STOP PRESS! Jadi Saksi di Sidang E-KTP Hari Ini, Setnov Sibuk Acara HUT Golkar

Rekam Jejak Wempy Koto, Motivator yang Dekat Sandiaga Uno

Rekam Jejak Wempy Koto, Motivator yang Dekat Sandiaga Uno

Wempy, motivator dan pebisnis, mengklaim secara personal menginvestasikan Rp10 miliar untuk program OK OCE bikinan Sandiaga Uno, Wakil Gubernur Jakarta.
13 Oktober, 2017 dibaca normal 7 menit
Wempy, motivator dan pebisnis, mengklaim secara personal menginvestasikan Rp10 miliar untuk program OK OCE bikinan Sandiaga Uno, Wakil Gubernur Jakarta.
tirto.id - Orang masih secara terbatas dan kurang familiar dengan nama Wempy Dyocta Koto. Meski begitu, ia telah sukses menempuh kariernya—atau begitulah yang ia klaim. Beberapa media Jakarta menyebutnya sebagai figur pengusaha berbakat.

Wempy pernah diundang untuk mengisi acara motivasi bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, hingga pendakwah Zakir Naik. Ia juga pernah memegang jabatan sebagai wakil ketua Kamar Dagang Indonesia bidang usaha mikro, kecil, dan menengah, menggantikan Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha-cum-politikus yang akan segera dilantik menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Kini hubungan Wempy makin erat dengan Sandiaga. Ia membuat program kerja sama dengan One Kecamatan One Centre of Entrepreneurship, alias lebih dikenal OK OCE, dengan total investasi Rp10 miliar. (Di akun Instagram, selain menulis ia menginvestasikan “secara personal” Rp10 miliar untuk program sang wakil gubernur, Wempy memposting sejumlah foto dia bersama Sandiaga termasuk saat mereka sarapan bubur pada 11 Oktober kemarin.)

Di balik koneksinya dengan para pengusaha, rekam jejak menjadi perkara penting demi menunjang setiap sendi karier Wempy. Citra yang melekat pada dirinya menjadi bagian dari kemampuan bersaing.

Namun, dari penelusuran Tirto, Wempy pernah memoles penghargaan yang ia raih. Unbound Live, sebuah situs forum wicara yang dioperasikan oleh Stylus Media Group Limited, perusahaan berbasis di London, pernah memuat laman profil Wempy. Unbound sendiri kerap menginisiasi agenda yang menghadirkan para pendiri, pengusaha, investor, pimpinan perusahaan untuk membagi pemikiran secara global.

Dalam laman unbound.live yang memuat profil Wempy (kini telah dihapus), Wempy dianggap sebagai salah satu pengusaha level global yang paling banyak mendapat penghargaan, termasuk anugerah bernama Asia's Highest Entrepreneurship Award pada 2013 serta Asia's Highest Leadership Award pada 2016.

Tak cuma itu, Wempy termasuk dalam daftar “Fortune 40 Under 40” di Majalah Fortune karena menjadi pemimpin bisnis internasional di Indonesia. Selanjutnya Majalah Prestige menyertakan Wempy dalam daftar “Prestige 40 Under 40”.

Kepala Pemasaran di Unbound, Naomi Roberts, mengonfirmasi bahwa memang benar Wempy sempat beberapa kali menjadi pembicara dalam festival yang dijalankan Unbound. Namun, mereka tak bertanggung jawab atas biografi Wempy.

“Informasi di profilnya telah disediakan oleh Wempy sendiri. Kami percaya ratusan pembicara bertindak dengan iktikad baik dalam menyediakan biografi,” tulis Naomi dalam email kepada redaksi Tirto, Senin (4/9/2017).

Pada 2 Desember 2016, Wempy mengunggah sebuah poster acara Unbound melalui akun Facebook miliknya. Dalam poster itu ada tiga foto berdampingan: foto Wempy dengan teks tiga penghargaan yang ia klaim tersebut; dan dua foto lain yakni Pangeran Andrew Albert Christian Edward, anak ketiga Ratu Elizabeth II yang menjadi Adipati York, dan Sir Martin Stuart Sorrell, CEO Wire and Plastic Products.

Naomi menegaskan, pihak Unbound tak membuat poster yang diunggah Wempy tersebut. “Unbound tidak meminta untuk memposting dan tidak memberikan persetujuan untuk itu,” ungkapnya.

Dalam festival itu, Wempy juga tak menjadi pembicara dalam satu forum dengan Pangeran Andrew atau Sir Martin. Wempy berbicara dalam satu sesi dengan empat pembicara untuk membahas topik bertajuk “From Imitation to Innovation: The Rise of Asia.” Pihak Unbound mengonfirmasi, setelah itu Wempy tidak lagi tercantum sebagai pembicara.

Pihak Unbound juga merespons situsweb resmi Wardour and Oxford, perusahaan Wempy yang terdaftar di London. Dalam situsweb itu Unbound dilekatkan sebagai salah satu klien. Selain Unbound, ada pula Microsoft, Sony, Samsung, American Express, Prudential, Buckingham Palace, dan sebagainya.

“Unbound bukanlah klien dari Wempy dan kami tidak pernah melakukannya,” tegas Naomi.

Guna menghindari bias, sejak Senin (4/9/2017), Unbound menghapus seluruh postingan terkait biografi Wempy di situsweb miliknya.

Klaim Wempy atas Penghargaan

Setidaknya Wempy mengklaim tiga penghargaan atau pengakuan yang diraihnya, yang telah disebutkan di atas.

Pada 2013, Wempy mendapat Asia Pacific Entrepreneurship Award (APEA) dengan kategori Most Promising, tetapi bukan Asia's Highest Entrepreneurship Award.

Penghargaan ini berpusat di Petaling Jaya, sebuah kota paling pesat di Selangor, Malaysia. Wempy mendapat penghargaan atas pencapaiannya sebagai direktur eksekutif Wardour and Oxford. Syarat mendapat penghargaan ini telah memiliki perusahaan yang beroperasi lebih dari setahun dan kurang dari dua tahun. Selain itu, omzet perusahaan harus lebih dari 1 juta dolar AS.

Siapa pun bisa mencalonkan pengusaha yang dianggap sukses, keluarga, pelanggan, bankir, pengacara, agen periklanan, hingga dirinya sendiri dalam nominasi. Nominasi diseleksi berdasarkan verifikasi yang ketat. Beberapa kriterianya termasuk pertumbuhan bisnis, praktik wirausaha yang bertanggung jawab, inovatif, visi strategis, hingga dampak lokal dan global. Mereka yang menerima penghargaan akan diundang satu forum dengan para pengusaha dan CEO secara eksklusif.

Kategori “Most Promising” ini diberikan kepada 10 orang termasuk Wempy, dan ke-10 orang ini dari Indonesia.

Pada 2016, Wempy mendapat Asia Corporate Exellence and Sustainbility Award (ACES) dalam kategori Outstanding Leaders in Asia—bukan Asia's Highest Leadership Award sebagaimana yang ia klaim. 

Wempy masuk dalam kategori personal, bukan perusahaan, sebagai CEO Wardour and Oxford. Penghargaan ini diberikan kepada pemimpin yang membawa pertumbuhan dan keunggulan bagi perusahaan.

ACES dibentuk Group MORS, dan memiliki panel juri terdiri 5 orang. Mereka bertugas membuat daftar nominee berdasarkan informasi, rekomendasi, laporan penelitian, dan penghargaan yang tersedia untuk publik. Lalu para juri mengevaluasi secara ketat berbasis dokumentasi pengajuan akhir yang diberikan oleh para nominee.

Untuk perkara Wempy masuk dalam 40 pengusaha sukses di bawah umur 40 tahun dari Majalah Fortune Indonesia, dalam volume 74 tanggal 27 Oktober 2013, media waralaba Time Warner yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh PT Kompas Gramedia ini tidak secara eksplisit menyebut sebagai penghargaan, tetapi mengelompokkan para pebisnis untuk mengetahui sifat pengusaha dari Generasi Y atau Generasi Milenial.

Pengelompokan generasi ini berawal dari riset pasar, tetapi kemudian berkembang sebagai riset sosial. Dalam edisi itu, Rizka Sasongko Aji, redaktur pelaksana Fortune Indonesia, menulis bahwa Generasi Milenial dianggap lebih berani mengambil risiko, terbuka, dan berpikir mengenai target-target pribadi yang dihitung secara cermat. Sementara Generasi X masih tertutup, yang dianggap menghambat perusahaan saat melakukan regenerasi.

“Lihatlah daftar 40 pemimpin perusahaan yang kami buat. Edisi kali ini memperlihatkan, sebanyak 40 Generasi Y yang sukses menjadi pimpinan perusahaan,” tulisnya pada halaman “editor desk”.

Namun Wempy tidak tergolong Generasi Milenial. Sebab yang dimaksudkan Generasi Milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1977 hingga 1995. Sementara Generasi X lahir antara 1965 hingga 1976.

Lihat laporan visual Tirto: Masa Depan di Tangan Generasi Z 

Seharusnya, jika penghargaan itu tetap mengacu pada pengusaha dari Generasi Milenial, usia maksimal saat menerima anugerah tersebut adalah 36 tahun. Sementara Wempy lahir pada 14 Oktober 1976. Pada 2013, saat ia menerima penghargaan dari Majalah Fortune, ia sudah berumur 37 dan Oktober tahun ini berumur 41.

Dalam majalah itu, Wempy disertakan dalam urutan ke-37 sebagai CEO dan pendiri Wardour and Oxford dari kelompok Generasi Milenial. Selain Wempy, majalah ini menyertakan 25 pemimpin perusahaan dari Generasi X.

Wardour and Oxford, Perusahaan Wempy di London

Wardour and Oxford Limited mendapatkan sertifikat resmi dari Companies House pada 3 Agustus 2009. Perusahaan ini beralamat di London, Inggris. Akhiran 'Limited' sebagai petanda jenis perusahaan swasta yang dibatasi oleh saham.

Wempy tinggal di Carmine Wharf, sebuah apartemen di London, sementara kantornya di Haymarket. Jarak keduanya sekitar 5,4 mil atau 8,6 kilometer. Di London, tiap perusahaan memang harus memiliki alamat kantor yang jelas. Tak masalah sekalipun tak ada aktivitas di kantor tersebut. Sebab fungsinya hanya sebagai alamat surat-menyurat, akuntan, atau tempat pengelola pajak perusahaan.

Modal saham Wardour and Oxford Limited sebesar 1.000 Poundsterling. Harga saham per lembar adalah 1 Poundsterling (setara Rp17 ribu). Hanya ada satu pekerja yang didaftarkan, yakni Wempy sendiri, sebagai direktur perusahaan. Memang Companies Act 2006 hanya mewajibkan perusahaan swasta untuk memiliki setidaknya satu direktur. Tak perlu sekretaris dan pekerja lain jika memang tidak butuh.

Pada 6 September 2010, surat laporan tahunan dari Companies House menyebutkan Wardour and Oxford tak memiliki anak perusahaan. Melalui hak penuh sebagai direktur, dialokasikanlah 1 lembar saham itu kepada Wempy sendiri.

Pada 16 Agustus 2011, Wardour and Oxford menerima pemberitahuan resmi pertama soal dugaan perusahaan tidak beroperasi atau menjalankan usaha. Isinya berhubungan dengan Companies Act 2006 section 1000. Peraturan ini terkait kekuasaan untuk mencoret perusahaan yang tidak menjalankan usaha. Jika surat ini tak direspons dalam tenggang 3 bulan, akan diumumkan dalam lembaran resmi untuk mendepak nama perusahaan, dan perusahaan tersebut akan ditutup atau dibubarkan.

Pada 24 Agustus 2011, Wempy mengisi formulir pemberitahuan bahwa sempat tidak aktif atau terbengkalai sampai neraca perdagangan 31 Agustus 2010. Disebutkan total aset hanya 1 Poundsterling. Atas surat ini, pada 27 Agustus 2011, terbit pemberitahuan bahwa Wardour and Oxford tidak jadi ditutup.

Tapi pada 29 November 2011, Wardour and Oxford kembali mendapat pemberitahuan resmi soal dugaan perusahaan tidak beroperasi. Kali ini Wempy tidak mengisi formulir Dormant Company Accounts (DCA) terkait perusahaannya yang tidak aktif.

Maka, pada 13 Maret 2012, secara resmi Wardour and Oxford ditutup atau dibubarkan.

Terkait hal ini, Wempy memberi klarifikasi melalui akun Facebook pada 4 Juni 2017—tanggal ketika ia memberi pernyataan atas “informasi fitnah dan bohong (hoax) mengenai saya” untuk merespons dalam nada serius postingan Ravio Patra. Nama terakhir adalah orang yang mengulik dan meragukan sedikit detail jejak Wempy.

Wempy menegaskan Wardour and Oxford Limited tidak mengalami kebangkrutan atau insolvency. Karena ia sendiri yang menginginkan proses itu.

“Proses dissolution adalah hal lumrah. Keputusan bisnis ini diambil sejalan perubahan visa highly skilled migrant UK (United Kingdom) milik saya saat itu. Sehingga dilakukan sesuai hukum yang berlaku di UK saat itu,” tulisnya.

Rekam Jejak Wempy Koto, Motivator yang Dekat Sandiaga Uno

Wempy dan Klaim atas Kesuksesan Kebab Turki Baba Rafi

Perusahaan Wardour and Oxford digeser ke Indonesia oleh Wempy. Berdasarkan dokumen yang diperoleh Tim Riset Tirto, pada 5 Desember 2012, Wempy mengantongi pengesahan dari Menkum HAM atas perusahaan Wardour & Oxford, sebuah perseroan tertutup PMDN Non Fasilitas. Sedangkan akta notaris telah diurus sejak 29 Oktober 2012.

Modal dasar perusahaan senilai Rp100 juta, dan modal ini ditempatkan hanya 75 persen dengan nilai saham Rp100 ribu/ lembar.

Dalam perusahaan itu, Wempy mengisi jabatan sebagai direktur dan pemilik 713 lembar saham. Lalu ada nama Dhanny Iskandar sebagai komisaris dengan 37 lembar saham atau Rp3,7 juta.

Dalam dokumen ini, Wempy menuliskan tempat tinggalnya di Jalan Masjid Al Akhyar No. 25D RT 29 RW 02 Gandul, Cinere, Depok.

Saat saya mendatangi alamat rumah tersebut, nyaris tiga jam dan dengan bantuan dua warga setempat yang turut menyisir, tak ada rumah bernomor 25D.

Sodikin, Ketua RT 29, berkata di rumahnya bahwa ia agak ragu ada warga bernama Wempy Dyocta Koto. Sodikin membolak-balik lembaran buku berisi daftar identitas warga dan meminta ditunjukkan foto Wempy.

“Enggak ada warga saya yang namanya itu. Mungkin dia ngontrak,” ujar Sodikin.

Ia menambahkan bahwa dulu rumah bernomor 25 memiliki 5 kamar berukuran sekitar 3x4 meter persegi. Hingga kini masing-masing kamar itu tetap dikontrakkan, tetapi digabung dengan rumah bernomor 26. Kini tak ada lagi rumah nomor 25 di daerah tersebut.

“Ada dua rumah nomor 26. Ada masalah keluarga, akhirnya enggak mau pakai nomor 25,” tambah Sodikin.

Selain itu, Wempy membubuhkan alamat Wardour and Oxford dalam dokumen resmi beralamat di Jalan RS Fatmawati No. 33, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Saat saya mengecek, ada dua rumah bernomor sama, yakni Graha Baba Rafi dan Equilab International.

Hendy Setiono, pendiri Kebab Turki Baba Rafi, berkata telah mengenal Wempy sebelum tahun 2012. Saat itu Hendy mengajak Wempy berkarier di Indonesia. Meski tak tahu apakah Wardour and Oxford di London dibubarkan, tapi ia menegaskan pada 2012 perusahaan tersebut berkantor di Graha Baba Rafi.

“Karena Wempy dulu pertama kali ke Jakarta perlu tempat, perlu identity, dan sebagainya. Ya saya sebagai teman saat itu kami yang provide, 'Coba deh berkantor di sini saja',” ujar Hendy kepada saya.

Hanya enam bulan Wardour and Oxford berkantor di Graha Baba Rafi. “Yang sekarang saya kurang update dia pindah ke mana,” tambah Hendy.

Hendy juga merespons soal pernyataan Wempy di sejumlah media, di antaranya di media bisnis SWA, bahwa dialah aktor di balik kesuksesan produk Kebab Turki Baba Rafi berekspansi go international.

Menurut Hendy, klaim Wempy itu keliru. Bahkan Kebab Turki Baba Rafi bukan klien Wempy. “Murni dari tim kami sendiri semuanya,” tegasnya.

Hingga kini dalam akun Linkedin, Wardour and Oxford berkantor pusat di London. Sedangkan di Facebook dan situsweb, tak disertakan alamat perusahaan tersebut. Wempy sendiri mendaftarkan situsweb resmi Wardour and Oxford beralamat di Jakarta pada Jagoan Hosting. Situsweb ini kali pertama dibuat pada Agustus 2009 dan diperbarui terakhir Agustus 2017.

Sebelum Wempy mendirikan Wardour and Oxford, ia sempat bekerja untuk beberapa perusahaan agensi, di antaranya Y&R, Ogilvy & Mather, OgilvyOne WorldWide, BLUE Interactive, Gray Worldwide, JWT, dan Group M.

Hingga kini belum diketahui apakah beberapa perusahaan seperti Sony, Nokia, American Express, Microsoft, BBC, Citigroup, LG Electronics, BT, Goldman Sachs, Samsung, Proctor & Gamble, HSBC, Singapore Airlines, Siemens, HP, Intercontinental Hotels, PricewaterhouseCoopers, Visa, Ford, dan IBM pernah menjadi klien Wardour and Oxford atau perusahaan tempat Wempy bekerja sebelumnya. Sebab Wempy belum mau memberikan konfirmasi langsung.

“Saya belum (bisa) jawab. Karena saya dengan pengacara menunggu waktu yang terbaik dulu baru akan jawab Dieqy dan semua media. Ini kan kasusnya pidana. Saya tidak bisa suka-suka saya. Saya harus minta pendapat dari pengacara saya,” kata Wempy saat saya menghubunginya pada 13 September lalu.

Seminggu kemudian, Wempy meminta daftar pertanyaan. Saya mengirimkan 12 pertanyaan. “Thanks, these are very easy questions for me to answer,” jawab Wempy dan berjanji akan menjawab seluruh pertanyaan saya maksimal empat hari.

Namun, saat ditanya kapan kepastian menjawab seluruh pertanyaan itu, Wempy justru menanyakan balik: saya mendapatkan nomor ponselnya dari mana. Saya menjelaskan bahwa saya menghubungi nomor itu dari akun Facebook miliknya. Wempy memposting nomor ponsel dan pin BlackBerry pada 26 Agustus 2013.

Meski saya mengirimkan bukti tangkapan layar dari postingan Facebook tersebut ke nomor WhatsApp dia, Wempy tetap tak percaya. Sejak itu Wempy tak pernah mau merespons panggilan telepon dan pesan pendek dari saya.

Baca juga artikel terkait WEMPY DYOCTA KOTO atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - dqy/fhr)

Laporan 1: Rekam Jejak Wempy Koto, Motivator yang Dekat Sandiaga Uno
Laporan 2: Kasus Ponzi hingga First Travel: Kenapa Orang Mudah Tertipu?
Laporan 3: Bagaimana Ravio Dilaporkan Wempy lewat UU ITE
Laporan 4: Puncak Darurat Berpendapat di Era Jokowi

Keyword