaya menjadi kurator pameran “17/71: Goresan Juang Kemerdakaan” yang diprakarsai oleh Presiden Joko Widodo. Menurutnya, istana tanpa seni itu berarti bukan istana.

Di Indonesia, Soekarno merupakan presiden yang memprakarsai adanya seni di istana. Soekarno memahami benar konsep istana sebagai citra diri bangsa. Oleh sebab itu, begitu istana Bogor dan Yogyakarta berhasil direbut dari penjajah, hal yang pertama kali dilakukannya adalah mengisinya dengan karya seni.

“Ibarat menempati sebuah rumah baru, kalau kosongan itu ya malu kalau ada tamu,” tutur Mikke pada tirto.id, pada Minggu (7/8/2016).

Sejak Indonesia merdeka hingga kini, upaya menambah koleksi terus dilakukan. Data Biro Pengelolaan Istana menunjukkan, sedikitnya ada 15 ribu karya seni yang dikoleksi. Dari jumlah tersebut, karya seni yang mendominasi adalah lukisan sebanyak 2.800 dan wayang sebanyak 2.135. Sebanyak 2.800 lukisan itu kini berada di berbagai tempat seperti Istana Negara, Istana Merdeka, Istana bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarata, Istana Tampaksiring Bali dan Pesanggrahan Tenjo Resmi milik Bung Karno.




Dibeli Secara Kredit

Pada era Presiden Soekarno, begitu banyak karya seni yang dikoleksi. Sebagian merupakan koleksi pribadi Soekarno yang kemudian menjadi koleksi negara. Pada masa itu, Soekarno kerap mengundang para seniman untuk datang ke istana. Kadang dia memesan lukisan, patung atau karya lainnya pada seniman.

Soekarno sendiri boleh dibilang menggilai lukisan. Jauh sebelum menjadi presiden, dia sudah mulia mengoleksi lukisan. Salah satunya lukisan berjudul “Memanah” karya Henk Ngantung yang menjadi latar belakang konferensi pers pertama presiden Republik Indonesia pasca detik-detik proklamasi, Jumat 17 Agustus 1945.

Beberapa lukisan dibeli Soekarno dengan cara kredit. Maklum saja karena pada awal kemerdekaan, Indonesia belum memiliki banyak uang. Pada masa Soekarno, sedikitnya ada 2.000 lukisan yang dikoleksi.

Di era Presiden Soeharto, penambahan koleksi karya seni masih berlanjut. Namun, bukan lukisan seperti yang banyak dilakukan oleh Soekarno. Soeharto lebih gemar mengoleksi ukiran dan batik. Sampai-sampai dia menamai sebuah ruangan di Istana Negara Jakarta dengan nama “Jepara” yang terkenal sebagai daerah penghasil ukiran.

"Kalau zaman Soekarno itu banyak lukisan dan patung, Soeharto itu lebih banyak ukiran. Soeharto itu kental sekali dengan Jawa, Soekarno juga begitu. Tapi yang membedakannya, Soeharto itu dari militer," ungkap Mikke.

Pada era presiden selanjutnya, tidak banyak penambahan koleksi. Beberapa presiden tampaknya tidak menyadari visi Soekarno menempatkan seni menjadi bagian yang tak terpisahkan dari istana.

Pada masa kepemimpinan Habibie, patung-patung dan lukisan telanjang yang menghiasi Istana Merdeka dipindah ke Istana Bogor. Salah satunya adalah lukisan “Jaka Tarub” karya Basoeki Abdullah. Habibie memang tidak suka dengan lukisan seperti itu. Pada kepemimpinan Gus Dur, hal serupa juga dilakukan. Makin banyak patung dan lukisan telanjang yang dipindahkan.

Setelah Gus Dur digulingkan, Megawati Soekarnoputri melakukan sedikit pembenahan. Dia mengembalikan lagi karya seni warisan ayahnya ke tempat semula. Beberapa lukisan juga diperbaiki dan ditempatkan di museum.

Penambahan koleksi istana mulai dilakukan pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tercatat SBY pernah menambah 12 lukisan untuk koleksi istana. Memang selain Soekarno, SBY adalah presiden yang juga memiliki jiwa seni. SBY pernah mengeluarkan 5 album musik yang berisi 40 lagu ciptaannya.

Susah Membeli, Susah Merawat

Banyak cerita soal bagaimana Soekarno mendapatkan karya seni, mulai dari kredit, tunai, barter barang dan hadiah. Kecintaan terhadap karya seni menyebabkan banyak koleksi Soekarno pribadi yang kemudian menjadi koleksi istana.

"Beberapa koleksi itu dibeli langsung, ada yang dipesan, kebanyakan dikredit. Jadi Soekarno itu suka mengkredit, bahkan sampai hari ini, beberapa lukisan belum lunas," kata Mikke.

Salah satu pelukis yang pernah karyanya dibeli secara kredit oleh Soekarno adalah Affandi. Soekarno bahkan pernah ditagih-tagih oleh Affandi. Karena tidak punya uang, Soekarno hanya membayar dengan pakaian bekas, sekarung beras dan meminjamkan dokter kepresidenan kepada Affandi untuk mengobati isterinya.

Bagaimana pun cara mendapatkannya, Indonesia patut berbangga karena memiliki koleksi lukisan karya maestro kaliber dunia. Salah satunya lukisan karya maestro Raden Saleh yang berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro” yang harganya mencapai Rp 50 miliar. Bahkan menurut para ahli dan baai lelang, sekarang kemungkinan harganya bisa mencapai tiga kali lipat, yakni Rp 150 miliar.

Persoalannya, lukisan berharga seperti itu tidak mendapatkan perawatan yang layak karena berbagai faktor, seperti minimnya anggaran, kurangnya sumber daya manusia dan tidak ada ruang khusus untuk menyimpan belasan ribu koleksi Istana.

Kepala Biro Pengelolaan Istana Adek Wahyuni Saptantinah mengatakan, perawatan benda seni sejak pemerintahan Soekarno bukan perkara mudah. Pasalnya, ada koleksi yang sudah berumur cukup tua, yakni karya Raden Saleh yang dibuat tahun 1850. Dengan kondisi tersebut, lukisan-lukisan istana banyak yang sudah rapuh dan catnya terkelupas.

"Kita merawatnya menyesuaikan dengan anggaran negara. Ada pembersihan debu, pembersihan jamur, penggantian bingkai, restorasi cat lukisan yang sudah terkelupas. Jadi sangat tergantung dengan anggaran yang ada. Namun, ada juga bantuan bantuan dari orang yang peduli koleksi lukisan istana," kata Adek kepada tirto.id, Minggu (7/8/2016).

Perawatan memang membutuhkan biaya besar. Namun Adek tak ingat, berapa angka pasti anggaran per tahunnya. Namun dia memberi gambaran bahwa biaya bisa lebih dari Rp 1 miliar.

Koleksi lukisan dan karya seni lainnya yang mencapai belasan ribu, membuat pemerintah tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyimpannya. "Lukisan yang terpasang itu hanya sedikit, sisanya tersimpan di gudang. Kita mau simpan di mana lagi? Dinding sudah habis, sementara kita tidak memiliki ruangan untuk menggantung lukisan. Harusnya lukisan itu digantung, bukan dijejer di lantai. Sebab akan mudah rusak," kata Adek.

Kondisi seperti ini tampaknya harus menjadi perhatian pemerintah, terutama Presiden Joko Widodo. Memamerkan lukisan istana kepada publik langkah bagus, akan tetapi lebih bagus lagi jika pemerintah menyediakan sebuah gedung untuk memajang semua koleksi karya seni sejak era Soekarno hingga Jokowi. Agar anak dan cucu kita tetap bisa menikmati koleksi karya seni para pemimpin bangsa ini.

Baca juga artikel terkait LUKISAN atau tulisan menarik lainnya Kukuh Bhimo Nugroho
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Reja Hidayat & Mawa Kresna
Penulis: Kukuh Bhimo Nugroho
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight