Menuju konten utama

Perupa Lekra Sahabat Soekarno

Sebagai pecinta keindahan, Soekarno tentu mencintai lukisan. Tak diragukan juga, Soekarno dekat dengan para pelukis Lekra yang dekat dengan PKI. Lukisan-lukisan karya pelukis Lekra menjadi bagian penting dari koleksi lukisan milik Soekarno.

Perupa Lekra Sahabat Soekarno
Pengunjung memperhatikan lukisan karya Henk Ngantung berjudul memanah tahun 1943 yang dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (1/8). [antara foto/akbar nugroho gumay/foc/16]

tirto.id - Dari tujuh presiden yang pernah memimpin negeri ini, hanya Soekarno yang dikenal sebagai pecinta lukisan. Soekarno juga bisa melukis. Tak hanya mencintai lukisan, Soekarno adalah kawan dari para pelukis yang ikut berjuang menegakan eksistensi Indonesia melalui karya seni. Di antara lukisan-lukisan yang jadi koleksi Soekarno, kebanyakan karya para pelukis yang dekat dengan Presiden Soekarno.

Soekarno pernah belajar tentang seni rupa di teknik sipil di Techniek Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik) Bandung. Kuliah di teknik sipil telah membuat Soekarno terbiasa dengan gambar. Apalagi sejak kecil Soekarno sudah terbiasa dengan wayang.

Soekarno suka mengoleksi berbagai karya seni di rumahnya. Lukisan penting yang menghiasi rumahnya adalah karya Henk Ngantung, berjudul "Memanah", yang dibuat dan dibeli pada tahun 1944. Setelahnya, apalagi ketika Soekarno tinggal di Istana Negara, koleksinya semakin bertambah. Belakangan, koleksi itu bukan lagi inventaris pribadinya, tapi menjadi milik negara.

Lukisan yang dikoleksi Soekarno tak hanya soal kepahlawanan dengan semangatnya, tapi juga potret wanita sebagai keindahan yang dipujanya. Beberapa koleksi lukisan, di antaranya merupakan sosok perempuan. Ada juga dua karya Abdullah bersaudara, Basuki dan Sudjono, yang sama-sama pelukis hebat. Mereka melukis sosok Pangeran Diponegoro. Selain itu, tentunya panorama.

Soekarno punya banyak lukisan di Istana Negara. Soekarno pun mempekerjakan pelukis Dullah untuk merawat lukisan-lukisan yang dikoleksinya. Selain untuk melukis demi kepentingan negara, Dullah termasuk orang yang pertama-tama ikut melukis lambang negara Garuda Pancasila. Setelah Dullah, Soekarno mempekerjakan Lee Man Fong, pelukis lain untuk memelihara koleksi lukisannya.

Soekarno tak hanya dekat dengan pelukis Indonesia, tapi juga mau bergaul dan mengoleksi lukisan pelukis Belanda, Jerman, atau Meksiko. Salah satunya Rudolf Bonnet yang sudah tinggal di Bali sejak 1928. Bonnet mulai dikenal Soekarno sejak 1951. Soekarno mengoleksi 14 lukisan karya Bonnet. Ketika hubungan Indonesia-Belanda memburuk di tahun 1957, Bonnet meninggalkan Indonesia. Sebelumnya, Bonnet sempat menolak permintaan dari Soekarno untuk membuat potret diri Soekarno.

Soekarno juga mengoleksi lukisan dari Walter Spies yang berjudul “Kehidupan di Borobudur Abad ke-9”. Spies merampungkan lukisan itu Oktober 1930. Spies pernah bekerja di Jawa, sebelum tinggal di Bali. Jadi dia punya gambaran soal candi Borobudur. Diduga, lukisan ini dikoleksi Soekarno sejak 1950-an.

Selain Spies dan Bonnet, pelukis asing yang karyanya dikoleksi Soekarno adalah Diego Rivera dan Miguel Covarrubias, keduanya berasal dari Meksiko. Diego Rivera melukis “Gadis Melayu dan Bunga” di tahun 1955, sekitar dua tahun sebelum meninggal. Diego adalah suami dari pelukis eksentrik Meksiko Frieda Kahlo. Lukisan Diego Rivera diperoleh Soekarno melalui rayuan maut kepada seorang negarawan Meksiko.

Sementara Miguel Covarrubias yang juga antropolog, melukis “Empat gadis Bali Dengan Sajen”. Karya ini diperkirakan dibuat antara tahun 1933-1936. Miguel juga ikut memperkenalkan Pulau Bali dengan menulis buku “Island of Bali” (1937).

Sudjojono dan Affandi

Saat kondisi politik Indonesia memanas, Soekarno tampak dekat dengan para pelukis kiri yang berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang dengan dengan PKI. Jelang 1960-an, perhatian Soekarno pada seni rupa Indonesia untuk membangun ikon nasional terlihat jelas, meski sejak lama Soekarno sudah sering berhubungan dengan banyak seniman. Mulai dari Rudolf Bonnet, Affandi, Henk Ngantung, dan tentunya Sudjojono.

Lukisan Sudjojono banyak dikoleksi oleh Soekarno. Salah satunya lukisan perempuan yang penuh keindahan di mata Soekarno. Lukisan yang diberi judul “Di Depan Kelambu Terbuka” dirampungkan Sudjojono di tahun 1939. Lukisan ini memotret sosok perempuan yang pernah berusaha dikeluarkan dari sebuah lokalisasi, tetapi malah meninggalkan Sudjojono dan kembali ke dunia kelamnya.

Lukisan lain Sudjojono yang dikoleksi Soekarno bertema revolusi dan perjuangan. Maklum, Sudjojono dan Affandi, di awal-awal revolusi pernah kebagian kerja dari Soekarno untuk membuat poster-poster revolusi. Apalagi Sudjojono di mata Soekarno terlihat sebagai organisator yang memimpin para pelukis.

Sedangkan Affandi, sang maestro, terlihat hebat hasil lukisannya sejak awal. Bung Besar begitu terkesan dengan salah satu poster yang dibuat Affandi dan memintanya. “Affandi, ini bukan poster biasa, tapi lukisan yang sangat bagus,” kata Soekarno.

“Ah, ini kan poster,” tampik Affandi tanpa bermaksud merendah. Sebagai seniman, dia hanya berkata apa adanya. Affandi memang meniatkannya untuk poster, bukan lukisan. Hanya kebetulan, ukurannya sebesar lukisan di sebuah media kain yang disambung.

Soekarno yang sangat memahami watak seniman pun mengalah. “Kalau begitu poster ini untuk saya saja,” pintanya. Belakangan, poster yang disimpan itu dipajang Soekarno layaknya lukisan.

Pada lain kesempatan, Soekarno pernah meminta Affandi untuk melukiskan potret mantan mertua pertamanya, HOS Tjokroaminoto. Lukisan itu, menurut Kartika Affandi, dirampungkan di Yogyakarta.

Salah satu pelukis kiri yang karyanya dikoleksi Soekarno adalah Henk Ngantung, mantan Gubernur Jakarta. Meski terlupakan, lukisan Henk Ngantung tentu haram untuk dimusnahkan pemerintah. Sebab lukisan Henk yang berjudul “Memanah” adalah latar yang menghiasi jumpa pers pertama kali Soekarno dengan wartawan setelah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Meski rumah proklamasi hilang, lukisan Henk Ngantung diselamatkan Soekarno.

Sejarah lukisan “Memanah” ini menarik. Soekarno pertama kali melihatnya di tahun 1944, di Keimin Bunka Sidhoso (Pusat Kebudayaan) di Jakarta. Soekarno yang kala itu belum jadi presiden memujinya. “Lukisan bagus. Ini sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus, terus, dan terus bergerak maju,” kesan Soekarno.

Soekarno lalu mendekati Henk di studio milik Henk setelah pameran selesai. “Aku ingin membeli lukisan itu,” kata Soekarno dengan yakin.

“Untuk Soekarno, saya dapat hadiahkan lukisan itu. Tapi saya perlu uang,” ujar Henk sembari menjelaskan bahwa lukisan itu belum selesai. Henk akan selesaikan jika ada model.

“Aku, Soekarno akan jadi model,” tawar Soekarno penuh percaya diri. Henk dengen cepat memolesnya. Hanya sekitar 30 menit. Begitu beres, lukisan itu pun dipajang di ruang tamu, tempat jumpa pers diadakan setelah proklamasi 17 Agustus 1945.

Kebanyakan pelukis yang dekat dengan Soekarno, seperti Sudjojono, Affandi, Trubus, Gambiranom, Hendra Gunawan, Henk Ngantung dan lainnya. Mereka anggota dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pasca Oktober 1965, karena kedekatan dengan PKI, banyak seniman Lekra ditangkap. Sementara Soekarno, tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan seniman-seniman kesayangannya itu.

Baca juga artikel terkait LUKISAN atau tulisan lainnya dari Petrik Matanasi

tirto.id - Gaya hidup
Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti