tirto.id - Perang Iran vs Amerika Serikat (AS) telah berjalan sepanjang hari ke-27 pada Kamis (26/3/2026). Memasuki satu bulan jalannya peperangan, negosiasi pengakhiran perang mulai mengumandang, meski risiko eskalasi konflik terus terjadi di kawasan Teluk.
Memasuki sebulan peperangan, kabar tentang proses negosiasi untuk mengakhiri perang mengemuka. Washington dilaporkan telah mengirim 15 poin usulan kesepakatan untuk mencapai gencatan senjata.
Sejumlah poin usulan yang dilayangkan Washington termasuk jaminan bahwa Teheran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir dan pembatasan produksi rudal dengan jangkauan jarak jauh.
Poin-poin usulan tersebut tampak jadi bagian dari pernyataan Gedung Putih beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa pembicaraan antara Washington dan Teheran tengah berlangsung.
Akan tetapi Iran membantah bahwa ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Washington. Meski mengonfirmasi adanya usulan kesepakatan yang dilayangkan AS, namun Iran memiliki tuntutan tersendiri untuk mengakhiri perang.
Seturut Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran akan melanjutkan "perlawanan" dan tidak bermaksud untuk melakukan negosiasi.
Akan tetapi, di tengah kabar tentang peluang gencatan senjata, risiko terjadinya eskalasi konflik tetap berlangsung. AS dilaporkan tengah mempersiapkan upaya untuk merebut Pulau Kharg di wilayah Iran dan menempatkan pasukan darat ke sana.
Tanpa menyebut AS, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memberikan keterangan bahwa "musuh-musuh Iran" bersama salah satu negara di kawasan Teluk sedang bersiap untuk "menduduki salah satu pulau Iran".
AS juga baru saja mengungkapkan ancaman baru kepada Iran. Gedung Putih, melalui sekretaris pers Karolina Leavitt, menyebut bahwa Trump "siap melepaskan neraka" di Iran jika Teheran tak mau mengaku kalah.
Serangan di Negara Teluk
Di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran, serangan terus dilaporkan terjadi di kawasan Teluk dan Asia Barat lainnya. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) masih melaporkan bahwa sistem udara mereka telah mencegat serangan drone dan rudal Iran.
Kementerian Dalam Negeri Kuwait melaporkan bahwa mereka telah menangkap enam orang yang diduga terkait dengan Hizbullah dan dituduh sedang merencanakan operasi pembunuhan di negara Teluk.
Sementara Bahrain melaporkan adanya kebakaran di fasilitas Kegubernuran Muharraq karena apa yang digambarkan Kementerian Dalam Negeri mereka sebagai "agresi" Iran.
Serangan Iran juga masih dilaporkan diluncurkan untuk menargetkan Israel. Roket dan salvo rudal terdeteksi sistem pertahanan udara Israel. Sejauh ini tak ada informasi korban jiwa yang muncul dari Israel.
Israel juga masih aktif melakukan serangan ke Lebanon. Negara Zionis itu kini terlibat pertempuran darat dengan Hizbullah di kawasan perbatasan Israel-Lebanon.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem baru saja menyatakan bahwa pihaknya kini menetapkan perang melawan AS dan Israel dan akan melakukan semua yang mereka bisa untuk mempertahankan wilayah Lebanon.
Harga Minyak Belum Stabil
Ketidakjelasan harapan de-eskalasi perang di Asia Barat masih berdampak pada ketidakstabilan harga minyak dunia. Setelah sempat turun, harga minyak dunia kini kembali mengalami tren naik.
Tidak stabilnya harga minyak dunia ini membuat banyak negara meningkatkan kekhawatiran atas krisis energi yang mungkin menerpa.
Indonesia dan sejumlah negara lainnya kini mulai membuat kebijakan untuk mengintervensi arus konsumsi BBM. Mayoritas di antaranya adalah intervensi sistem kerja para pekerja sektor publik.
Publik AS juga kini mulai merasakan dampak langsung dari Perang Iran. Seturut CNN, ada penambahan biaya pengiriman paket sebesar 8 persen pada Layanan Pos AS sebagai kompensasi atas ketidakstabilan harga minyak dunia.
Pemerintahan Trump juga kini mulai menerima ketidakpuasan dari rakyat AS atas jalannya perang di Iran. Jajak pendapat yang dirilis Pew Research pada Rabu (25/3) menunjukkan bahwa 59 persen orang Amerika menilai bahwa perang di Iran adalah keputusan yang salah, sementara 61 persen tidak sepakat dengan cara Trump menangani konflik.
Komite angkatan bersenjata di DPR AS juga baru saja menyatakan ketidakpuasan atas pengarahan pejabat pemerintahan Trump tentang perang, tujuan, dan garis waktunya. Ini menjadi sinyal terbaru adanya kecemasan yang meningkat di parlemen, termasuk di antara anggota partai Trump sendiri.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































